Wednesday, October 24, 2007

Rendah Hati, Ikhlas, Arogan

Awicaks

"Dengan rendah hati saya sampaikan..." Ketika orang itu mengatakan kata 'rendah hati' saya kira ia sudah menyatakan dirinya bahwa dia tidak rendah hati. Dia secara sadar mencari pengakuan atas niatnya untuk bersikap rendah hati, yang ternyata sulit dia tampilkan, sehingga diungkapkanlah kata-kata tersebut.

Kehidupan sehari-hari kita yang sepanjang lebih dari empat dekade begitu kental dipengaruhi dominan pasar bebas menjadi terbiasa menampilkan hal-hal yang bersifat immaterial menjadi sesuatu yang teramati (visible), terukur (measureable) dan terekam (recordable). Pahala, niat baik, ketulusan, tauladan, pembelajaran, dan sebagainya. Pengakuan (recognition) menjadi tolok-ukur mahapenting bagi kita, warga pasar bebas.

Situasi yang sering kali menghina akal sehat kemudian dianggap sebagai bagian kelaziman (taken for granted).

"Kami ikhlas kok...." Begitu sering kita dengar. Ungkapan yang biasanya disampaikan dengan senyum hangat tidak menjamin peluang tindakan yang merugikan tidak dilakukan orang yang mengungkapkan kata-kata itu. Kalkulasi untung-rugi seperti sudah mendarahdaging. Sebagai warga pasar bebas, dimana semua aspek kehidupan adalah komoditas, situasi persaingan, pengemasan, tawar-menawar untuk memaksimalkan keuntungan di masing-masing pihak menjadi bagian organik kehidupan sehari-hari.

Kalau begitu, bagaimana kita menafsirkan, "Anda itu begitu arogan dengan ungkapan Anda...." ?

24 Oktober 2007


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Wednesday, October 17, 2007

Serakah, Rakus, Tamak, Egoistik

Awicaks

Masa sekarang, bahkan tiket ke surga pun sudah menjadi alasan bagi orang untuk bersikap serakah, rakus, tamak dan egoistik. Lucunya, kemasan luar pribadi justru yang menjadi tolok-ukurnya. Mengapa? Mungkin tidak seorang pun di muka bumi ini bisa memastikan apakah tiket ke surga yang (katanya) sudah di tangan memang benar-benar menjamin mereka masuk surga. Tentu saja, kita tidak akan memperdebatkan soal jati dan keberadaan imbalan (dan saat yang sama ganjaran/hukuman) dari tindakan-tindakan, kita di sini hanya bicara tentang tiket ke surga.

Serakah, rakus, tamak dan egoistik tidak lagi dimonopoli soal penguasaan seseorang atas barang. Mereka sudah memasuki ranah masa depan yang tak seorang pun bisa memastikan. Dan keserakahan itu pun menjadi tematik penting dari khotbah-khotbah publik orang-orang yang didaulat atau merasa dirinya pendakwah. Sebagian besar dari mereka secara agresif menyerang kelompok lain, dan mengatakan bahwa kelompok mereka lah yang sudah pasti dijamin masuk surga. Apa yang kita pelajari dari hal tersebut? Persaingan!

Paradigma ekonomi-politik berorientasi pertumbuhan pasar bebas ternyata mulus mengkerangkeng ranah-ranah politik agama. Kompetisi terbuka dan agresif. Penguasaan atas domain publik. Dan seterusnya. Apa yang tersisa? Maaf, tak ada yang tersisa.

17 Oktober 2007


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Friday, October 12, 2007

Berlebaran

Awicaks

Rutinitas tahunan di pulau Jawa. Para pekerja keras di Jakarta berbondong-bondong menunaikan ibadah kultural mereka, menengok dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga di kampung asal. Jerih payah hampir setahun memang sengaja dikumpulkan dan disimpan agar bisa terlibat dalam keriaan secara pantas.

Maka tumpahlah ratusan ribu (mungkin jutaan) orang di jalan-jalan raya, stasiun kereta api, pelabuhan laut serta terminal bis antarkota, riuh bergerak dengan menenteng buah tangan untuk sanak di kampung halaman. Skenario terbaik, mereka tiba dengan selamat di kampung halaman, disambut gempita sanak keluarga, dan mulai mempersiapkan diri menyambut Hari Idul Fitri. Skenario terburuk, ada yang terpaksa berlebaran di perjalanan. Tidak sedikit pula yang tertimpa nasib nahas, celaka atau bahkan kehilangan nyawa dalam perjalanan.

Jerih payah selama di ibukota punya tujuan yang sangat jelas. Tujuan itu punya ruang khusus pada sekat-sekat alokasi pendapatan, antara memenuhi kualitas hidup sehari-hari di Jakarta, menyambung nafas untuk satu dua hari ke depan, dan sedikit simpanan untuk berlebaran setahun sekali. Ritual ini tak tertangkap dalam Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index, HDI) yang diterbitkan UNDP. Bisajadi kalau cara penghitungan HDI diubah sehingga mampu menangkap geliat sosial-ekonomik ini, peringkat Indonesia akan berubah.

Berlebaran bagi pekerja keras di Jakarta adalah pengerahan semua simpanan hasil jerih payah. Hidup dan kehidupan tidak sekedar menyambung nyawa lewat makan dan minum dari hari ke hari. Dia harus punya tujuan. Silaturahmi, bermaaf-maafan dengan sanak keluarga, serta sejenak melupakan tekanan kehidupan dengan lebur dalam keriaan kultural, adalah tujuan yang sangat jelas dan nyata...

Selamat Idul Fitri 1428 H. Mohon maaf lahir dan batin..

12 Oktober 2007


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, October 07, 2007

Antara Arang dan Peta - Huru-hara Dagang Arang

Awicaks

Di masa silam peta adalah alat ampuh meluasnya praktik pencaplokan (aneksasi) dan penjajahan (kolonisasi) wilayah satu bangsa oleh bangsa lain, atas nama pemakmuran dan pemajuan peradaban bangsa penguasa informasi geografik tersebut. Peta mewakili informasi dan pengetahuan tentang wilayah. Pekerjaan luarbiasa hebat pun ditempuh untuk menghasilkan peta yang mengandung pengetahuan sesuai kebutuhan ekonomi-politik saat itu.

Seorang kawan saya bahkan melanjutkan pendidikan tingginya hingga tingkat doktoral di Hawaii demi memahami dan mendalami bagaimana peta digunakan sebagai alat kuasa. Beberapa bahan bacaan pun mengamini betapa besar kuasa alat bernama peta dalam pengambilan keputusan. Seorang Ferdinand Magellan, James Cook, Vasco da Gamma, dan lainnya, adalah para petualang Eropa yang membelah samudera untuk kepentingan keputusan-keputusan ekonomi-politik tersebut.

Terlepas dari tujuan penggunaannya, kita bisa pelajari bahwa ada proses ilmiah yang serius di balik perkembangan dan pemajuan perpetaan. Teknik navigasi terus pesat berkembang. Teknik menggambar peta (kartografi) pun demikian. Ketika peradaban Eropa menemukan mesin yang dapat membawa manusia terbang dan memiliki jangkauan pandangan lebih luas, pemajuan peta berada di urutan utama. Apalagi di era penerbangan antariksa, penggunaan satelit pun menjadi keharusan.










Di masa sekarang, saya melihat arang (karbon) menjadi alat kuasa baru. Seperti halnya peta, karbon memiliki makna yang seimbang. Ia bisa berkonotasi positif sekaligus negatif. Secara alami arang merupakan bagian dari kehidupan di planet Bumi. Ketika kita bernafas menghirup, hidrat-arang (karbondioksida) adalah buangannya. Pepohonan dan hewan pun sama. Proses pelepasan dan pemanfaatan zat arang di atas disebut siklus karbon. Alam, di belahan planet bumi manapun, senantiasa melibatkan siklus karbon. Namun kisah alami itu berantakan ketika Revolusi Industri terjadi pada akhir abad ke-18 di Eropa.

