Monday, June 30, 2008

Nostalgia, Hidup Di Masa Lalu, atau Enggan Berubah?

Awicaks

Sulit bagi saya menyimak dinamika perkembangan musik, baik musik Indonesia maupun dunia. Beban pekerjaan bisajadi menjadi salah satu faktor yang membuat saya tidak lagi anthusias mengikuti perkembangan dunia musik, meski itu adalah genre yang saya gemari. Namun saya merasakan ada hal lain. Ada keengganan beranjak dari apa yang sudah terpola dan terpateri di kepala, terutam tentang makna dan nilai estetika dari musik-musik masa lalu yang menemani masa-masa pertumbuhan dan pendewasaan diri. Tetapi ini hanya berlaku untuk musik, tidak untuk hal lain.

Di musik, saya masih tak mau beranjak dari kenyamanan menyimak lantunan lagu-lagu lama, baik karya seniman Indonesia maupun Barat. Lagu-lagu Harry Roesli, God Bless, Giant Step, Guruh Gipsy, bahkan nada-nada nakal dan jenaka Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM-PSP) tak mampu digantikan oleh karya-karya seniman (cum industrialis) musik Indonesia masa kini seperti Project Pop. Hal sama juga berlaku dengan musik non-Indonesia. Pink Floyd, Led Zeppelin, Genesis, Paul Simon, Yes, Emmerson Lake and Palmer, Jethro Tull, King Crimson belum tergantikan oleh hiruk-pikuk musik masa kini.

Hal mendasar yang membuat saya nyaman dengan musik-musik lama adalah daya khayali yang saya peroleh dari menyimak. Tanpa berpretensi memperbandingkan, bayangan khayali yang terbangun ketika menyimak musik-musik koleksi lama rasanya membuat jarak waktu antara saya sekarang dengan saya di masa lalu tak terlalu jauh. Harus saya akui saya kadang seperti tak mampu mengendalikan navigasi waktu ketika sedang sendirian, seperti saat mengemudikan mobil, lalu mendengarkan lagu-lagu dari pemutar cakram digital. Saat itu saya seperti sedang membangun bayangan tentang mesin waktu, dimana saya seperti melihat diri sendiri di masa ketika pertama kali jatuh cinta pada lagu-lagu tersebut. Namun sekali lagi, fenomena itu hanya berlaku di musik....

Maka ketika saya mulai rajin berkegiatan di Facebook dan Multiply, saya mencoba untuk menelusuri, adakah orang-orang yang seselera dalam hal musik. Kejutan besar ketika saya menemukan ternyata banyak orang Indonesia yang berbagi selera musik. Saya sangat kagum pada sebuah artikel di blog Multiply yang membahas tentang label kaset YESS, yang pada masa SMP dan SMA sangat saya gandrungi. Koleksi kaset berlabel YESS tetap saya simpan, meski hanya sebagian yang masih bisa diputar dengan aman. Artinya, ia tak mengotori atau merusak piranti pemutar lagu tape recorder. Saya pun mulai bernostalgia. Saya ingat, kaset-kaset berlabel YESS selalu saya preteli gambar sampulnya yang berupa foto cetak dari gambar resmi album yang ditempel pada halaman sampul kaset. Kemudian sampul telanjang itu saya lipat, sehingga daftar lagu dan komposisi pemusik menjadi sampul kaset.

Berkali-kali saya pernah mencoba untuk belajar menikmati musik-musik mutakhir. Beberapa diantaranya ada yang berkesan, tetapi umurnya tidak panjang. Begitu saya kembali mendengarkan musik-musik lama, minat untuk mendalami musik mutakhir pun sirna. Bagi saya, musik yang didengar bukan sekedar sesuatu yang bisa dinikmati sambil lalu. Ia harus mampu menimbulkan rasa penasaran, "Sebenarnya, suasana batin apa di balik penyusunan lagu itu?" Atau, "Apa tafsir makna syair lagu-lagu itu?" Beberapa kelompok musik lama ada yang mencoba bertahan, meskipun para pelakunya sudah uzur. Lagu-lagu mereka saya dengarkan dan saya nikmati, tetapi meski dihasilkan oleh orang yang sama, karya mutakhirnya tak mampu menggeser kedudukan karya mereka di masa lalu, yang sudah begitu melekat dalam benak.

Sesungguhnya hal ini bukan perkara luar biasa. Namun Facebook dan Multiply membuka mata saya, ada banyak orang di Indonesia yang juga mengalami hal atau mengidap kecenderungan serupa. Nostalgia selamanya atau enggan berubah? Me no savvy....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Saturday, June 28, 2008

Korupsi: "Ini Indonesia, Bung!"

Awicaks

Sebenarnya saya malas berkomentar tentang rekaman hasil sadapan percakapan Artalyta Suryani alias Ayin dengan beberapa petinggi Kejaksaaan Agung. Pertama, karena itu hanya puncak dari gunung es dari kerangka birokrasi Negara yang begitu korup. Kedua, peristiwa tersebut tidak mampu membuat pelaku-pelaku yang bolehjadi lebih kakap kelasnya menjadi jera, bahkan bekerja keras mencari celah-celah yang memungkinkan mereka lolos dari jeratan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan ketiga, "Ini Indonesia, Bung!"

Apa yang tampak di permukaan di negeri ini lebih sering tidak menggambarkan realita yang dipersepsikan. Ada begitu banyak jalinan tali-temali kepeningan di balik peristiwa tersebut. Apakah benar, bahwa publik diuntungkan oleh pembongkaran persengkokolan tersebut? Terlalu naif apabila kita menutup mata terhadap begitu banyak peluang pihak-pihak yang diuntungkan dari gencarnya pemberitaan tentang skandal Kejaksaan Agung.

Saya teringat pengalaman delapan tahun lalu, ketika berkenalan dengan seorang pengusaha asal Indonesia di Cairns, Queensland, Australia. Ia seorang pengusaha ekspor ikan hias laut (marine ornamental fish) yang cukup dikenal sebagai pengusaha yang berwawasan lingkungan. Saat mengecek tempat usahanya, saya sungguh terkesan. Tetapi saat yang sama saya tahu betul bagaimana perialku pengusaha itu di negeri sendiri. Perusahaannya di Sulawesi Selatan bergerak di bidang ekspor ikan konsumsi hidup ke Hong Kong. Berbeda dengan usahanya di Australia yang bersih dan berwawasan lingkungan, yang dilakukannya di Sulawesi Selatan justru bertolak belakang. Saya pun tak dapat menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu kepadanya.

"Nggak ada insentifnya kalau saya menerapkan cara kerja saya di sini di bisnis ikan konsumsi di Sulawesi Selatan. Saya malahan rugi, karena pengusaha lain bisa lebih jorok dibanding yang saya lakukan. So, why should I?" Jawabannya sangat menohok. Kemudian ia berceloteh panjang lebar bahwa bisnisnya sangat diuntungkan oleh mentalitas korup staf dan pejabat Negara di Indonesia. "Di sini? Boro-boro.... Satu mata rantai produksi saja saya lengah, habis seluruh bisnis saya...."

Saya tidak tahu dimana gerangan ia berada sekarang, dan apakah ia masih bertahan dengan bisnisnya itu. Praktik bisnis pengusaha itu di Sulawesi Selatan sangat tidak bertanggung jawab. Penggunaan racun atau bius sudah menjadi hal lazim. Yang penting bagi dia adalah jumlah. Semakin besar jumlah tangkapan, meski dilakukan dengan teknik merusak, semakin kecil risiko rugi yang ia hadapi. Saringan kualitas para pembeli skala besar (wholesaler) yang kerap menjemput ikan karang hidup di Makassar tidak perlu ia khawatirkan. Ikan yang ditolak masih bisa ia jual ke pasar lokal.

Dimana sosok petugas kantor-kantor Negara dalam potret di atas? Mohon maaf, tak ada sama sekali. Pembeli-pembeli ikan karang hidup asal Hong Kong bebas lalu-lalang di perairan Indonesia selama lebih dari empat dekade. Ikan-ikan karang tidak perlu dilaporkan ke Tempat Pendaratan Ikan atau TPI (fishlanding site) setempat. Karena Undang-undang Perikanan memang tidak memasukkan ikan karang sebagai obyek yang diatur. Luar biasa! Sarwono Kusumaatmadja, saat ia menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan pada masa kepemimpinan Gus Dur, mengumumkan kepada publik kerugian milyaran dollar AS akibat tidak diaturnya perdagangan ikan karang dalam peraturan perundangan perikanan.

Sejumput cerita yang memang akrab dengan pekerjaan saya itu mungkin dapat ditemui di bidang usaha lain di Indonesia. Masalahnya saya sangat terbatas pemahaman rinci tentang mata usaha lain. Tetapi dari bacaan-bacaan yang disiarkan luas lewat media massa tentang praktik perdagangan manusia, baik yang legal (dalam bentuk Tenaga Kerja Indonesia atau TKI) maupun yang ilegal (trafficking), peluang meraup laba besar akibat bobroknya tata-kelola (governance) pengurusan Negara menjadi daya tarik para pemilik modal dari berbagai negara.

"Bobroknya penegakkan hukum di Indonesia merupakan nilai tambah bagi investasi kami," Ujar seorang makelar asal Singapura kepada saya ketika berbincang di sebuah kedai kopi di Medan, ketika saya terlibat penelitian risiko-risiko tak-terhindarkan dari pelaksanaan kebijakan rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias pada pertengahan 2005. Ia terlibat dalam memuluskan proses perijinan masuknya bantuan bagi korban tsunami Aceh dan Nias. Ironisnya, keberadaannya saat itu diketahui dan direstui pejabat resmi Negara, atas nama tindakan darurat. Percakapan saya dengannya berlangsung begitu terbuka. Ia begitu percaya diri ketika berbincang. Kalau waktu itu kami berdua berada dalam dunia komik, mungkin di atas kepalanya muncul balon dialog ucapannya dalam hati, "Siapa sih yang berani menangkap saya?"

Ungkapan, "Ini Medan, Bung!" rasanya harus menasional. "Ini Indonesia, Bung!"

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Friday, June 27, 2008

Sakaw Bandwidth - Antara Saya dan Internet

Awicaks

Apa yang pertama kali pasti saya lakukan begitu terhubung dengan saluran dunia maya? Tergantung. Tetapi saya cenderung untuk melakukannya sesuai urutan. Urutan yang rasanya, akhir-akhir ini, sudah menjadi satu rutin yang pelan-pelan mulai tertulis di otak sebagai pola biologik dan psikologik harian saya. Ketika pola tersebut tidak terjadi satu atau dua hari, saya pun gelisah dan kerap belingsatan (cranky) tak tentu. Terlebih jika saya sedang berada di suatu tempat yang tak memungkinkan mengoperasikan GPRS telepon seluler. Saya seperti mengalami sakaw (gejala psikosomatik orang yang ketagihan). Sakaw bandwidth.

Maka, begitu komputer saya terhubung dengan dunia maya beberapa peranti seketika akan bekerja dengan sendirinya, seperti Yahoo! Messenger dan Skype. Kemudian saya mulai membuka beberapa aplikasi, Eudora, Mozilla Thunderbird, Mozilla Firefox, dan Snarfer. Setelah itu setiap aplikasi akan bekerja sesuai tugas masing-masing secara otomatik. Eudora akan mengunduh surat-surat elektronik pribadi, Mozzila Thunderbird bekerja untuk surat-surat elektronik dinas, Mozilla Firefox langsung terhubung dengan Facebook, dan Snarfer langsung bekerja mengunduh berita-berita dari berbagai sumber menggunakan fasilitas RSS. Orkestrasi tersebut tidak akan berlangsung jika komputer jinjing saya tidak terhubung ke internet, apa pun caranya. Begitulah hidup saya akhir-akhir ini.

Tempat-tempat yang sudah pasti saya kunjungi selama berada dalam radius Jakarta - Bogor menyediakan akses ke internet. Di rumah dan kantor akses internet broadband membuat hidup sehari-hari bergerak mulus. Rute-rute di luar rutin, tetapi hampir pasti menjadi bagian pola psikologik dan biologik, juga menyediakan akses ke internet, seperti Sekretariat JATAM, Perkumpulan Kemala, toko buku QB di Kemang, dan Bakoel Koffie Cikini. Saya melakukan refleksi terhadap kebiasaan ini. Sejak kapan saya mulai mengidap semacam ketagihan ini, jika kebutuhan yang terpola terhadap internet bisa digolongkan sebagai sebuah bentuk ketagihan (addiction)?

Pertama kali berkenalan dengan internet, tahun 1995, saya memang sangat anthusias. Aktif mengikuti dan berdiksusi lewat beberapa mailing list, seperti Apakabar-nya John MacDougall dan lainnya. Pada masa itu saya belum begitu berminat terhadap situs internet. Selain karena beban pekerjaan yang menuntut saya banyak melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah di Indonesia Timur, yang tentu saja belum menyediakan kemudahan teknologi komunikasi seperti yang dapat diperoleh relatif mudah pada masa itu di Jakarta. Bagi saya, pada masa itu, situs internet tak lebih dari sekedar brosur. Satu-satunya tipe situs internet yang relatif rajin saya kunjungi adalah situs-situs berita, yang saat itu masih dikuasai media-media Amerika Serikat, Kanada dan Eropa. Situs-situs berita Indonesia belum banyak, Kompas, Tempo Interaktif dan Suara Pembaruan tergolong awal pada masa itu. Detik.com kemudian menyusul menjadi penyedia berita yang selalu saya baca.

Pada kurun 1996 - 1997, ketika rejim Suharto mulai agak terhuyung-huyung, internet, terutama mailing list, merupakan alat komunikasi yang ampuh untuk saling menghubungkan diri dengan orang-orang yang berbagi kegelisahan dan kemarahan. Apakabar-nya John MacDougall memiliki peran penting dalam kehidupan saya pada kurun waktu itu. Saking aktifnya, saya pernah, untuk beberapa saat, membantu John menjadi pengirim berita (poster).

Sejak Yahoo! menyediakan ruang bagi siapa pun untuk mencipta dan mengelola mailing list, mailing list tumbuh pesat. Saya membangun beberapa mailing list. Salah satu diantaranya adalah mailing list posko-api, yang saya buat merespon kebakaran hutan dan kekeringan parah pada 1997. Karena bencana kebakaran hutan dan kekeringan begitu melekat dengan kerapuhan dan kebobrokan tata-kelola (governance) birokrasi Negara, rangsangan oleh gejolak ekonomi global pun memblejeti wajah sesungguhnya kesehatan keuangan dan ekonomi Indonesia, yang kemudian mendorong timbulnya gejolak politik. Kiriman berita atau pesan bersilang tak terhindarkan. Dengan semangat membagi informasi seluas-luasnya, tulisan atau berita dari Apakabar seringkali muncul di mailing list posko-api, demikian sebaliknya. Saat itu saya sudah mulai merasakan gejala ketagihan bandwidth. Membaca gagasan-gasaan dan debat serta berdiskusi di Apakabar dan posko-api menjadi suatu kebutuhan penting.

Ngobrol atau chatting lewat internet, atau instant messaging, kemudian menjadi salah satu daya tarik yang membuat kehidupan saya semakin mengikatkan diri ke internet. Kendati demikian peran surat elektronik tetap tak tergantikan, meski chatting kemudian menjadi menu tambahan ketika saya, yang diwakili oleh komputer jinjing, terhubung dengan internet. Chatting menggunakan MSN pada sekitar awal-awal tahun 2000 menjadi alat komunikasi resmi terkait dengan pekerjaan saya pada sebuah organisasi jejaring regional Indo-Pasifik. Conference chatting dimungkinkan, sehingga fasilitas tersebut sangat membantu menanggulangi beban biaya teleconference yang saat itu masih mengandalkan jejaring telepon dan biayanya sangat mahal (sekarang pun masih mahal, tetapi secara proporsional masih relatih lebih murah).

Perubahan sangat cepat, yang membuat keterikatan saya dengan internet menjadi semakin menjadi-jadi ketika terjadi bencana tsunami Aceh, Desember 2004. Meski terlibat sangat sedikit dalam kerja-kerja kemanusiaan, tingginya kebutuhan untuk menghubungkan Aceh yang luluh lantak dengan dunia luar membuka peluang dilakukan tindakan-tindakan terobosan apa pun. Gerak cepat kawan-kawan dari komunitas Air Putih mendirikan stasiun darurat pembangkit saluran internet di Aceh memberi makna tersendiri bagi saya. Ketika saya melakukan riset kebijakan terhadap upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias pada kurun awal hingga pertengahan 2005, Banda Aceh saat itu boleh dibilang merupakan kota yang dilengkapi fasilitas internet kecepatan tinggi. Ketagihan bandwidth semakin menjadi-jadi. Kongkow di mana pun di Banda Aceh, akses ke internet selalu tersedia. Penggunaan internet pun tak lagi sebatas pada surat elektronik, menelusuri dan mencari data, membaca berita atau ngobrol, saya mulai berkenalan dengan blog serta layanan internet berjejaring dan partisipatif, seperti del-icio.us, LibraryThing, Friendster, Flickr dan sebagainya. Bahkan Google pun semakin memikat dengan layanan perkantoran online-nya.

Mengelola blog, berjejaring lewat situs-situs social networking plus situs-situs media online, seperti YouTube, Metacafe, semakin menambah menu ketagihan saya terhadap internet. Ketagihan semakin menjadi-jadi ketika saya berkenalan dengan Facebook. Kawan masa sekolah saya, Frederik Rotty, adalah salah seorang yang bertanggung jawab atas ketagihan saya terhadap Facebook. Facebook, yang kemudian saya ketahui ternyata memiliki peran penting pada kampanye Senator Barrack Obama selama bersaing dengan Hillary Clinton, menjadi ajang rekreasi baru bagi saya. Facebook menghubungkan kembali saya dengan banyak kawan lama. Tak hanya itu, Facebook saya gunakan untuk melakukan kampanye Moratorium Pengrusakan Lahan Gambut serta kasus Lumpur Lapindo.

Di titik ini, saya mulai melakukan refleksi, seberapa besar ketagihan saya terhadap internet mengganggu pekerjaan. Sulit sekali untuk melakukannya, karena internet memiliki kemampuan melelehkan sekat-sekat pembatas antara pekerjaan, minat, keterpanggilan sosial dan politik, serta kegemaran pribadi. Jika dilihat dari konsumsi waktu, saya bisa dikatakan sudah mulai ketagihan internet. Burukkah hal itu? Tentu, jika ketagihan itu membuat kacau prioritas. Dan saya pernah merasakannya. Tarik-ulur bagi saya kemudian menjadi pilihan penting untuk mengatur kembali konsumsi waktu terkait dengan internet. Ada banyak hal yang luput, salah satunya adalah produktifitas saya dalam menulis.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Tuesday, June 10, 2008

The Economist's Tale

Awicaks
Ini bukan buku baru. Bahkan saya menemukannya di lemari arsip Zed Publisher. Petugas di Zed harus menmeriksa basis data di komputer apakah mereka bisa melepas buku ini untuk dijual. Setelah yakin bahwa mereka masih memiliki salinan lain, saya diperbolehkan membelinya. Pantang menyerah, saya minta potongan harga, karena buku ini sudah masuk arsip. Si petugas tertawa, "Nice try. I'll take a look whether you can get a discount or not." Ia pun mengecek ke komputernya kembali. "Okay, you can get 30% discount."

Sekali lagi, ini bukan buku baru. Diterbitkan pertama kali tahun 2003. Buku yang ditulis Peter Griffiths ini pun tidak menawarkan perspektif baru. Meski bercerita tentang hal yang sama, bahkan terbit lebih dulu, buku bertajuk "The Economist's Tale" ini tidak seberhasil buku John Perkins, "Confession of the Economic Hitman." Tetapi yang menarik dari "the Economist's Tale", ia menggunakan pendekatan bertutur, dan beropini secara jujur. Tidak ada teori-teori besar, atau kerangka ekonomi-poltik hegemonik seperti yang ditawarkan buku-buku serupa.

Buku ini lebih tepat disebut gerundelan seorang konsultan kebijakan pangan yang bekerja di Seirra Leone bernama Griffiths, yang merasa tidak nyaman karena kajian keahliannya digunakan secara "keliru" oleh Bank Dunia untuk mendorong perekonomian Sierra Leone lewat kebijakan produksi beras. Anda akan kecewa jika berharap memperoleh bahasan teknikal tentang ekonomi pangan. Anda pun tidak akan dirundung rasa tertekan membaca kejumawaan Bank Dunia dalam mendikte pengurus Negara Sierra Leone. Anda justru akan banyak tertawa, meski pahit, membaca tuturan Griffiths dengan kalimat-kalimat yang cerdas mengejek dirinya sendiri, mengejek kesoktahuan para penentu kebijakan di Bank Dunia tentang situasi ekonomi-politik Sierra Leone.

Yang membuat saya tercekat adalah, ketika menemukan bahwa rute camput-tangan kebijakan yang dilakukan Bank Dunia di Sierra Leone serupa dan sebangun dengan yang mereka lakukan di Indonesia. Dengan kondisi geografik yang berbeda, dengan latar sejarah berbeda, apalagi latar sosial-politik dan ekonomi-politik yang jauh dari sama, Bank Dunia memberlakukan resep yang plek sama antara Sierra Leone dengan Indonesia. Penghapusan subsidi atas bahan-bahan kebutuhan pokok, percepatan privatisasi, pembanjiran utang untuk mendongkrak anggaran rutin kepengurusan Negara, dan sebagainya. Ya ampun! Terlepas dari gaya bertuturnya yang lucu dan ringan, di balik itu saya tidak menemukan perbedaan antara kisah lucu nan pahit di Sierra Leone dengan Indonesia.

Griffiths berhasil memaparkan pengalamannya seperti halnya orang mendongeng. Ia sangat berhati-hati ketika menyisipkan kajian teknikalnya dan meletakkannya sebagai pendapat pribadi terhadap campur-tangan kebijakan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), yang menurut penilaiannya absurd.

Sebagai sebuah dongeng yang lucu dan ringan, buku ini justru sangat menakutkan.
.


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Saturday, June 07, 2008

Beropini tentang FPI? Worthless!

Awicaks

Beberapa teman, baik yang nyata maupun dari dunia maya, bertanya kenapa saya tidak menulis opini tentang Front Pembela Islam (FPI). Sederhana. Pertama, saya tidak merasakan manfaat dengan menulis opini tentang FPI. Kedua, saya tak mau menyumbang kredit popularitas buat organisasi milisi berjubah putih itu. Terakhir, FPI cuma jerawat kecil yang sengaja dipelihara elit politik untuk berbagai tujuan, tetapi bukan tujuan-tujuan yang baik. Terakhir, saya muak melihat agama dieksploitasi untuk tujuan yang tak ada urusannya dengan hakekat agama itu sendiri.

Saya justru lebih tertarik mengajukan banyak pertanyaan yang selalu mengganggu benak:

  • Sebenarnya apa tujuan orang beragama?
  • Bukankah agama adalah soal kebahagiaan dan kedamaian hidup lahir batin, tetapi mengapa kental sekali nuansa kebenciannya, terutama di kalangan agama-agama samawi?
  • Mengapa kuat sekali kecenderungan agresifitas kelompok-kelompok Islam memojokkan dan menyerang keberadaan kelompok Islam lain serta mengusung keagungannya sendiri?
  • Apakah hakekat beragama adalah untuk memperkuat posisi sosial dan politik, sehingga memenangkan situasi persaingan dengan agama lain serta keberhasilan melakukan penghimpunan kekuatan menjadi tujuan penting?
  • Apakah agama adalah soal kepatuhan, sehingga agama sering digunakan sebagai sarana ampuh untuk tujuan perubahan sosial dan politik di bawah rejim kuasa otoriter atau hegemoni ekonomi-politik yang menindas rakyat, seperti ditunjukkan di Filipina, Amerika Latin?

Masih ada banyak lagi pertanyaan saya, yang bolehjadi mewakili kegelisahan banyak orang, yang miris melihat perilaku beragama di Indonesia yang cenderung membangun situasi bersaing dan berselisih ketimbang membangun wilayah bersama yang lebih produktif. Jadi, rugi sekali jika saya berlelah-lelah berpikir untuk menulis apa pun tentang FPI.


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Thursday, June 05, 2008

Dongeng Orang Tertindas, Bangkit, Lalu Menindas - Setan Melingkar Atau Lingkaran Setan?

Awicaks

Megawati pernah duduk di bangku pesakitan sebagai "yang tertindas" di penghujung rejim alm EK Suharto. Simpati mengalir. Dukungan membludak. Megawati dijadikan simbol bagi dan saluran aspirasi warga kritis tertindas yang sudah muak dengan Orde Baru. Dan Megawati melakukannya dengan senyum, tanpa orasi berapi-api seperti yang dulu dilakukan bapaknya. Menumpang kendaraan politik "orang tertindas"

Megawati melesat menjadi simbol perlawanan ketika Partai Demokrasi Indonesia (PDI) diaduk-aduk, dan memilih mendirikan PDI-Perjuangan. PDI-P di bawah kepemimpinannya, yang berangkat dari status "kelompok orang tertindas", menjadi partai besar, yang ketika berada di pucuk pimpinan kepengurusan Negara menjadi partai yang tutup mata terhadap praktik-praktik penindasan aparat Negara terhadap warga biasa.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah duduk di bangku pesakitan, "yang tertindas", ketika berselisih dengan Taufik Kiemas, suami Megawati sekaligus Bapak Negara dari Presiden Republik Indonesia kelima, ketika SBY menjabat sebagai Menteri Koordinator Sosial, Politik dan Keamanan (Menko Sospolkam). Dengan derajat ketertindasan berbeda SBY pun melesat meraih simpati.

Meskipun banyak pihak melihat ketertindasan SBY sebagai hasil reka dan yasa imaji serta citra publik toh ia mampu meraih kemenangan politik kuasa. Berbeda dengan Megawati, di bawah kepemimpinan SBY negeri ini dipertontonkan sebuah sandiwara citra dan imaji pop tentang kemegahan, tetapi gagal membangun tembok menutup potret nyata di sekeliling panggung yang gamblang menyajikan kemiskinan, penindasan, kemarahan publik, kemerosotan mutu mental aparat Negara, plus bonus bencana-bencana alam.

Menjelang Pemilu 2009 bersiap-siaplah Anda menyiapkan dukungan bagi elit-elit politik kuasa dan elit-elit kuasa modal yang saat ini tengah menyiapkan siasat menjadi "para tertindas." Mengapa simpati dan dukungan publik relatif begitu mudah diperoleh ketika muncul "sang tertindas" ke arena persaingan politik? Tak ada jawaban tunggal.

Bolehjadi ia berlatar pada manifestasi diri orang per orang yang berada di bawah naungan judul besar, "publik". Bolehjadi juga ia berasal dari rasa setia kawan (altruism) kolektif yang meski tidak khas Indonesia tetapi mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Tentu saja altruism orang-orang yang dalam kehidupannya terbiasa berada di bawah atmosfer ketertindasan.

Maka membantu dan mendorong mereka yang "sama-sama tertindas" untuk maju merebut kuasa mungkin menjadi wujud harapan terbesar (bahkan bolehjadi harapan terakir) untuk lepas dari ketertindasan. Jangan lupa, dongengan sepanjang masa anak-anak Indonesia adalah tentang bangkitnya bangsa dari penindasan penjajah Belanda dan Jepang, yang sangat mungkin menjadi benih bagi altruism sesama tertindas.

Namun tajuk "ketertindasan" begitu mudah diletakkan di pintu depan ketika "sang tertindas" meraih kuasa. "Ketertindasan" sulit untuk diletakkan di ruang-ruang Istana yang megah, mengikllat dan sejuk. Bisa merusak harmoni dan cita rasa estetika.

Namun tak sulit bagi para alumni ketertindasan yang duduk di kuasa Negara untuk tetap merawat tali emosi dengan mereka yang sungguh-sungguh tertindas. Cukup dengan pertunjukan penuh lelehan airmata untuk menyatakan simpati. Cukup dengan reka dan yasa imaji serta citra diri lewat pertunjukan realitas kehidupan sehari-hari. Bahkan di masa lalu Megawati sering kecolongan lawan politiknya karena ia sering lamban menunjukkan sikap simpatinya kepada para tertindas.

Lingkaran setan ketertindasan dalam ruang sosial politik Indonesia begitu kental, tidak dalam konteks bagaimana ia dapat dilenyapkan, tetapi justru bagaimana ia secara terus-menerus direka dan diyasa untuk tetap dijadikan bobot dalam ajang-ajang persaingan politik. Sehingga ketertindasan menjadi obyek dagangan para setan yang dengan dingin menggunakannya untuk meraih dan menghimpun simpati dan dukungan warga yang sungguh-sungguh tertindas, meliuk-liuk serta melingkar-lingkar bergerak di ranah publik atas nama pemenangan kuasa politik.

Barrack Obama berusaha keras menepis citra tertindas pada setiap kampanye politik konvensi calon presiden Partai Demokrat Amerika Serikat, meskipun ia berasal dari kehidupan yang erat dengan ketertindasan. Ia tak ingin menggunakan warna kulitnya sebagai argumen dasar orang mendukungnya. Ia ingin tampil dengn mutu intelektualitas, mutu kenegarawanan, mutu sikap sosial, dan bukan sebagai warga kulit hitam.

Namun, ia tak bisa menampik ketika kenyataannya dukungan cukup besar berasal dari warga kulit hitam Amerika Serikat, tanpa berniat mengabaikan dukungan yang berasal dari kalangan menengah terdidik dan terinformasi yang muak dengan kemunafikan elit politik dan elit modal sepanjang lebih dari limabelas tahun terakhir. Meskipun ia menyadari hal itu, Barrack Obama tetap konsisten menunjukkan mutu terbaiknya sebagai seorang politikus santun yang tak hendak menjual ketertindasan, tetapi harapan bagi perubahan. Ia biarkan ketertindasan cukup melekat di ingatan kolektif publik, tetapi tidak pada tajuk kendaraan politiknya.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Monday, June 02, 2008

Nggole' Ambegan - Take A Break

Awicaks
Bahasa Jawa-nya, 'nggole' ambegan' atau tarik nafas sebentar. Ya, saya memutuskan untuk istirahat seminggu dari segala hiruk-pikuk pekerjaan yang telah mengocok adrenalin sejak awal Maret. Selama seminggu ini saya berencana menyelesaikan banyak hal yang selama ini terutang terhadap keluarga. Termasuk diantaranya melanjutkan naskah yang sejak 2002 saya tulis tetapi sulit untuk dipaksa menjadi naskah-akhir.

Dalam perjalanan Bangkok - Jakarta, yang cuma tiga jam itu, saya merenungkan banyak hal. Rasanya apa yang saya kerjakan tidak akan pernah ada habisnya, merujuk kepada keruwetan situasi negeri ini. Saat Konferensi TBLI Asia 2008 di Bangkok saya berkesempatan berkenalan dengan beberapa pelaku investasi dan industri serta perbankan dari berbagai negara, termasuk dari negeri sendiri. Saya berusaha keras memahami suasana batin dan jalan pikiran mereka lewat empati. Terus terang saya, yang tumbuh dan menimba banyak pengalaman hidup di lingkungan aktivisme serta riset-riset ekologi dan sumberdaya alam, sangat awam dengan kalangan usaha dan investasi.

