Monday, February 22, 2010

Gerbang abad (Centurygate): Selamat datang di rumah teka-teki paling mutakhir..

Awicaks

Gerbang abad, nama kampung dari frasa yang setiap hari mendominasi koran-koran lokal dan nasional, Centurygate. Skandal yang diduga melibatkan nama-nama besar, yang menjadi alat tawar menawar politik kekuasaan sepanjang lebih dari empat bulan terakhir. Dan sudah menjadi tradisi negeri ini, tidak pernah ada skandal yang terungkap tuntas, meski ia sudah melampaui tengat lebih dari tigapuluh tahun, seperti halnya di Amerika Serikat atau negara lain. Penyebabnya cuma satu: Tidak ada seorang pun pemimpin yang berkarakter, yang bersifat ksatria, jauh dari sikap dan perilaku pengecut. Gerbang abad atau Centurygate adalah panggung tonil kolosal tentang kepengecutan.

Antrian skandal politik paling kontemporer yang tidak (akan pernah) terungkap sudah sangat panjang, mulai dari kasus penculikan dan penghilangan aktivis pada masa hiruk-pikuk Reformasi, pembunuhan wartawan Bernas, Udin, pembunuhan aktivis buruh Marsinah, hingga skandal pembunuhan tokoh pembela hak-hak asasi manusia, Munir. Belum lagi jika ditarik ke belakang pada masa rejim kekuasaan Orde Baru di bawah almarhum Suharto, yang rentang waktunya dimulai sejak 1965.

Diakui atau tidak, citra diri adalah segala-galanya bagi yang menganggap diri mereka pemimpin bangsa dan masyarakat di negeri ini. Sehingga kita dipaksa membiasakan diri untuk menerima argumen, mereka yang “terbukti” terlibat skandal adalah pihak yang kalah dari suatu pertarungan kekuasaan diantara mereka. Kebenaran di negeri ini senantiasa terpeleset dan tertukar dengan kata kebetulan. Hakekat kebenaran, yang menuntut keberanian bersikap, senantiasa dimanipulasi dengan kisah-kisah heroik pembuktian yang lebih bersifat prosedural tentang “betul” atau “salah”. Padahal bukti merupakan sesuatu yang paling mudah dimanipulasi di negeri amburadul ini. Dalam konteks citra dan pencitraan, bukti adalah bagian dari proses rekayasa dan penciptaan.

Centurygate adalah kombinasi canggih dari kepengecutan dan citra (dan pencitraan) sebagai tulang punggung naskah pertunjukkan tonil yang didominasi adegan pertempuran orang-orang yang memegang kekuasaan. Apa yang terjadi jika orang-orang yang begitu bergantung kepada citra dan pencitran berperang satu sama lain? Mereka pun saling membongkar aib. Rekayasa, dari yang paling tolol hingga yang paling canggih, dimainkan dan diperagakan sedemikian rupa untuk meyakinkan publik bahwa salah satu pihak adalah yang betul dan pihak lain adalah yang bersalah. Racikan kepengecutan dan kegatihan citra dari pertunjukan tonil kolosal Centurygate sejauh ini semakin tidak berujung pangkal. Namun minimal pertunjukkan tonil ini sedikit lebih baik dibandingkan sinetron Indonesia: Sulit ditebak ujung pangkalnya.

Maka tidak perlu terkejut dengan pilihan manuver tolol dan dangkal berupa pengalihan perhatian, seperti yang dilakoni salah seorang dari tiga orang pengacara hebat versi Kompas, pada salah satu sidang DPR yang heboh itu. Pertunjukkan tonil kolosal Centurygate hanya sekedar siasat mengulur waktu demi membuka ruang-ruang negosiasi diantara mereka. Dan seperti tradisi skandal politik lainnya di negeri amburadul ini, Centurygate terasa didorong sedemikian rupa hingga publik merasa muak untuk mengikutinya, dan ia akan “menguap dengan sendirinya”.

Para korban lumpur Lapindo tentu merasa kesal luar biasa karena perhatian orang tidak lagi menyorot nasib mereka yang ditinggalkan begitu saja oleh para pemimpin pengecut, karena media-media pemberitaan tidak lagi menganggap skandal kelalaian operasional industri PT Lapindo Brantas sebagai isu yang layak jual. Skandal PT Lapindo Brantas bolehjadi masuk ke dalam radar perang citra para politikus jika pihak lawan Ketua Umum Partai Golkar ingin menggunakannya (sekedar) sebagai amunisi (tambahan) serangan terhadap citra, memperkuat amunisi skandal pajak yang saat ini digunakan. Tentu saja sulit berharap akan ada tindakan heroik luarbiasa yang berujung pada penyelamatan warga korban, yang akan ditampilkan pihak lawan Ketua Umum Partai Golkar, yang kabarnya sudah berhasil membersihkan namanya dari semua kertas-kertas hukum terkait dengan kepemilikan atas PT Lapindo Brantas.

Gerbang abad atau Centurygate adalah rumah teka-teki yang tidak akan pernah bisa memberikan jawaban bagi publik. Semua perangkat hukum (prosedural), baik yang bersifat struktural maupun yang ad-hoc (seperti KPK), bukan seperangkat instrumen solutif. Demikian halnya dengan pers dan media, yang saat ini berada dalam kegalauan antara tuntutan mengindustri dengan idealisme dan aktivisme sebagian kalangan pewarta, terutama mereka yang lahir dan tumbuh dari gegap-gempita Reformasi 1998. Kedua perangkat tersebut harus diakui adalah bagian tak terpisahkan dari masalah integritas kepemimpinan bangsa ini, yang didominasi oleh sikap dan perilaku pengecut, serta hiruk-pikuk citra dan pencitraan.

Sebagai warag kebanyakan, tidak ada yang dapat kita lakukan selain memastikan keselamatan diri kita sendiri dulu demi mempertahankan produtifitas yang menjadi sumber daya bertahan hidup (survival) di negeri amburadul ini. Bagi warga kebanyakan yang masih punya minat menonton pertunjukkan tonil kolosal di Senayan, “Selamat datang di gerbang abad atau Centurygate, rumah teka-teki paling mutakhir negeri amburadul Indonesia.”

Selanjutnya.. Sphere: Related Content