Seperti halnya mahluk hidup, mesin-mesin uap, mesin-mesin berbahan bakar fossil (minyak, gas, batubara) juga membuang zat arang dari proses produksinya. Berbeda dengan mahluk hidup, zat atau senyawa buangan proses produksi mesin-mesin tersebut bersifat racun bagi mahluk hidup. Zat arang atau senyawa yang mengandung arang yang dilepas ke udara dari mesin-mesin produksi berbahan bakar fossil yang kemudian terkumpul dan mampat di atmosfer bumi menjadi mesin pembunuh paling ampuh kehidupan seantero planet.

Ia membunuh secara langsung lewat proses peracunan, atau membunuh perlahan dan terakumulasi sepanjang waktu untuk membunuh generasi mahluk hidup di masa depan. Zat karbon atau senyawa karbon bersama gas lain itu disebut gas-gas rumah kaca, karena kemampuannya mempertahankan panas (dan memanaskan) dalam selubung atmosfer bumi, seperti halnya rumah kaca untuk keperluan perbenihan.

Itulah inti dari pesan tentang krisis iklim yang saat ini ramai dibicarakan. Sehingga sangat keliru jika kita melihat krisis iklim sebagai fenomena alam. Ia murni karya manusia. Manusia yang tak pernah merasa cukup untuk terus menggenjot kemakmurannya.

Maka bangsa-bangsa di planet bumi pun berkumpul dan menyatakan keprihatinan bersama, untuk kemudian bersepakat untuk bersama-sama memecahkan krisis tersebut pada tahun lewat Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim. Negara-negara industri maju yang membuang zat arang dan senyawa arang (serta gas lainnya) disepakati untuk menurunkan jumlah dan konsetrasi buangannya. Kesepakatan itu menjadi kewajiban bagi negara-negara yang menandatangani apa yang disebut dengan Protokol Kyoto. Itu berarti, mereka harus memperlambat laju pertumbuhan ekonominya. Negara-negara miskin, yang sesungguhnya berlimpah kekayaan bahan-bahan mentah yang dikeruk negara-negara industri maju, terbebas dari kewajiban tersebut.

Sejak itulah arang menjadi alat kuasa baru. Terutama ketika politik dalam negeri di negara-negara industri maju penandatangan Protokol Kyoto mulai terlibat. Keengganan untuk menghambat laju pertumbuhan ekonomi menjadi arena pemenangan kekuasaan di beberapa negara industri maju. Maka lahirlah siasat-siasat yang seakan-akan didukung kajian-kajian ilmiah, yang tujuannya tak lain untuk mengurangi atau bahkan menghindari pemenuhan kewajiban yang telah disepakati. Maka lahirlah praktik perdagangan buangan gas-gas rumah kaca (terutama arang).

Beberapa negara industri maju aktif melobi dan mempengaruhi kerja-kerja PBB dalam proses perumusan strategi pelaksanaan penurunan buangan gas-gas rumah kaca. Hasilnya tak lain berupa perangkat-perangkat moneter dan ekonomik yang dianggap mampu mewakili kewajiban menurunkan buangan karbon.

Yang paling mencolok adalah Amerika Serikat, ketika George W. Bush terpilih sebagai presiden di tahun 2000, kebijakan luar negeri pertama yang ia ambil adalah menolak menandatangani Protokol Kyoto. Amerika Serikat adalah negara penyumbang zat karbon dan senyawa karbon di urutan pertama. Tak ada niatan politik rezim George W. Bush untuk menurunkan buangan karbonnya. Bahkan tak lama ia naik ke singgasana rezimnya langsung mengeluarkan Strategi Energi Amerika Serikat, yang tanpa tedeng aling-aling memaparkan bagaimana negara adidaya tersebut akan memenuhi kebutuhan energinya.

Sejak akhir tahun 2000 muncul dinamika ekonomi-politik baru, yang menyeret negara-negara tropika miskin pemilik bahan-bahan mentah industrial untuk masuk menjadi pihak yang juga mengemban kewajiban kerangka kerja perubahan iklim. Karena negara-negara torpika miskin tersebut tidak memiliki industri secanggih negara-negara industri kaya, maka didapuklah aspek lain, berupa pembukaan hutan alam sebagai penyumbang buangan arang yang dianggap setara dengan arang buangan bahan bakar fossil. Padahal pembukaan hutan-hutan alam tak bisa lepas dari upaya pemenuhan kebutuhan bahan-bahan mentah negara-negara industri kaya tersebut.

