Thursday, March 27, 2008

Kenaikan Harga Dorong Kriminalitas?

Awicaks

Membaca Kompas pagi ini sambil melaksanakan ritual pagi rasa mules malah bertambah. Yang membuat rasa mules menghebat pertama, lepas tangannya Negara dalam melindungi warga menghadapi rimba belantara pasar bebas mestinya kan sudah memperhitungkan pengaruhnya terhadap keselamatan warga. Mengapa harus menanti hingga seorang ibu membunuh anak kandungnya akibat derita tak kunjung putus karena tak mampu memenuhi kebutuhan harian serta gagal mewujudkan hidup berkualitas yang didambakan?

Kedua, takaran-takaran resmi kesejahteraan seakan-akan harus diperhadapkan dengan kemiskinan sebagai lawannya. Parahnya kesejahteraan dan kemiskinan diletakkan dalam ruang sebangun yang semata-mata bersifat ekonomik. Ia tidak memandang hal-hal mendasar seperti hak atas kehidupan yang belum tentu berurusan dengan hal-hal yang ekonomik. Sehingga warga didorong, lewat propaganda yang indoktrinatif tentang impian kemakmuran dengan takaran kemajuan berupa penguasaan dan kepemilikan atas materi, untuk mengabaikan keselamatan. Maka demi upah Rp 25.000 per hari seorang laki-laki muda rela bekerja bergelantungan di ketinggian 50 meter untuk membersihkan kaca gedung pencakar langit di Ibukota, tanpa mengenakan tali pengaman serta topi pelindung kepala.

Pesona kisah sukses orang-orang yang berhasil senantiasa diukur pada seberapa besar mereka berhasil menumpuk kekayaan. Sehingga harus disimpulkan, kebahagiaan berbanding lurus dengan tingginya tumpukan uang dan materi. Tak pusing apakah anak-anak orang itu jadi pemadat, tukang ngemplang utang di bank-bank Negara atau kelakuan minus lain. Kultur pers dan media yang cupet di negeri amburadul ini memperparah situasi. Polesan-polesan gincu dan pupur menjadi kewajiban untuk mewartakan sosok dan citra orang-orang berhasil. Kebusukan-kebusukan disembunyikan di kolong keset. Sementara orang-orang gagal dipertontonkan sebagai kriminal.

Kenaikan harga-harga mendorong meningkatnya kriminalitas? Pertanyaan itu saja sudah salah artikulasinya. Jika kita menyempatkan diri merenung setiap hari, kriminalitas lahir karena kegagalan orang-orang untuk mengakses dan meraih kemajuan materi, di bawah naungan kultur sosial, politik dan ekonomik yang mengedepankan penumpukkan kekayaan. Jika demikian, mestinya Forbes tidak hanya mendaftarkan orang-orang yang memiliki tumpukan kekayaan luarbiasa, tetapi juga menyelidiki dengan seksama bagaimana proses orang-orang itu mengumpulkan kekayaannya. Dengan kata lain, berapa besar harga yang diemban publik harus dicatat pada rekam-jejak sepak terjang mereka hingga menjadi superkaya. Ini penting untuk membuktikan bahwa paradigma (atau mungkin sudah pantas disebut agama?) hidup dengan takaran kemajuan material mesti dirombak total.

Di penghujung ritual pagi sambil membaca Kompas saya agak terhibur ketika melihat dan membaca foto melelehnya puncak salju di Antartika. Tetapi apakah orang-orang superkaya dunia membaca warta itu dengan mental reflektif? Atau malahan langsung memerintahkan tim R&D untuk segera mengkaji kemungkinan mereka mengungsi ke planet lain?

27 Maret 2008


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

No comments: