Monday, December 29, 2008

Barang Dagangan Itu Bernama Sekolah

Awicaks

Rasa ingin tahu saya tergelitik melihat pengumuman di sebuah koran nasional sebulan yang lalu: Expo Pendidikan 2008! Memang ini bukan hal baru. Bolehjadi kegiatan sudah jadi tradisi. Tetapi selama ini kegiatan itu tak pernah menarik perhatian saya. Apa yang ditawarkan dan diperdagangkan di sana, lewat sebuah expo atau sebuah pameran perdagangan? Seperti apa pendidikan diperdagangkan? Itu kira-kira yang menggelitik saya.

Maka terkejutlah saya luarbiasa ketika menjejakkan kaki di arena dagang itu. Dulu saya beranggapan expo semacam ini hanya diikuti oleh sekolah-sekolah di negara lain yang mencoba menggalang peminat dari warga Indonesia yang mampu. Namun anggapan saya keliru. Bahkan sekolah-sekolah dalam negeri (baca: Jabodetabek) juga menjajakan diri di sana dengan anjungan yang tak kalah menarik.

Sekolah-sekolah yang menjajakan diri di sana (jangan terkejut, karena saya menemukan satu atau dua sekolah negeri di pameran tersebut!) berebut menonjolkan kelebihan-kelebihan produk layanan pendidikan mereka: Laboratorium bahasa, guru bahasa asing yang berbahasa ibu (native foreign language teacher), sarana olahraga yang lengkap, mata-mata ajaran tertentu yang terakreditasi pada kurikulum internasional, dan sebagainya. Itu pun dilengkapi dengan peragaan multimedia di anjungan masing-masing. Luarbiasa. Rasa kagum yang bercampur getir.

Kegetiran bertambah ketika mengikuti berita-berita tentang keras kepalanya pengurus Negara meloloskan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU-BHP). Penyelenggara Negara, baik eksekutif maupun legislatif, menggunakan argumen bahwa UU-BHP bertujuan membebaskan lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan dari kooptasi Negara dengan mendorong otonomi. Namun warga belajar terutama dari kalangan perguruan tinggi justru meneriakkan kegeraman mereka karena mengendus kentalnya nuansa komersial di balik peraturan perundangan ini.

Yang jadi persoalan, argumen-argumen pada teks UU-BHP bertentangan dengan kenyataan. Di satu sisi disebutkan bahwa Negara menjamin pembiayaan sepenuhnya bagi Badan Hukum Pendidikan Daerah (BHPD), serta menyelenggarakan beasiswa bagi warga tak mampu, tetapi di sisi lain tergambar gamblang motif penyelenggara Negara membebaskan diri dari tanggungjawab menjamin penyelenggaraan pendidikan bagi warga. Penyelenggaraan pendidikan dipandang semata-mata sebagai satuan-satuan manejerial belaka, bukan sebuah pertaruhan peradaban. 

Meskipun UU-BHP secara eksplisit menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan oleh badan hukum tidak boleh berorientasi menangguk laba (nirlaba) dan harus bertanggung-gugat (accountable) ke publik, orang waras akan bertanya, 'lalu darimana BHP memperoleh dana menyelenggarakan pendidikan jika tidak boleh komersial?' Tak perlu khawatir, karena ternyata sudah ada Peraturan Presiden (Perpres) no 76 dan 77 yang merupakan turunan dari UU Penanaman Modal Asing, yang jelas dinyatakan bahwa penanaman modal asing diperbolehkan hingga sebesar 40% bagi sektor pendidikan. Penyelenggara Negara ini memang sungguh-sungguh menganggap warga tolol.

Agaknya motif menjadi penyelenggara Negara memang hanya untuk memperkaya diri, karena nuansa mengabdi dan melayani publik pelan-pelan digerus hingga lenyap sama sekali. Arahnya sudah jelas. Penyelenggaraan Negara memang ditujukan untuk mengabdi dan melayani kuasa-kuasa modal, atas nama percepatan laju pertumbuhan ekonomik at any cost. Sehingga konteks tanggung-gugat dari sebuah tata-kelola penyelenggaraan Negara yang bersih mesti dibaca sebagai prasyarat dan syarat yang harus dipenuhi demi memuaskan pelanggan, dalam hal ini para kuasa modal. Bukan atas nama keselamatan publik.