Lewat teknik berhitung yang khusus dikembangkan para ilmuwan negara-negara industri kaya lahirlah penyetaraan nilai arang fossil dengan arang hutan. Pembongkaran hutan (deforestasi) menjadi kata kunci paling ampuh akhir-akhir ini, yang telah menempatkan Indonesia di urutan ketiga negara penyumbang karbon terbesar di dunia. Dengan menggunakan angka-angka kandungan arang praktik bisnis tukar-menukar kewajiban menurunkan buangan karbon pun marak. Inilah inti perdagangan arang.

Duduk perkara yang dibuat rumit itu adalah pangkal malapetaka baru ke depan di negara-negara tropika miskin. Karena praktik bisnis tukar-menukar kewajiban menurunkan buangan karbon sama sekali tidak mengubah paradigma pembangunan yang sudah jelas-jelas menimbulkan krisis kehidupan di negara-negara tropika miskin sepanjang lebih dari lima dekade. Praktik investasi yang rakus lahan, menggerus daya dukung lingkungan, serta menyingkirkan komunitas-komunitas asli dan tempatan akan terus terjadi.

Ketidakpahaman seorang pemimpin wilayah akan menciptakan bencana baru bagi warganya. Seorang bupati dari Bengkulu, seperti dituturkan seorang kawan yang penjabat di sebuah kantor Negara, bertanya, "Kalau kami sudah menjaga hutan, lalu membuat hutan menghasilkan karbon (arang), bagaimana nanti kami akan mengangkutnya untuk diperdagangkan?"

7 September 2007


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Solusi dari Hotel ke Hotel

Awicaks

Sepanjang sembilan bulan terakhir saya sudah tak bisa lagi menghitung, berapa lokakarya, seminar dan kumpul-kumpul yang saya hadiri, yang mengusung masalah-masalah mutakhir pembangunan, dengan tujuan mencari jalan-keluarnya. Belum lagi rapat-rapat perencanaan beberapa organisasi. Dan kesemuanya itu senantiasa berlangsung di hotel-hotel, serta melibatkan biaya perjalanan yang tidak murah.

Dari semua pertemuan tersebut satu hal yang saya tangkap, realita masalah hadir di ruangan berpendingin diwakili penyajian dan pemaparan oleh orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan dan punya hubungan langsung. Itu artinya potret sesungguhnya masalah atau krisis yang berada mungkin puluhan atau ratusan atau ribuan kilometer dari ruang pertemuan hotel yang berpendingin itu mengalami beberapa kali reduksi atau penyederhanaan: Keperwakilan, kedalaman informasi yang disajikan, ketelitian data terkait dengan masalah atau krisis, serta kekinian potret masalah atau krisis dari situasi nyata saat itu (realtime situation).

Saya tak hendak memasalahkan hal itu, karena saya pun paham, tidak semua hadirin lokakarya atau seminar memahami konteks masalah atau krisis yang dipaparkan. Dan pemapar atau penyaji menghadapi situasi waktu pemaparan yang terbatas, karena dia harus berbagi dengan pemapar lain. Lebih lagi soal batas waktu penyewaan hotel oleh panitia penyelenggara pun harus dimaklumi. Ada lagi? Oh ya, sasaran pertemuan, seperti tertera pada kerangka acuan (terms of reference, ToR) penting untuk dipatuhi, sehingga sasaran yang ada adalah sasaran bersama (shared goal).

Yang mengganggu saya dan kerap mengiritasi justru pada pemilihan tempat. Saya senantiasa menyempatkan diri bertanya kepada petugas hotel atau ruang pertemuan yang disewa panitia penyelenggara, terutama terkait dengan tarif. Angka itu saya catat dengan takzim. Jika otak saya sedang bermasalah, angka itu sering keluar begitu saja ketika mengkritik mutu hasil pertemuan yang menurut saya saat itu jauh dari apa yang bisa disebut solutif. Karena sering kali hasil akhir pertemuan berupa pernyataan kebutuhan untuk menyelenggarakan pertemuan selanjutnya (oh, tentu saja, dalam rumusan hasil pun ada semacam penugasan kepada para peserta atau hadirin untuk memutakhirkan [updating] status potret masalah atau krisis, sehingga pada pertemuan diharapkan bisa lebih tajam dibahas). Artinya biaya yang nilainya lebih kurang sama akan dikerahkan.

Bagaimana status potret krisis atau masalah yang dibahas? Tuntaskah ia nun di sana? Wallahualam. Tahu persis pun tidak.

7 Oktober 2007


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Monday, October 01, 2007

Pelaku Sejarah Tak Bisa Lupakan Tragedi 1965

KB ANTARA 29/09/07 10:36

Kediri (ANTARA News) - Para pelaku sejarah tak bisa melupakan tragedi berdarah di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang terjadi pada tahun 1965.

"Kami sudah berusaha mencoba melupakannya, tapi tragedi itu tetap saja tak bisa sirna dari ingatan masa lalu yang kelam itu," kata Akhyar, salah seorang saksi mata Tragedi Kanigoro saat ditemui di MTs Negeri Kanigoro, Sabtu.

Pria berusia 59 tahun yang sehari-sehari bekerja sebagai tenaga pesuruh di Madrasah Tsanawiyah Negeri tertua di Kediri itu menuturkan, tragedi yang terjadi pada 19 Januari 1965 masih terekam jelas dalam ingatannya.

"Saat itu ada sekitar 100 orang PII (Pelajar Islam Indonesia) dari seluruh daerah di Jawa Timur yang sedang mengikuti rapat bersama di Masjid At Taqwa usai salat subuh. Tiba-tiba datang segerombolan orang berpakaian hitam-hitam menyerang mereka," kata Akhyar yang saat itu bertugas mengamankan kegiatan tersebut.

Ia dan beberapa panitia keamanan acara tersebut tak berdaya menghadapi aktivis dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) berpakaian hitam-hitam dengan jumlah mencapai 10.000 orang, pimpinan Suryadi yang langsung menyeruak ke dalam masjid membubarkan acara PII itu.

"Saya dan beberapa teman langsung digelandang ke kantor kecamatan dan kantor polisi yang ada di Kras. Kalau saat itu kami melawan, sudah barang tentu banyak jatuh korban jiwa di pihak kami," kata pria delapan anak dan tujuh cucu itu mengenang.

Karena masih tetangga dekat dengan Suryadi, Akhyar mengaku lebih beruntung dibandingkan dengan rekan-rekannya yang mengalami penyiksaan hebat. Bahkan ada diantaranya tewas dalam peristiwa berdarah yang terjadi 42 tahun silam itu.

Ia menyebutkan, saat peristiwa itu terjadi, PKI telah menguasai seluruh pelosok Kediri, bahkan pejabat pemerintahan, kepolisian, dan tentara dikuasai oleh orang-orang dari partai pimpinan DN Aidit itu.

Di Desa Kanigoro sendiri, perbandingan kalangan santri seperti Akhyar dengan orang komunis adalah 1:25.

"Sedangkan saat Tragedi Kanigoro itu terjadi, memang PKI sedang giat-giatnya memberangus orang-orang Masyumi. Mereka ini melihat PII sebagai underbouw dari Masyumi," katanya menuturkan.

Belakangan dia menyesalkan, hasil penelitian yang dilakukan para mahasiswa dan ahli sejarah yang mengaburkan fakta terjadinya tragedi berdarah di Kanigoro itu.

Oleh sebab itu, para saksi hidup, termasuk Akhyar, sebelumnya sempat menolak ketika diwawancarai mengenai tragedi itu.

"Mohon maaf kalau tadi saya sempat menolak, lantaran di tengah kami berusaha melupakan peristiwa itu ada penelitian yang seakan-akan kami bersalah," katanya kepada ANTARA News di tengah-tengah wawancara.

Ia mengakui, setelah meletus Gerakan 30 September 1965 atau G-30S/PKI, warga masyarakat Kediri berhasil melakukan serangan balik dengan melucuti para pengikut PKI.

Desa Kanigoro dijadikan ajang pembantaian orang-orang PKI, dan mayat mereka dimasukkan ke dalam sebuah tanah galian besar yang saat ini dikenal oleh warga masyarakat sekitar dengan sebutan Makam Parik.

Demikian dengan Moningah (60) yang juga masih teringat dengan peristiwa pembantaian 1965 di Desa Kanigoro. "Kami ini sebenarnya orang kecil yang tidak tahu apa-apa dengan peristiwa itu," kata istri Sukani (63), salah satu pengurus PKI di Desa Kanigoro itu.

Ia mengaku, telah kehilangan sejumlah kerabatnya dalam peristiwa berdarah yang terjadi dalam rentang September hingga Oktober 1965.

"Tentu saya masih ingat peristiwa berdarah itu," kata perempuan dengan pandangan menerawang mengingat peristiwa yang terjadi saat dia masih berusia 18 tahun itu.

Tidak hanya kerabat dan anggota keluarganya yang menjadi korban, namun haknya sebagai warga negara diberangus.

Sampai-sampai, anak semata wayangnya tak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga sehari-hari kerjanya hanya membantu Sukani mencetak gorong-gorong di rumahnya di Desa Kanigoro.(*)


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

TV Kalah Pamor Dengan Internet

KB ANTARA 29/09/07 15:23

Jakarta (ANTARA News) - Penelitian terhadap kalangan usahawan di Asia Pasifik menunjukkan bahwa media internet melampaui televisi sebagai sumber utama yang dipercaya untuk memperoleh berita dan informasi bisnis, sementara dominasi surat kabar sebagai informasi utama hingga kini belum tergoyahkan, demikian hasil temuan Edelman Asia Pasific dan dipublikasikan akhir pekan ini di Jakarta.

Presiden Edelman Asia Pasific Alan VanderMolen ketika menjelaskan penelitian tersebut mengatakan, internet kini bukan lagi menjadi alternatif bagi media mainstream, tapi sudah menjadi media mainstream. Penelitian itu sendiri merupakan kajian tahunan Edelman yang dinamakan Asia Pasific Stakeholder Study dan dilakukan Harris Interactive Inc.

Berdasar penelitian yang mencermati pendapat 1.050 pelaku usaha di Jepang, Korea, China, Hong Kong, Taiwan, India, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Australia itu, media internet menduduki urutan kedua setelah surat kabar.

Surat kabar tetap menduduki posisi pertama selama dua tahun ini sebagai media yang bisa dipercaya dalam memberikan informasi. Posisi surat kabar meningkat dari 40 persen menjadi 43 persen. Sebaliknya untuk televisi justru terjadi penurunan dari 31 persen pada 2006 menjadi 25 persen pada 2007.

Penurunan itu, menurut Alan, terjadi karena persaingan di televisi yang begitu tajam untuk memperoleh porsi iklan. Akibatnya, demi iklan banyak televisi yang kemudian melupakan untuk memberikan penyajian berita yang utuh.

Banyak berita yang dibungkus dengan iklan, sementara televisi yang kalah memperoleh iklan pun tak mampu menghasilkan berita bermutu akibat dari tidak mampunya mereka memberi gaji yang cukup kepada para repoternya.

Berdasarkan temuan Edelman, internet bukan hanya sebagai sumber informasi kalangan usaha, melainkan telah menjadi sarana dialog dengan para pengambil keputusan di sektor usaha. Ada indikasi bahwa hal yang sama juga berlaku di Indonesia.

Untuk menekankan kekuatan dan pengaruh internet, responden dalam survei tersebut mengatakan bahwa mereka akan lebih mengandalkan internet suatu perusahaan daripada sumber informasai lain ketika mencari informasi mengenai perusahaan tersebut.

Sumber informasi lain yang dihandalkan selain situs perusahan adalah informasi dari karyawan perusahaan tersebut, surat kabar, blog bisnis dan akhirnya siaran media elektronik.

Temuan dari penelitian itu menunjukkan tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan di Asia Pasifik terhadap media meningkat, sebaliknya kepercayaan terhadap pemerintah dan NGO menurun, sedangkan kepercayaan terhadap perusahaan tetap sama.

Untuk Indonesia sendiri, para pemangku kepentingan kurang percaya dengan kalangan usaha, tetapi tingkat kepercayaan tinggi terhadap institusi pemerintah dan LSM. (*)


Selanjutnya.. Sphere: Related Content