Monday, June 02, 2008

Nggole' Ambegan - Take A Break

Awicaks
Bahasa Jawa-nya, 'nggole' ambegan' atau tarik nafas sebentar. Ya, saya memutuskan untuk istirahat seminggu dari segala hiruk-pikuk pekerjaan yang telah mengocok adrenalin sejak awal Maret. Selama seminggu ini saya berencana menyelesaikan banyak hal yang selama ini terutang terhadap keluarga. Termasuk diantaranya melanjutkan naskah yang sejak 2002 saya tulis tetapi sulit untuk dipaksa menjadi naskah-akhir.

Dalam perjalanan Bangkok - Jakarta, yang cuma tiga jam itu, saya merenungkan banyak hal. Rasanya apa yang saya kerjakan tidak akan pernah ada habisnya, merujuk kepada keruwetan situasi negeri ini. Saat Konferensi TBLI Asia 2008 di Bangkok saya berkesempatan berkenalan dengan beberapa pelaku investasi dan industri serta perbankan dari berbagai negara, termasuk dari negeri sendiri. Saya berusaha keras memahami suasana batin dan jalan pikiran mereka lewat empati. Terus terang saya, yang tumbuh dan menimba banyak pengalaman hidup di lingkungan aktivisme serta riset-riset ekologi dan sumberdaya alam, sangat awam dengan kalangan usaha dan investasi.

Seorang konsultan investasi asal Amerika Serikat yang telah hidup di Bangkok selama lebih dari duapuluh tahun adalah salah seorang yang selama tiga hari berbincang intensif dengan saya. Dia mengaku menjadi pendukung organisasi saya sejak limabelas tahun lalu. Dan kerja-kerja kampanye organisasi saya senantiasa menjadi sumber inspirasi kerja-kerja profesionalnya dengan beragam klien.

"It's not easy to accept your confrontational message, but it always good as my wake-up call, since the border line between good and bad in investment world is as thin as a silk sheet," Ungkapnya terus terang. Ia telah malang melintang di dunia investasi tidak hanya di Thailand, tetapi juga Indonesia, Filipina, Singapura dan Malaysia.

Tentu saja hal itu menggelitik rasa ingin tahu saya, terutama terkait dengan krisis moneter 1997, yang telah meluluhlantakkan dan merombak bentang serta landasan ekonomi dan ekonomi-politik regional. Pertanyaan bodoh pada situasi ini seringkali ampuh untuk membuat orang sekaliber dia menjawab dengan dimensi yang lengkap. "So, what were you and where were you during the monetary crash of 1997 in the region then?"

Tanpa tedeng aling-aling dia bercerita tentang kelompok orang yang menangguk laba luarbiasa besar ketika terjadi krisis moneter tersebut. "That was a bonanza of the financial business," Ujarnya. Dia paham bahwa gelimang tersebut menjadi biaya bagi ratusan juta warga tak berwajah dan tak bernama yang hidup di Indonesia, Filipina dan Thailand ketika itu. "But, at least you got a phenomenal change in the political landscape of your country, didn't you?"

Yang saya suka berbincang dengannya adalah, sikapnya yang tidak menjilat. Dia tak perlu berpura-pura simpati dengan krisis yang dialami Indonesia, dan mengatakan terus terang bahwa dia memperoleh laba besar dari situasi tersebut. Tidak perlu jauh-jauh, ada banyak warga kelas menengah di kota-kota besar yang menangguk laba besar pula ketika kebanyakan warga harus pontang-panting memperoleh sembilan-bahan-pokok (sembako), atau warga yang kehilangan pekerjaan ketika perusahaan-perusahaan harus gulung tikar tak kuat menanggung beban akibat merosotnya nilai Rupiah terhadap Dollar AS.

Namun pelajaran penting yang saya peroleh dari berbincang dengnnya, juga dengan beberapa orang lain dari India, Cina, Jepang dan seorang petualang investasi asal Inggris yang tinggal lama di Hong Kong, ajaran ekonomi neo-klasik berikut semua turunannya memang sudah menjadi agama dunia. Turunannya yang dilihat para aktivis sosil, politik dan lingkungan sebagai instrumen kejam yang hanya peduli pada laju pertumbuhan dengan mengorbankan distribusi memang kenyataannya sudah dianggap sebagai hal lazim (taken for granted). Orang itu mengakui bahwa dia pun memiliki keprihatinan serupa, tetapi dia tidak punya keberanian untuk menjadi seorang martir, mengorbankan keluarganya.

Saya senantiasa tidak merasa pada posisi menilai sikap itu benar atau salah, tetapi kejujurannya membuat saya merenung panjang. Yang sering mengganggu saya adalah orang-orang seperti dia yang hipokrit dan melakukan penipuan massif lewat aksi-aksi filantropik mereka. Ketika hal tersebut saya ungkap, dia setuju.

"There always a lie behind philanthropic act. I don't buy-in to what-so-called corporate social responsibility, since it against, not only to social justice, but to the very nature of us being a business community."

Rujukan yang selama ini saya baca memang menunjukkan hal tersebut. Namun ini pertama kali bagi saya mendengar langsung dari pelaku. Dan ketika kami kongkow di sebuah pub dengan beberapa peserta dan pembicara lain, hal itu saya lontarkan. Meledaklah diskusi dan debat hangat sepanjang malam hingga menjelang pukul dua pagi. Pro dan kontra di kalangan mereka sendiri agaknya terwakili dari perdebatan malam itu. Saya sengaja meletakkan posisi sebagai seorang fasilitator yang netral. Saya menugasi diri saya untuk melontarkan petanyaan-pertanyaan kritis kepada kelompok itu.

Terus terang pengalaman singkat itu berpengaruh besar kepada saya. Saya memutuskan untuk beristirahat sebentar, dan berharap kembali ke organisasi dengan gagasan yang lebih segar serta berimbang. Saya merasa harus ada gebrakan di internal organisasi untuk mendorong kerja-kerja kampanye yang lebih jitu dan progresif dengan jangkauan pemahaman yang lebih luas...

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

No comments: