Monday, November 12, 2007

Museum Orde Baru

Awicaks

Meskipun Orde Baru sudah sepuluh tahun (di)tumbang(kan) toh mentalitas dan perilaku aparat Negara, terutama di sebagian besar wilayah-wilayah propinsi maupun kebupaten, tak mengalami perubahan mendasar. Pernyataan publik berikut jargon-jargonnya dan bahasa tubuh yang diperagakan masih kental rasa dan aroma Orde Baru-nya.

"Masyarakat itu kan tidak murni menuntut hak mereka. Mereka punya motif tersembunyi di balik protes-protes mereka...." Ujar seorang pejabat tinggi di satu kantor dinas propinsi di Sumatera di suatu hari Sabtu.

Saya hanya bisa mengelus dada. "Hari gini? masih ngomong macam itu"

"Itu coba lihat, orang-orang masuk keluar masuk wilayah kami. Mengambil foto dan film lalu menjelek-jelekkan propinsi kami ke seluruh dunia. Itu penghinaan terhadap bangsa Indonesia."

Saya kira orang itu terlalu sibuk menumpuk uang di pundi-pundi pribadinya hingga lupa melakukan refleksi bahwa nama Indonesia memang notorius. Kemewahan yang ia pamerkan di ruang tamu tempat kami berdiskusi tak akan mampu menyembunyikan indikasi tentang bagaimana ia, seorang pejabat propinsi yang tergolong paling miskin se-pulau Sumatera, bisa hidup semewah ini. Dan ia masih bisa bicara tentang penghinaan martabat bangsa?

Hal sama terasa dan terlihat ketika beberapa pejabat teras dipanggil untuk hadir di ruang tamu mewah ini. Bak raja jawa pejabat itu diperlakukan bawahan-bawahannya. Ada yang mirip gaya Harmoko, yang senantiasa minta petunjuk (saya sangat kagum dengan kemampuan akting pejabat teras itu), ada pula yang bicara dengan gaya Moerdiono, serba tak jelas, serba lempar tanggungjawab.

Seandainya saya punya kamera tersembunyi, dan seluruh lakon sandiwara berjudul "Museum Orde Baru" ini bisa direkam, saya kira ia bisa mengalahkan acara televisi Republik Mimpi.

12 November 2007


Selanjutnya.. Sphere: Related Content