Expo ini sesungguhnya adalah bukti tak-terbantahkan dari kecurigaan dan kekhawatiran berbagai kalangan luas terhadap komodifikasi pendidikan. Bahkan sah jika dikatakan bahwa expo ini dan UU-BHP merupakan upaya swastanisasi atau privatisasi bentuk-bentuk layanan publik. Apa pun argumen indah yang digunakan para penyelenggara Negara (bahkan jika perlu dengan mata melotot sambil berteriak, 'tunjukkan mana pasal yang berorientasi komersial? mana?!') Indonesia memang siswa yang patuh dari sekolah neoliberalisme global....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Wednesday, December 24, 2008

Laki-laki, Huru-Hara Hati, Ha-Ha-Hi-Hi, Reuni

Awicaks

Ketika seorang laki-laki melewati batas usia di atas empatpuluh tahun sederetan pikiran yang umum didengungkan pun menyergahnya. Puber kedua, butuh suntikan gelora baru, semakin percaya diri, paranoid terhadap kondisi kesehatan, semakin ciut nyali dalam mengambil keputusan, dan sebagainya. Sebagai usia biologik, usia empatpuluh bolehjadi adalah titik kulminasi daya tahan dan kemampuan fisik, yang di tahun-tahun kemudian perlahan akan mulai menunjukkan grafik menurun. Namun sebagai usia psikologik, usia empatpuluh tidak dapat secara sederhana dibaca dengan tafisr tunggal. Apakah mungkin mirip dengan keadaan ketika laki-laki itu dulu melewati masa pancarobanya pada masa remaja? Serba tak jelas, serba tak pasti, bingung? Atau, justru sebaliknya? Serba pasti, jelas arah dan tujuan?

Terasa aneh ketika tiba-tiba bertemu kembali dengan kawan-kawan masa sebelum kuliah, yang terpisah secara fisik dan emosi dengan rentang waktu lebih dari duapuluh tahun. Ketika bertemu kawan-kawan yang telah melewatkan masa-masa pancaroba bersama-sama, tawa lepas meledak begitu saja ketika melihat perubahan drastik fisik masing-masing. Tak terbayang bahwa seorang kawan yang dulu begitu kurus kering dan dekil, kini tampil menawan dengan tubuh padat berisi. Namun demikian, setelan otak tiba-tiba dengan mudahnya berubah kembali persis seperti duapuluh tahun lalu. Citra diri yang mungkin dijaga sebaik-baiknya ketika berada pada situasi kerja atau di rumah lenyap dengan mudah. Namun keceriaan tersebut berlangsung hanya sekejap. Ketika komunikasi kian intensif, mulai terasa perbedaan-perbedaan tajam yang membuat suasana tidak lagi sehangat ketika pertama kali bertemu-ulang.

Namun tak mudah untuk menjaga agar keceriaan dan kegembiraan terus bertahan dengan setelan otak dan emosi duapuluh tahun lalu. Saat berkumpul bersama begitu berbeda ketika kembali ke realita sehari-hari dengan latar waktu sekarang. Skizoprenia dengan takaran rendah mungkin mulai terasa. Dan itu bergantung kepada kepiawaian masing-masing mengelola tombol-tombol di otak, kapan bersikap dan berlaku liar dan urakan, kapan bersikap dan berlaku serius dan bertanggungjawab. Sebagai obat bagi kejenuhan realita hidup pada masa sekarang berkumpul-ulang agaknya sangat manjur. Ia adalah suntikan gelora baru yang membuat segar benak. Huru-hara hati yang awalnya begitu mengganggu ketika menapak usia empatpuluh pelan-pelan terobati. Kumpul sekedar ber-ha-ha-hi-hi agaknya ampuh menjadi tempat sampah psikologik tekanan-tekanan yang seringkali tak mudah diurngkapkan dan dijelaskan baik secara verbal maupun dalam pikiran. Tentu saja dengan kesadaran bahwa ada realita yang tak dapat dihindarkan: Perubahan. Sekeras apa pun usaha untuk berusaha menyegarulangkan pikiran, ia tak mampu melawan waktu yang pelan-pelan menggerogoti daya tahan dan kemampuan fisik.

"Berapa kadar kholesterol-lu?" Seorang kawan bertanya spontan kepada kawan yang lain yang tubuhnya begitu subur. Pertanyaan yang mungkin tidak pantas dilontarkan diantara laki-laki usia sekitar empatpuluh tahun. Tetapi karena setelan otak berada pada masa duapuluh tahun lalu pertanyaan itu dirasakan sebagai hal umum, yang menyadarkan semua bahwa kita tidak muda lagi. Dan lucunya, kita semua pun kembali ke masa silam dengan sikap sok jago dan ingin unggul sendiri. Berbeda dengan masa lalu, kini kita justru ingin pamer keunggulan masing-masing dalam merawat kesehatan. Namun sikap ugal-ugalan tak juga mudah dilepaskan. Bualan-bualan pun tak terhindarkan, terutama tentang obat-obat manjur yang mampu menjaga kesehatan tanpa mengorbankan kegemaran terhadap makanan-makanan lezat tetapi kaya racun. Sungguh, huru-hara hati tentang keadaan kesehatan diri dan kecanggungan psikologik seperti lenyap dengan mudah diselingi ha-ha-hi-hi.

Bagaimana dengan yang dirasakan dan dialami oleh kawan-kawan perempuan? Apakah mereka merasakan hal yang sama? Merasa memperoleh saluran yang luarbiasa untuk dapat mengekspresikan segala perilaku dan sikap di masa lalu? Entahlah....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, December 21, 2008

Keselamatan Itu Mahal! Jaga Diri Baik-baik...

Awicaks

Mahal yang saya maksud bukan perkara nilai moneter biaya, tetapi karena absennya sarana publik penunjang yang dirancang dan dibangun untuk sedapat mungkin menjamin keselamatan warga. Pada akhirnya diri sendirilah yang harus mengusahakannya, karena tak ada gunanya menunggu tampilnya orang-orang yang (kabarnya) disebut pemimpin untuk mengupayakan jaminan tersebut. Dan struktur pendukung, berupa kebijakan Negara, pun memang tidak disediakan, kecuali ia disatukan sebagai layanan publik yang berbayar secara progresif. Semakin besar bayarannya, semakin baik pelayanannya. Meskipun untuk kasus Indonesia rumus linear itu tak selalu berlaku.

Saya seringkali kesal jika harus mengeluarkan biaya untuk membayar premi beberapa asuransi sekaligus. Ini sebuah dilema bagi saya. Di satu sisi, saya paham betul bagaimana peran perusahaan jasa asuransi sebagai alat penyedot dana publik paling efektif, sementara di sisi lain saya menyadari bahwa saya harus melindungi diri seefektif mungkin jika tidak ingin runyam hidup di negeri amburadul macam Indonesia. Jika kebetulan selama masa berlakunya polis asuransi saya tidak mengalami masalah kesehatan serius, saya hanya bisa mengumpat, atau minimal mengurut dada, melihat uang saya melayang begitu saja masuk ke pundi-pundi perusahaan jasa asuransi.

Ada pilihan lain, yakni hidup dengan pola yang sehat. Ini lebih mahal, menurut saya. Mahal secara fisik dan mahal secara mental. Ada beberapa ketelanjuran pola hidup tak sehat yang sulit sekali (secara mental) untuk ditinggalkan, seperti merokok, pola makan tanpa pantangan, atau berolahraga secara tak teratur. Saya pernah mencobanya, tetapi justru saya mengalami sakit secara mental. Saya merasa tidak semerdeka yang saya inginkan. Saya seperti hidup dalam kekhawatiran. Tetapi saya paham bahwa seiring bertambahnya umur daya tahan tubuh tak bisa lagi dibohongi dengan pikiran-pikiran sugestif, "Tenang saja, saya akan baik-baik saja...." Inila satu-satunya tantangan terbesar dan terberat. Menaklukkan diri sendiri untuk mulai hidup dengan pola yang sehat.

Saya baru saja pulang menjenguk adik ipar, yang kini terbaring di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Ia yang selama ini hidup di bawah naungan obat pengendali tekanan darah, harus menerima kenyataan efek samping perawatan tersebut, berupa gagal ginjal. Memang itu bukan efek samping yang muncul begitu saja. Mestinya ada predisposisi yang mempermudah timbulnya gagal ginjal, seperti intensitas minum air tawar. Atau mungkin karakter khas metabolisme tubuhnya. Saya hanya bisa prihatin. Usianya masih muda tetapi sudah harus menjalani proses cuci darah (hemodialisis) secara teratur, hingga dokter memutuskan ia bisa terbebas dari proses tersebut.

