Sunday, July 08, 2007

Punya Sekolah Sendiri

Awicaks

Istri adik ipar saya sumringah bangga ketika menceritakan langkah awalnya mendirikan sekolah dasar di bilangan Jakarta Selatan. Cita-cita mulia ia sampaikan dengan lancar, jernih dan cerdas. Juga misi yang ia emban, tak hanya melanjutkan langkah yang sudah dirintis ibundanya tercinta. Kesungguhannya ia tunjukkan dengan memasukkan anaknya sendiri sebagai salah seorang siswa angkatan perdana. Luar biasa.

Suaminya, adik ipar saya, turut bangga. Meski masih menyimpan pertanyaan tentang keberlanjutan sekolah itu, ketika ia melontarkan pandangan dari segi tata-kelola lembaga modern. Konteks pembiayaan dan arus-kas jadi hirauan penting baginya. Juga menyangkut bentuk badan hukum yang menjadi alas organisasi sekolah yang dirintis istrinya itu.

Kisah itu mengingatkan saya pada diskusi dengan istri saya tentang Sekolah Berwawasan Internasional (SBI) Madania, dimana kedua anak kami bersekolah. Istri saya yang dulu rajin mengikuti Pengajian Paramadina di Metro Pondok Indah yang diasuh langsung oleh Cak Nur (Nurcholis Madjid) dan Cak Komar (Komaruddin Hidayat), berkisah tentang latarbelakang didirikannya sekolah itu. Misi pendidikan yang mengusung supremasi kemajemukan kehidupan sosial di Indonesia, sesuai nilai-nilai Islam, seperti yang terus didengungkan kedua cendekia itu.

Langkah kedua cendekia itu pun berangkat dari keprihatinan dan hirauan menyangkut mutu pendidikan di Indonesia, yang lebih piawai menghasilkan orang-orang yang berorientasi kepada hasil akhir daripada proses perolehannya. Juga keprihatinan mereka tentang sekolah yang pada akhirnya tidak berbeda dengan perusahaan penjual jasa. Mereka pun merintis sebuah sekolah berasrama (boarding school) pertama di Indonesia, SMA Madania, yang terletak di Jalan Raya Parung, Kabupaten Bogor. Tak lama kemudian, dirintis pula Taman Kanak-kanak Madania di wilayah Ragunan, Jakarta Selatan.

Konteks sosial-politik kedua cendekia itu dalam merintis Madania (dan juga Universitas Paramadina) tak perlu diragukan lagi. Sebuah kerja keras yang patut diacungi jempol karena berupaya menghasilkan generasi muda Indonesia yang cerdas, kritis dan correct secara sosial dan politik. Persekolahan tersebut secara hukum dinaungi sebuah yayasan. Tentu saja dengan melibatkan nama-nama besar, baik di bidang pendidikan maupun di bidang bisnis dan pembiayaan. Karena kerja keras tersebut jelas tidak bisa dibangun mengandalkan gagasan belaka. Dibutuhkan dana keras dan dana lunak. Tepat di sinilah pintu masuk pergeseran cita-cita mulia menjadi school as business as usual di Indonesia.

Sepanjang perjalanannya, saya sebagai orangtua murid sekolah tersebut kerap kali dibuat jengkel dengan dua pola komunikasi yang diberlakukan sekolah. Pola pertama menyangkut tata-kelola dan pembiayaan, yang senantiasa dikaitkan secara erat dengan pola komunikasi kedua, yakni menyangkut kurikulum dan mutu pengajaran. Saya dibuat lebih jengkel lagi ketika sekolah itu jadi lebih berorientasi menggalang lebih banyak murid yang masuk atas nama pengembalian modal.

Cita-cita mulia kedua cendekia itu makin lama makin kabur, dan bahkan sama sekali tak bermakna, ketika saya, sebagai orangtua murid, menghadapi tata-cara pengajaran yang cenderung menjadikan murid-murid menjadi anggota masyarakat yang snob, sok modern dengan kepekaan sosial yang dibuat-buat dan cenderung bermentalitas memberi sedekah. Dalam kehidupan sehari-hari, murid-murid sekolah itu dicetak menjadi orang yang manja. Guru-guru pun berperilaku seperti halnya penjaga anak, karena mereka tahu bahwa orangtua anak-anak didiknya adalah orang-orang yang berpengaruh, baik karena kuasa politik maupun kuasa harta.

