Tuesday, June 26, 2007

Berebut Kepala Berita - SBY vs MJK dan Korban Lumpur Lapindo Laknat

Awicaks

Tidak ada yang lebih bodoh ketimbang berita yang saya baca kemarin, juga lewat situs KB ANTARA, newsticker yang merambat di siaran MetroTV, dan beberapa berita online, tentang rebutan kepala berita antara SBY dengan MJK. Warga Porong korban lumpur Lapindo laknat menjadi piala yang diperebutkan dua sosok pemimpin yang patut dipertanyakan kualitas kepemimpinannya. Alih-alih kemarahan yang timbul setelah membaca berita-berita itu, saya malahan menyesal membaca hingga tuntas.

Unjuk rasa warga korban lumpur Lapindo laknat di muka istana Negara tidak digubris. Bahkan, menurut situs berita KB ANTARA, juru bicara kepresidenan, Andi 'Kumis Lebat' Malarangeng, sudah menjelaskan, "Presiden tidak bisa menerima perwakilan warga korban karena sudah ada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. MJK yang kecil nan lincah justru membuka pintunya lebar-lebar. Maka beberapa orang perwakilan warga korban pun berdialog, bahkan bersepakat, dengan Wapres MJK. Siasat memotong di tikungan yang kasar tetapi harus diakui sebagai siasat jitu dalam konteks persaingan antara SBY dengan MJK.

Lima resolusi dihasilkan dari dialog antara warga korban dengan Wapres MJK, yang saat itu didampingi oleh Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Entah, apakah pihak istana presiden kebekaran jenggot dengan siasat memotong di tikungan itu. Yang jelas staf istana presiden mengundang para juruwarta yang biasa mangkal di istana untuk meliput dialog antara warga korban dengan presiden di istana. Pertemuan mundur dari jadual yang diumumkan pihak istana kepara para juruwarta karena warga korban masih dalam proses berdialog (dan bernegosiasi) dengan Wapres MJK.

Berita di KB ANTARA menyebutkan, akhirnya pertemuan antara Presiden SBY dengan warga korban lumpur Lapindo laknat dapat berlangsung di istana, meski terlambat hampir dua jam dari yang dijadualkan. Namun berita yang muncul di newsticker MetroTV mengatakan bahwa pertemuan berlangsung di kediaman pribadi Presiden SBY di Cikeas. Bahkan newsticker itu menginformasikan, betapa terharunya presiden, bahkan hingga menitikkan airmata. Satu cara merebut perhatian yang begitu kolot, kuno dan jauh di bawah skor yang diperoleh MJK dari pertemuannya dengan warga korban, karena dialog itu berakhir dengan lima resolusi yang populis. Entah mana yang benar.

Sungguh, saya malu menjadi warga Indonesia. Menjadi warga yang dipimpin oleh dua ujung tombak kepemimpinan yang lebih peduli citra diri daripada keselamatan warganya.

26 Juni 2007

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

1 comment:

Anonymous said...

hahahaha. Lucu.