Sepanjang perjalanan pulang saya merenung. Saya merasa masa-masa memanjakan kemerdekaan diri saya harus mulai dibatasi. Hidup di Indonesia mesti pandai menjaga diri. Tetapi saya harus mulai darimana? Wah, ini yang sulit diputuskan....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Septic Tank Raksasa Itu Bernama Negara-negara Berkembang

Awicaks

Akrobat diplomasi ini dimulai ketika untuk pertama kalinya Protokol Kyoto pertama kali diadopsi pada 11 Desember 1997 di Kyoto, Jepang dan kemudian mulai didorong penegakannya pada 16 Februari 2005. Protokol Kyoto merupakan perjanjian internasional sebagai bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), yang bertujuan mencapai "stabilsasi konsentasi gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfer pada suatu tingkatan yang mampu mencegah timbulnya tekanan kegiatan-kegiatan manusia yang membahayakan sistem iklim."

Protokol Kyoto menetapkan komitmen yang mengikat secara hukum negara-negara yang meratifikasinya dalam pemangkasan emisi empat unsur GRK (karbon dioksida, methana, nitrous oksida, sulfur hexafluorida), serta dua kelompok gas (hidrofluorokarbon dan perfluorokarbon) yang dihasilkan oleh negara-negara "Annex I" (industri maju), serta sebagai komitmen bersama seluruh negara anggota. Di bawah Protokol Kyoto, negara-negara industri maju sepakat untuk memangkas secara kolektif emisi gas-gas rumah kaca (GRK) mereka hingga 5,2% dibandingkan tahun 1990. Kisaran porsi setiap negara adalah antara 8% bagi Uni Eropa dan beberapa negara, 7% bagi Amerika Serikat, 6% bagi Jepang, serta 0% bagi Russia.

Protokol Kyoto mencakup suatu "mekanisme yang fleksibel" yang meliputi Pertukaran Emisi (Emissions Trading), Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism) serta Penerapan Bersama (Joint Implementation) guna memberi kesempatan negara-negara Annex I mencapai target pembatasan emisi GRK dengan membeli kredit pemangkasan emisi GRK dari berbagai sumber, melalui pertukaran keuangan, proyek-proyek yang mampu mengurangi emisi di negara-negara non-Annex, atau dari negara-negara Annex I yang memiliki kelebihan selisih nilai emisi. Sementara itu, negara-negara non-Annex I tidak memiliki pembatasan-pembatasan emisi GRK, tetapi memiliki hak memperoleh insentif keuangan untuk mengembangkan proyek-proyek pengurangan emisi GRK agar dapat menerima "kredit karbon" yang kemudian dapat dijual kepada pembeli dari negara-negara Annex I, guna mendorong dilaksanakannya pembangunan berkelanjutan.

Mekanisme yang fleksibel itu membolehkan negara-negara Annex I yang memiliki industri yang efisien, rendah emisi GRK-nya serta standar pengelolaan lingkungan yang baik untuk tidak menurunkan emisi GRK domestik mereka dengan membeli karbon kredit di pasar dunia. Negara-negara Annex I umumnya berusaha mendapatkan kredit karbon semurah mungkin, sementara negara-negara Non-Annex I berupaya memaksimalkan nilai kredit karbon dari proyek-proyek GRK domestik mereka. Di sinilah pangkal dari operasi tambah kurang kepentingan ekonomi-politik serta geopolitik yang mewarnai putaran-putaran perundingan sepanjang lebih dari limabelas tahun terakhir, yang berujung pada penundaan-penundaan pelaksanaan kewajiban pemangkasan emisi GRK negara-negara Annex I.

Sudah dari rancangannya negara-negara kere yang bernaung di bawah Non-Annex I harus bermental baja untuk menjadi lubang penampung kotoran atau septic tank bagi negara-negara industri maju (Annex I). Ibarat sebuah ruang tertutup berisi lima orang, dimana dua diantara mereka perokok berat dan tiga orang lagi bukan perokok. Ketiga orang yang bukan perokok itu meminta kedua orang perokok itu menghentikan kegiatan merokok mereka, atau setidaknya mengurangi frekuensinya. Alih-alih menghentikan atau mengurangi frekuensi merokok, kedua orang itu akan memberi ketiga orang yang lain insentif dalam bentuk apa pun, yang pada intinya merupakan upaya agar kedua orang tadi dianggap telah mengurangi frekuensi merokok mereka.

Negara-negara Non-Annex I yang sedianya tidak memiliki kewajiban memangkas emisi GRK mereka seketika tertimpa beban yang sama dengan negara-negara Annex I, ketika emisi karbon dioksida yang berasal dari penggundulan hutan (deforestasi) ditambahkan ke dalam rumusan, yang penjajakannya sudah dimulai semenjak Konvensi Parapihak atau Conention of the Parties (COP) ke-11 di Montreal, Kanada, pada Desember 2005. Sebelumnya pemberagaman sumber emisi yang memberi beban pembatasan bagi negara-negara Non-Annex I sudah dimulai sejak diadopsinya tata-guna lahan dan perubahan tata-guna lahan pada kehutanan atau land use and land use change in forestry (LULUCF), yang menimbulkan perdebatan besar pada COP ke-7 di Marakech, Maroko, pada 2001. Perdebatan terutama seputar kecilnya manfaat insentif yang diterima negara-negara Non-Annex I, karena rumitnya prosedur CDM serta tingginya biaya transaksi pelaksanaan mekanisme tersebut.

Mentalitas septic tank bukan hal yang hina bagi para juru runding asal negara-negara Non-Annex I. Dengan gagah berani mereka akan menantang negara-negara Annex I untuk menunjukkan kemampuan finansial mereka agar memberikan insentif sebesar-besarnya. Kenyataan yang pahit ketika banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat emisi negara-negara Annex I justru terus meningkat, meskipun sudah triliunan dollar mengalir melalui pelaksanaan mekanisme yang fleksibel tersebut. Bahkan gejala-gejala dampak perubahan iklim terus menunjukkan sosok kongkretnya. Adalah negara-negara pulau-pulau kecil yang tergabung pada Alliance of Small Island States (AOSIS) yang bersuara paling keras, menuntut agar negara-negara Annex I tidak hanya bermain-main dengan mekanisme fleksibel penurunan emisi, tetapi sungguh-sungguh memangkas emisi mereka dengan memperlambat pertumbuhan ekonomi mereka yang agresif. Kenaikan muka air laut akibat pemanasan global adalah ancaman kongkret yang setiap saat dapat datang mengetuk pintu negara-negara pulau kecil.

Perundingan-perundingan yang terus berlangsung, yang diharapkan berujung pada keputusan-keputusan tegas lewat COP ke-15 tahun depan di Copenhagen, Denmark, menurut hemat saya masih jauh panggang dari api. Satu hal yang membuat saya berkeyakinan seperti itu adalah, karena tidak ada upaya membereskan satu hal mendasar: Pemangkasan emisi GRK tidak hanya dilakukan lewat pelambatan laju pertumbuhan ekonomi negara-negara Annex I, tetapi membutuhkan perombakan total (overhaul) bangun ekonomi-politik dunia baik secara paradigmatik maupun praktik, yang berorientasi kepada persebaran manfaat yang berkeadilan, dan upaya serius mengurangi menumpuknya jejak ekologik teknologi kotor serta tata-guna lahan yang mendorong merosotnya kemampuan lingkungan dan daya hidup manusia.

Forum Organisasi-organisasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim memandang perubahan iklim sebagai bukti tak-terbantahkan rudinnya model pembangunan global yang sepanjang lebih dari lima dekade didorong oleh negara-negara industri maju ke seluruh dunia. Sebuah model pembangunan yang rakus tanah, rakus minyak, rakus buruh murah, rakus air, rakus mineral, dan mempercayai efektifnya proses penetesan kemakmuran dari kelompok berhasil kepada kelompok kurang atau tidak berhasil. Perubahan iklim hanyalah gejala. Ibarat penyakit, ia adalah gejala dari sebuah penyakit khronik yang tak-tersembuhkan dan tak-terpulihkan. Dan arena-arena diskusi tentang jalan keluar diberi judul adaptasi dan mitigasi, yang menunjukkan “keengganan berubah” kelompok-kelompok yang selama ini menerima manfaat terbesar model pembangunan global tersebut.

COP ke-14 di Poznan, Polandia, yang berakhir pada 14 Desember 2008, jelas merupakan ajang pamer kepengecutan negara-negara industri maju, serta ajang pamer mentalitas oportunistik negara-negara berkembang dengan pengecualian negara-negara pulau kecil yang sedang berkembang (Small Island Developing Countries, SIDs). SIDs tak kenal lelah mengecam absennya kepemimpinan negara-negara Annex I untuk menjamin keselamatan hidup warga negara-negara pulau-pulau kecil itu dengan merombak model pembangunan mereka agresif. Mereka pun tak segan mengecam negara-negara berkembang lain yang bermental oportunis seperti halnya septic tank, berunding demi insentif yang tak seberapa dibandingkan keselamatan kehidupan manusia di negara-negara yang rentan terhadap daya ursak perubahan iklim.

Dimana posisi Indonesia? Apakah ia masuk bersama rombongan penjaja septic tank, atau berani bersikap seperti halnya SIDs? Mohon maaf, dari perundingan satu ke perundingan lain Indonesia tak tergolong rombongan yang aktif dan agresif meski hanya sebagai septic tank. Ia lebih seperti septic tank yang pasrah dan nrimo. Apa pun yang mau dibuang, monggo silaken....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Tuesday, December 16, 2008

Indonesia? Soekarno!

Awicaks

Dalam perjalanan dari arena konferensi ke Pasar Lama Poznan saya menyempatkan diri membeli jeruk dan pisang di pasar buah dekat perhentian trem jalur nomor delapan. Lelaki tua pemilik kedai terbuka yang menjual beragam buah –persis yang kita lihat di sepanjang jalan-jalan di wilayah pinggiran Jakarta- mengamati saya. Ia seperti ingin menyampaikan sesuatu tetapi terlihat ditahan. Mungkin masalah bahasa. Saya pun berpura-pura tidak memperhatikan dengan terus memilih buah yang ingin dibeli.

clip_image002

Setelah dapat yang saya butuhkan, kantung kertas berisi dua buah jeruk, sebuah apel dan sebuah pisang itu pun saya bawa kepada lelaki tua yang matanya masih juga lekat memandangi saya. Tiba-tiba ia tersenyum. Seperti orang yang baru memperoleh ilham.

“Indoneza?” Lelaki tua itu bertanya sambil menerima kantung kertas berisi buah-buahan yang ingin saya beli. Saya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Lelaki tua itu pun melebar senyumnya. “Aha…. Soekarno!” Saya terkejut tetapi tak lama kemudian tersenyum lebar.

Yes, that’s right. Indonesia, Soekarno!” Kata saya.

Dengan nada suara yang berat lelaki tua itu berkata tanpa melepas senyum lebarnya. “Keretegh rogkogk?” Jari-jari telunjuk dan tengah tangan kanan laki-laki itu memeragakan orang merokok. Sempat terkejut saya dengan kata-kata itu. Saya segera merogoh kantung jaket. Sebungkus Ji-Sam-Soe saya tunjukkan kepada lelaki tua itu. Ia tertawa lebar. “Hahahaha! Indoneza! Keretegh rogkogk!” Ia mengambil cepat ketika saya ajukan rokok sebungkus itu.

Sayang kami tidak berkomunikasi, bagaimana ia tahu rokok keretek, dan bagaimana ia tahu Soekarno. Mungkin ia pernah bertugas di Indonesia? Atau mungkin bagi orang dari generasinya nama Indonesia identik dengan Soekarno. Bolehjadi ia tahu Soekarno karena tonggak monumental pada April 1955 di Bandung, Konferensi Asia Afrika, sebuah konferensi tingkat tinggi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan.

Ketika transaksi jual beli buah selesai, dan saya harus bergegas ke Hotel Brovaria untuk menghadiri seminar yang diselenggarakan World Resources Institute (WRI), lelaki tua itu mengucapkan terimakasih dengan menjabat tangan saya erat-erat. Ia memanggil kawannya pemilik kedai terbuka di sebelah, dan memintanya memotret kami berdua menggunakan kamera digital. Saya tersenyum. Dimensi masa lalu bertubrukkan dengan dimensi masa sekarang. Selesai berfoto bersama ia menjabat tangan saya erat-erat.

Dziękuje,” Ucapnya tulus, menyampaikan terimakasihnya.

Proszę,” Sambut saya. Ternyata pedoman yang diedarkan kantor selama berlangsungnya konferensi perubahan iklim sangat bermanfaat. Minimal saya bisa menyambut ucapan terimakasih dalam bahasa Polish. Sayang saya gagal memahami darimana dan bagaimana ia tahu tentang Indonesia, Soekarno dan rokok keretek.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Monday, December 15, 2008

Bursa Asuransi Keselamatan di Poznan

Awicaks

Poznan, bekas ibukota Polandia, sebuah kota klasik dengan ciri-ciri arsitektur Eropa yang khas, dipilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Konvensi Parapihak dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk Perubahan Iklim, atau terkenal dengan sebutan UNF3C. Sebuah konvensi yang paling diminati dan paling banyak menyedot perhatian beragam kalangan serta merangsang perdebatan panas. Tonggak kesepakatan monumental, Protokol Kyoto, bahkan dijadikan sebagai papan pengumuman oleh George W. Bush, tak lama ia dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat ke-43, untuk menunjukkan kepada warga planet sikap dan posisi politik Amerika Serikat yang egoistik, berdiri tegak menolak solidaritas global untuk menahan diri bersama-sama negara-negara industrialis maju mendorong pertumbuhan ekonomik berbasis model yang rakus tanah, rakus minyak, rakus buruh murah, rakus air, dan pada saat yang sama membuka ruang bagi negara-negara berkembang mengejar ketertinggalan dengan cara-cara yang lebih baik dari model yang selama ini menjadi berhala sejagad, pasar bebas.

UNF3C dengan Protokol Kyoto-nya pun dijadikan domain tempat bertemunya berbagai dinamika politik-ekonomi dunia, serta papan catur geopolitik strategis, mengingat persentuhannya dengan mata-rantai penting kompleks industri militer, sektor energi. Sepanjang dua minggu terakhir saya berada di ajang tersebut, dengan segala hiruk-pikuk bazaar tahunan, menjual beragam teknologi, pilihan-pilihan asuransi keselamatan menghadapi dampak perubahan iklim, dan bahkan tak segan menawarkan obat mujarab menyiasati perubahan iklim. Saya menggigil. Bukan hanya karena suhu udara Poznan yang memang sungguh-sungguh dingin, tetapi menggigil karena dinginnya manusia menggunakan potret kemiskinan dan penderitaan orang-orang, yang bolehjadi tak tahu menahu tentang perubahan iklim, sebagai ajang penghimpunan dan penggalangan dana dan konsolidasi kekuasaan demi pelanggengan hak-hak istimewa segelintir orang dari segelintir kelompok di muka planet. Di setiap sudut arena konvensi terlihat orang-orang duduk serius membicarakan peluang-peluang bisnis menggiurkan, sambil berjuang menangani dampak perubahan iklim. Tak jelas, mana yang tujuan mana yang bonus.

Para pemain catur selama proses perundingan dikelompokkan dengan basis yang aneh. Ada kelompok payung, kelompok lampiran satu, kelompok Uni Eropa, kelompok negara-negara yang belum maju, kelompok Afrika, kelompok pemerintahan dari 77 negara plus Cina, kelompok ekonomik transisi, kelompok negara-negara pulau kecil, dan kelompok negara-negara berkembang pulau kecil. Satu negara bisa masuk ke lebih dari satu kelompok. Bahkan saya sering bingung ketika pada rapat pleno seorang wakil delegasi pihak menyebutkan bahwa komitmen negaranya sejalan dengan komitmen kelompok(-kelompok) dimana negara itu menjadi bagian. Apa yang terjadi seandainya kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki sikap yang sama? Sejauh yang saya pahami, memang belum pernah terjadi. Tetapi jika hal tersebut terjadi, tentu akan memperlambat dan menghambat proses-proses dialog dan negosiasi.

Sebuah jejaring organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia memandang perubahan iklim sebagai bukti tak-terbantahkan rudinnya model pembangunan global yang sepanjang lebih dari lima dekade didorong oleh negara-negara industri maju ke seluruh sudut muka bumi. Sebuah model pembangunan yang, seperti saya telah sebut di atas, rakus tanah, rakus minyak, rakus buruh murah, rakus air, rakus mineral, dan mempercayai efektifnya proses penetesan kemakmuran dari kelompok berhasil kepada kelompok kurang atau tidak berhasil. Saya kira, saya sepakat dengan pendapat tersebut. Perubahan iklim hanyalah gejala. Ibarat penyakit, ia adalah gejala dari sebuah penyakit khronik yang tak-tersembuhkan dan tak-terpulihkan. Tak heran jika arena-arena diskusi tentang jalan keluar diberi judul adaptasi dan mitigasi.

Kedua judul itu jelas-jelas menunjukkan suatu “kepasrahan”, atau kalau boleh disebut sebagai “keengganan berubah” kelompok-kelompok yang selama ini merupakan penerima manfaat terbesar model pembangunan global tersebut. Adaptasi secara harafiah bermakna, tindakan-tindakan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan. Sementara mitigasi secara harafiah bermakna, tindakan-tindakan untuk “mengurangi dampak” yang timbul akibat perubahan-perubahan yang terjadi. Maka tak heran arena konferensi sarat dengan anjungan-anjungan dengan tawaran menarik bahkan ada yang mampu membuat marah.

“Low Carbon Lifestyle – Low Economy – Nuclear is the Solution!”

“Make A Right Decision to Cope with Climate Change – We Give You the Best Image Resolution to Measure Carbon Loss of the Forest”

“The Best Carbon Accounting Method to Get Better Appraisal”

“Get Rid Off Poverty! The Mitigation Strategy”

Pesan-pesan itu membuat segerombolan kalangan muda dari berbagai organisasi dan jejaring organisasi muak, marah dan bahkan ada yang (ingin) menangis. Eli, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Vermont, Amerika Serikat, yang berasal dari Republik Demokratik Congo, dengan santun berkata pada salah satu seminar yang diselenggarakan oleh 350.org, “Semua orang bicara tentang target penurunan emisi 2020, target 2050, tetapi kami yang nanti menjadi pengambil keputusan sama sekali tidak dilibatkan. Mereka yang bicara target itu justru orang-orang yang sudah tua, yang mungkin sudah meninggal semua ketika tahun pemenuhan target itu tiba. Dan kami tidak bodoh. Kami tidak percaya dengan slogan dan iklan-iklan asuransi keselamatan menghadapi perubahan iklim yang tersebar di pelosok arena konferensi. Kami lebih percaya pada tindakan. Tindakan yang bertanggungjawab kita semua.”

“PBB bukan satu-satunya cara untuk memecahkan masalah perubahan iklim. Mestinya kita pun tak perlu berlelah-lelah terbang ke sini untuk mempengaruhi atau paling tidak menarik perhatian para diplomat dan politikus serta para juru runding di arena konferensi, karena mereka dibebani bagasi kepentingan sebelum berangkat ke sini. Misi mereka adalah untuk memenangkan kepentingan itu at any cost,” saya katakan itu kepada Eli dan kawan-kawannya dari jejaring 350.org ketika kami makan malam bersama di salah satu rumah makan di sudut Old Market Square. Tempat dimana para aktivis gerakan lingkungan, orang-orang dari berbagai organisasi dan jejaring organisasi melepas penat setelah seharian bergerak kesana kemari di arena konferensi.

Karolina Romanek, seorang aktivis muda dari Hungaria, sepakat. Ia melontarkan gagasan tentang gelombang aksi kalangan muda sejagad menekan para pengambil keputusan di negara masing-masing untuk melakukan tindakan nyata dan drastik. Dan aksi itu, menurutnya, sangat baik jika dilakukan serentak. “Dan itu tugas Anda untuk menyiapkan pilihan rute-rute jalan keluar,” ujar Karolina sambil menunjuk saya. Karolina menambahkan, bahwa tanggjung jawab historik orang-orang berusia di atas 30an sekarang untuk tidak semena-mena menentukan pilihan rute kehidupan sejagad lewat konferensi ini. “Berikan kami pilihan-pilihan berikut argumen-argumen yang mendorong kami mampu belajar dengan cepat, agar dapat segera terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan bersama generasi Anda.”

Konferensi tingkat tinggi ini akhirnya gagal mencapai keputusan solid. Sebuah rencana kerja disepakati, tetapi tidak ada keputusan penting, kecuali soal perubahan tanggal konferensi berikutnya di Copenhagen, Desember 2009. Beberapa kawan menyebut ini sebagai sebuah anti-klimaks. Tidak ada kepemimpinan yang muncul, kecuali para jawara dari gelombang tawuran kelompok untuk bertahan pada zona nyaman masing-masing. Tidak tampak ada yang mau memimpin dan siap menerima resiko perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. Konferensi ditutup pada pukul dua dinihari. Wajah penat para peserta konferensi tampak jelas. Ada yang terlihat kecewa, ada yang tampak puas dan saling bersalaman, tetapi tak sedikit yang terlihat kebingungan. Sayang saya tak sempat mengajak kelompok yang bingung dengan hasil konferensi karena penat luar biasa. Ketika melangkah meninggalkan arena konferensi, para petugas logistik terlihat sibuk membongkar anjungan-anjungan yang selama dua minggu memadati koridor yang menghubungkan ruang pertemuan satu dengan yang lain. Tak jelas apakah para agen asuransi keselamatan dari perubahan iklim itu berhasil menggaet pelanggan atau tidak. Sepanjang koridor hingga gerbang pintu keluar deretan truk berukuran besar serta truk kontainer antri di areal parkir arena konferensi.

Pagi sangat dingin. Papan temperatur di atap gedung konferensi menunjukkan minus dua derajat Celcius. Saya melangkah lunglai ke setopan trem dengan kecamuk di kepala, “Kapan orang berhenti percaya kepada para diplomat dan politikus serta para juru runding ini dan bergerak dan bertindak serentak memecahkan masalah tanpa perlu mempedulikan keberadaan Negara?”

Selanjutnya.. Sphere: Related Content