Cita-cita mulia itu semakin kabur dari pandangan ketika saya menghadapi kemampuan berbahasa guru-guru sekolah itu. Guru-guru didorong untuk aktif berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, yang mungkin terbebani oleh nama sekolah itu sendiri yang menggunakan kata 'internasional'. Yang mengejutkan justru ketika saya menemukan kemampuan dan mutu berbahasa Indonesia guru-guru sekolah itu yang sangat amburadul.

Komunikasi orangtua murid - guru pun semakin hari semakin lenyap makna dan nilai pendidikannya. Lebih mirip kewajiban administratif guru kepada orangtua murid, karena sudah rela membayar mahal untuk membiayai anak-anaknya. Isi buku komunikasi seperti 'copy and paste', tetapi ditulis tangan. Komentar dan umpan balik orangtua ditanggapi dengan jawaban sekedarnya, seperti menjalankan kewajiban tanpa memahami makna dan kegunaan komunikasi tersebut.

Dari segi tata-kelola persekolahan, sekolah berwawasan internasional itu telah menciptakan horror baru bagi lingkungan permukiman dimana sekolah tersebut berdomisili. Mobil-mobil berlari kencang dan sering tidak peduli terhadap rambu-rambu jalan terutama di pagi hari, parkir sembarangan dan menciptakan ketidaknyamanan warga. Beberapa kali terjadi kecelakaan di jalan-jalan yang sepi di kompleks permukiman tersebut. Protes sudah sering dilontarkan, tetapi tidak ada tindakan tegas dari pihak sekolah terhadap perilaku sopir-sopir yang mengantar anak-anak manja bersekolah.

Saya hanya berdoa dan berharap agar cita-cita mulia istri adik ipar saya itu tidak terjebak pada kuatnya arus-utama rejim ekonomi-politik yang dikendalikan pasar yang sudah merambah sejak lama ke bidang pendidikan. Karena cita-cita mulia tersebut sudah pasti akan terjerembab ke comberan kalkulasi untung-rugi, balik modal, arus-kas, serta beragam tata-kelola modern yang cenderung membunuh ruang-ruang kreatif yang seharusnya dibuka oleh sebuah lembaga pendidikan. Mudah-mudahan.

8 Juli 2007

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

9 comments:

Eri said...

Kebetulan saya sedang mencari Tk buat anak say dan Madania adalah salah satu dr pilihan tsb. Hanya setelah membaca postingan ini kok saya jd seperti terbentur hal yg sama lagi. Apakah semua sekolah 'natonal plus' mempunyai atmosfer yg sama? guru yg gak becus bahasa inggris, para orangtua yg bgt show off dll. apakah semua sekolah national plus mempunyai √°tmosfer'yg sama tidak sehatnya kah? tolong balasannya...terutama mengenai sekolah yg akan dirintis oleh adik ipar (?) trims.

Eri said...

Kebetulan saya sedang mencari Tk buat anak say dan Madania adalah salah satu dr pilihan tsb. Hanya setelah membaca postingan ini kok saya jd seperti terbentur hal yg sama lagi. Apakah semua sekolah 'natonal plus' mempunyai atmosfer yg sama? guru yg gak becus bahasa inggris, para orangtua yg bgt show off dll. apakah semua sekolah national plus mempunyai √°tmosfer'yg sama tidak sehatnya kah? tolong balasannya...terutama mengenai sekolah yg akan dirintis oleh adik ipar (?) trims.

Awicaksono said...

Saya kira fenomena ini sudah dimulai di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia, lewat istilah "sekolah favorit." Pergunjingan diantara para orangtua murid lah yang kemudian menjadi alat pemasaran paling ampuh untuk peringkat sekolah. Sekarang tampaknya lebih parah, karena nuansa bisnis justru memperburuk pola marketing mulut-ke-mulut..

Anonymous said...

sepertinya artikel tersebut terlalu menyudutkan Madania.Sebagai orang tua 2 anak yang bersekolah di sana,sejauh ini belum ada keluhan yang mendasar,semuanya bisa diselesaikan lewat komunikasi dengan guru2 yang sangat kooperatif.secara akademik dan perilaku etika anak kami sangat berkembang pesat.kekurangan2 yang ada hampir sama dengan sekolah2 lain yang lebih mahal dan elit.rekan2 kami yang bersekolah di Pelita Harapan, High Scope maupun sekolah internasional lainnya tetap mengalami masalah2.tidak ada sekolah yang sempurna 100%. sejauh kekurangan sekolah masih bisa kita akomodir, no problem. bila ortu banyak tuntutan dan standard terlampau tinggi disarankan untuk home schooling, mungkin bisa lebih puas.trims

Awicaksono said...

Terimakasih komentarnya.

Saya percaya, tidak ada sekolah yang 100% sempurna. Dan itu bukan hal yang menjadi sorotan saya. Sorotan saya adalah tentang komodifikasi sekolah. Transformasi sosok dan fungsi lembaga sekolah dari lembaga pendidikan menjadi lembaga komersial.

Saya pun orangtua dari 2 orang anak yang bersekolah di Madania. Kenapa saya memilih Madania dan bukan Pelita Harapan atau High Scope? Karena pengalaman yang saya miliki langsung adalah dengan Madania. Pengetahuan lain saya peroleh dari kawan-kawan atau kolega yang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah mahal dan prestisius lain di Jakarta...

indri said...

madania sebetulnya sekolah bagus.tapi sayangnya gurunya yang pintar dan muda-muda barangkali tidak punya ilmu kependidikan yang cukup, sehingga mereka hanya bisa mengajar dan menerapkan peraturan serta sanksi administrasi tanpa mencoba mengerti jiwa anak dan remaja. akibatnya cukup banyak murid yang tidak bisa dikendalikan gurunya karena guru tidak cukup berwibawa. selain itu, janji pak komar untuk memperhatikan setiap murid secara pribadi karena setiap anak adalah unik, tidak dapat dipenuhi oleh para guru. pergantian yayasan menjadi pt karena pertimbangan ekonomi juga membuat arahnya berbelok. akibatnya 2 tahun terakhir ini banyak guru bagus yang mengundurkan diri, dan banyak murid yang pindah sekolah.
saya salah satu orang tua murid yang terpaksa menyerah dan mengundurkan diri, karena sesudah 5 tahun di madania 3 tahun di smp dan 2 tahun di smu, 2 tahun belakangan ini anak saya merasa tertekan dan tidak bahagia sehingga nilainya anjlok terus. jadi silahkan berpikir ulang, sebaiknya cari informasi sebanyak mungkin.

indri

dodo said...

Alasan saya mengirim anak sulung saya ke Madania sejak SD hingga SMP karena anak sulung saya adalah anak ADS (Attention Disorder Syndrome), satu sprektrum paling ringan dari autisma. Madania menyediakan fasilitas Learning Support Facility (LSF). Perkembangan belajar anak saya cukup baik, tetapi itu diperoleh justru bukan dari Madania, tetapi karena ia juga mengikuti KuMon, yang memungkinkan ia berlatih secara mandiri untuk berkonsentrasi dan terlibat dalam proses pemecahan masalah secara gradual.

Di sekolah ia justru kebingungan dengan pendekatan pengajaran yang (maunya) bilingual. Jangankan dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia saja belum tentu anak saya (dan juga beberapa murid lain) dapat menyerap abstraksi pelajaran yang diberikan, seperti ilmu sosial dan ilmu alam. Patokan kurikulum menggunakan kurikulum Singapura kena batunya ketika Depdiknas menerapkan Ujian Akhir Nasional. Apa yang terjadi? Anak saya (dan juga murid lain) harus kerja keras belajar sesuai kurikulum berlaku untuk (sekedar) bisa lulus UAN.

Tahun ini kami memutuskan untuk menidahkan kedua anak kami....

Catatan tambahan, diskusi dengan para guru dan kepala sekolah sejauh ini sangat baik. Tetapi semua diskusi itu tak berjujung kepada perubahan kebijakan sekolah, karena mereka adalah karyawan dari sebuah perseroan terbatas, dimana pemilik badan usaha adalah pengambil keputusan tertinggi....

Pakde Mangun said...

Waduh no comment

Pakde Mangun said...

Waduh no comment