Seorang konsultan investasi asal Amerika Serikat yang telah hidup di Bangkok selama lebih dari duapuluh tahun adalah salah seorang yang selama tiga hari berbincang intensif dengan saya. Dia mengaku menjadi pendukung organisasi saya sejak limabelas tahun lalu. Dan kerja-kerja kampanye organisasi saya senantiasa menjadi sumber inspirasi kerja-kerja profesionalnya dengan beragam klien.

"It's not easy to accept your confrontational message, but it always good as my wake-up call, since the border line between good and bad in investment world is as thin as a silk sheet," Ungkapnya terus terang. Ia telah malang melintang di dunia investasi tidak hanya di Thailand, tetapi juga Indonesia, Filipina, Singapura dan Malaysia.

Tentu saja hal itu menggelitik rasa ingin tahu saya, terutama terkait dengan krisis moneter 1997, yang telah meluluhlantakkan dan merombak bentang serta landasan ekonomi dan ekonomi-politik regional. Pertanyaan bodoh pada situasi ini seringkali ampuh untuk membuat orang sekaliber dia menjawab dengan dimensi yang lengkap. "So, what were you and where were you during the monetary crash of 1997 in the region then?"

Tanpa tedeng aling-aling dia bercerita tentang kelompok orang yang menangguk laba luarbiasa besar ketika terjadi krisis moneter tersebut. "That was a bonanza of the financial business," Ujarnya. Dia paham bahwa gelimang tersebut menjadi biaya bagi ratusan juta warga tak berwajah dan tak bernama yang hidup di Indonesia, Filipina dan Thailand ketika itu. "But, at least you got a phenomenal change in the political landscape of your country, didn't you?"

Yang saya suka berbincang dengannya adalah, sikapnya yang tidak menjilat. Dia tak perlu berpura-pura simpati dengan krisis yang dialami Indonesia, dan mengatakan terus terang bahwa dia memperoleh laba besar dari situasi tersebut. Tidak perlu jauh-jauh, ada banyak warga kelas menengah di kota-kota besar yang menangguk laba besar pula ketika kebanyakan warga harus pontang-panting memperoleh sembilan-bahan-pokok (sembako), atau warga yang kehilangan pekerjaan ketika perusahaan-perusahaan harus gulung tikar tak kuat menanggung beban akibat merosotnya nilai Rupiah terhadap Dollar AS.

Namun pelajaran penting yang saya peroleh dari berbincang dengnnya, juga dengan beberapa orang lain dari India, Cina, Jepang dan seorang petualang investasi asal Inggris yang tinggal lama di Hong Kong, ajaran ekonomi neo-klasik berikut semua turunannya memang sudah menjadi agama dunia. Turunannya yang dilihat para aktivis sosil, politik dan lingkungan sebagai instrumen kejam yang hanya peduli pada laju pertumbuhan dengan mengorbankan distribusi memang kenyataannya sudah dianggap sebagai hal lazim (taken for granted). Orang itu mengakui bahwa dia pun memiliki keprihatinan serupa, tetapi dia tidak punya keberanian untuk menjadi seorang martir, mengorbankan keluarganya.

Saya senantiasa tidak merasa pada posisi menilai sikap itu benar atau salah, tetapi kejujurannya membuat saya merenung panjang. Yang sering mengganggu saya adalah orang-orang seperti dia yang hipokrit dan melakukan penipuan massif lewat aksi-aksi filantropik mereka. Ketika hal tersebut saya ungkap, dia setuju.

"There always a lie behind philanthropic act. I don't buy-in to what-so-called corporate social responsibility, since it against, not only to social justice, but to the very nature of us being a business community."

Rujukan yang selama ini saya baca memang menunjukkan hal tersebut. Namun ini pertama kali bagi saya mendengar langsung dari pelaku. Dan ketika kami kongkow di sebuah pub dengan beberapa peserta dan pembicara lain, hal itu saya lontarkan. Meledaklah diskusi dan debat hangat sepanjang malam hingga menjelang pukul dua pagi. Pro dan kontra di kalangan mereka sendiri agaknya terwakili dari perdebatan malam itu. Saya sengaja meletakkan posisi sebagai seorang fasilitator yang netral. Saya menugasi diri saya untuk melontarkan petanyaan-pertanyaan kritis kepada kelompok itu.

Terus terang pengalaman singkat itu berpengaruh besar kepada saya. Saya memutuskan untuk beristirahat sebentar, dan berharap kembali ke organisasi dengan gagasan yang lebih segar serta berimbang. Saya merasa harus ada gebrakan di internal organisasi untuk mendorong kerja-kerja kampanye yang lebih jitu dan progresif dengan jangkauan pemahaman yang lebih luas...

Selanjutnya.. Sphere: Related Content