Wednesday, June 27, 2007

Perubahan Iklim?

Awicaks

Hati-hati menggunakan kata 'iklim', bisa disalahartikan oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. Warta global dan regional sepanjang tiga tahun terakhir bicara dengan gencarnya tentang perubahan iklim berikut dampak-dampaknya terhadap tatanan sosial, politik, ekonomi dan lingkungan hidup. Namun di Indonesia para poliitkus, birokrat, teknokrat lebih sibuk menyorot perubahan iklim usaha. Yang satu bicara tentang hal-hal besar dan jangka panjang menyangkut masa depan umat manusia, sementara di dalam negeri topik paling menarik adalah tentang sisa waktu hingga Pemilu 2009, "apa yang belum sempat dijarah?", "apa yang harus dijarah memanfaatkan sisa waktu yang ada?", "bagaimana caranya memperpanjang umur kekuasaan?", atau yang agak dramatik, "kemana kita harus kabur setelah Pemilu 2009?"

Desember 2007, Bali akan jadi sorotan dunia. Berbagai negara akan bertarung mendorong kepentingannya, antara menyelesaikan krisis iklim versus pengorbanan minimum yang harus dimenangkan. Para pelaku politik enerji, baik politikus-politikus dari negara industri maju dan negara miskin, maupun para merkantilis lintas-batas negara, akan bertransasksi dengan sengit. Bagaimana dengan keadaan dalam negeri menjelang penyelenggaraan peristiwa global yang penting itu?

"Indonesia harus jadi tuan rumah yang baik, mampu menunjukkan citra positif tentang keseriusan kita menangani perubahan iklim." Ujar Menteri Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar, pada suatu pertemuan persiapan Pertemuan Puncak Parapihak (Convention of the Parties, COP), Kerangka Kerja PBB Untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Sesederhana itu? Hmm, jangan lupa dengan trade-mark Indonesia, negeri yang ramah (tapi bisa sangat kejam membiarkan warganya dibunuh para elit politik yang saling bertikai).

Lucunya, kekhawatiran-kekhawatiran Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) tentang El Nino yang kemungkinan muncul pada pertengahan tahun ini, yang biasanya disusul dengan kekeringan berkepanjangan, seakan-akan tidak ada urusannya dengan konferensi global itu. Alih-alih memilikirkan strategi pengurangan dampak El Nino orang-orang di kantor negara justru sibuk membuat kepanitian ini itu menjelang konferensi. Sibuk dengan tender untuk mendapatkan event organizer yang handal dan berpengalaman menangani pertemuan-pertemuan internasional.

Meski perubahan iklim mewarnai pemberitaan di warta-warta nasional sepanjang satu semester terakhir ini, agaknya tak berpengaruh terhadap dinamika realpolitik di Jakarta. Jauh panggang dari api...

27 Juni 2007

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

No comments: