Tuesday, May 15, 2007

Dua Ekstrem, Dua Kutub Kebodohan

Awicaks

Menjadi warga negeri ini, terutama tinggal di lingkar Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, atau disingkat Jabodeptabek, yang pengucapannya sangat tidak mudah, kita disuguhi pilihan-pilihan sosial (dan politik) yang seringkali jauh dari akal sehat. Tanpa bermaksud mencakup potret Indonesia, dalam kehidupan sehari-hari saya bisa melihat dengan gamblang tumbuhnya semangat relijiusitas gelombang baru di kalangan orang-orang terdidik di kota-kota besar. Apa pun agama mereka. Dan di sisi lain, saya pun menangkap (juga dengan gamblang) proses peniruan skala kolosal gaya-hidup dan pola-konsumsi boros yang dipertontonkan oleh orang-orang dari berbagai kalangan, kelompok umur, jenis kelamin, dan bahkan juga mencakup sebagian dari orang-orang dari kutub relijius gelombang baru itu. Ada bidang-potong diantara kedua kutub tersebut.

Mungkin saya tidak perlu nyinyir mengomentari kedua kutub tersebut, sembari melanjutkan hidup secara bersama tanpa perlu merasa membangun hubungan (ko-eksistensi). Namun ketika kedua kutub tersebut sudah mulai lancang melanggar demarkasi cita-cita, keyakinan dan intelektualitas saya pun tak bisa tinggal diam. Amunisi serangan balik saya siapkan serapih mungkin. Tanpa maksud menggurui, tetapi sekedar menyentil telinga mereka, bahwa perbedaan adalah keniscayaan, dan mereka tidak perlu memperluas rentang lingkaran 'keanggotaan' mereka menjangkau orang-orang yang sudah merasa nyaman dengan ruang hidupnya. Saya pun tidak mengharapkan terjadi tumbukan-tumbukan tak perlu. Yang saya siapkan tak lebih dari siasat pertahanan diri belaka, utamanya melindungi anak-anak saya.

Baik kutub yang satu maupun kutub yang kedua, keduanya tak bisa melepaskan diri dari absennya akal sehat, selain semangat pamer pernik-pernik permukaan fisik mereka. Ekstrem yang satu tampil begitu bersemangat dengan tata-busana yang corak tradisinya entah dijemput darimana, tetapi yang jelas harganya tidak murah. Sementara ekstrem yang kedua lebih kurang tampil terbuka tanpa konteks, berharap merasa menjadi tokoh yang dianut, entah dipetik dari film impor Amerika yang mana. Maka saya adalah saya dalam situasi ini menjadi sangat penting. Menjadi penting pula pada setiap perdebatan dengan keluarga pada saat muncul bersama di ruang-ruang publik. Yang sulit adalah, batas-batas nilai kesopanan dan kepantasan di negeri ini begitu berantakannya. Ujungnya berakhir pada tampilan luar belaka. Karena memang hal tersebut yang dipajang dan dipertontonkan oleh mesin-mesin industri propaganda pers dan media. Pengkategorian ruang pamer pun terlihat jelas: Politikus, birokrat, tokoh dunia hiburan (yang sungguh tak masuk akal ditetapkan dengan istilah 'selebs'), tokoh agama, dan sebagainya..

Dua kutub ekstrem tersebut agaknya tak membutuhkan akal sehat, karena sudah memiliki sistem pendukung yang luarbiasa kuat: Gengsi...

Jakarta, 15 Mei 2007

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

No comments: