Tuesday, December 26, 2006

Merenung, Merenung, Merenung (Tak Perlu Ucapan Selamat Tahun Baru!)

A. Wicaksono< class="fullpost">

Sementara penduduk dua desa, Ketapang dan Gempol Sari, yang berada di lingkar 'bendungan' skandal L3, jantungnya terus berdebar. Sebagian harta sudah mulai diselamatkan. Kontak dengan sanak saudara terus dijaga. Karena begitu tanggul jebol lagi, lalu lumpur panas berbau mulai menggenang dan kemudian membanjir, itu tandanya mereka harus rela mengungsi. Sebuah potret mengenaskan tentang rakyat sebuah negara. Rakyat yang harus repot mengurus keselamatannya sendiri. Karena para pejabat negara tengah sibuk mengurus upacara ini itu. Dan karena para aktivis organisasi non-pemerintah pun sibuk mengejar setoran laporan akhir tahun. Ini sungguh sebuah skandal. Tak hanya skandal industri. Atau skandal pengurusan wilayah. Dia bisa lebih dari itu: Skandal lenyapnya solidaritas kelas!

Rakyat di desa-desa di seputar wilayah 'bendungan' L3, baik yang sudah mengungsi maupun yang masih terus berdebar-debar menanti alarm pentunjuk mengungsi, adalah perwakilan potret rakyat kebanyakan di negeri kepulauan ini, yang lebih sering dijadikan bahan kerangka acuan daripada sebagai alamat tujuan dari seluruh cerita program pembangunan atau cerita program atau proyek pemberdayaan rakyat. Ketika bencana dan kesusahan datang, tak serta merta tindakan penyelamatan oleh pihak yang bertanggungjawab maupun yang terpanggil, karena ada kriteria tertentu yang dapat menggerakannya, seperti jumlah korban mati, luasan wilayah geografik, jumlah korban pengungsi, nilai kerugian, dan sebagainya. Alhasil, rakyat korban dengan legawa sibuk mengurus keselamatannya sendiri.

Jika Anda menganggap tulisan ini berlebihan, tolong segera renungkan keberatan Anda. Rakyat, termasuk saya, Anda dan siapa saja yang tak punya akses kepada kekuasaan, di Indonesia ini tak akan pernah menikmati apa yang dinikmati rakyat di negara lain: Jaminan negara atas keselamatan diri. Karena pejabat negara lebih sibuk melayani dirinya sendiri, serta sibuk mengemas potensi-potensi wilayah untuk dijajakan kepada kelompok-kelompok penguasa modal dari berbagai negara lain. Kalau perlu dibuat semudah mungkin agar kelompok penguasa modal itu tertarik, dan tak perlu pula ragu-ragu mengorbankan ruang hidup, yang ujungnya adalah keselamatan kita semua, rakyat kebanyakan.

Negeri yang manipulatif dan penuh intrik ini berhasil membuat rasa muak rakyat pelan-pelan lenyap untuk kemudian mengkristal menjadi suatu keniscayaan hidup di Indonesia. Jika tidak kuat menjadi rakyat di Indonesia ini ya silakan hengkang, cari kehidupan di negara lain yang mungkin pelayanan negaranya lebih baik. Begitu kira-kira keberhasilan rakyat memanipulasi kepalanya sendiri untuk tidak perlu mencereweti kebobrokan-kebobrokan pengurusan negara ini.

Di penghujung tahun, rasanya tidak pantas bagi semua orang Indonesia untuk berpesta pora, merayakan sesuatu yang tak layak dirayakan: Menyambut kedatangan tahun baru. Apalagi untuk tetap ngotot berpesta, sambil menyelipkan ucapan, "Mari kita menundukkan kepala dan mendoakan para korban banjir dan longsor di Aceh dan Sumatra Utara...." untuk kemudian dilanjutkan lagi dengan hiruk-pikuk pesta yang sudah menjadi ritual menyambut tahun baru. Sungguh tak pantas....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

2 comments:

Anonymous said...

Arief, selamat Tahun Baru Pak! Sudah lama yah? I hope all is well with you and the family. Sampai jumpa.
Brian

Awicaksono said...

Hi Brian.. Apakabar? Long time no see. What's your email address anyway?

Arief