Friday, June 27, 2008

Sakaw Bandwidth - Antara Saya dan Internet

Awicaks

Apa yang pertama kali pasti saya lakukan begitu terhubung dengan saluran dunia maya? Tergantung. Tetapi saya cenderung untuk melakukannya sesuai urutan. Urutan yang rasanya, akhir-akhir ini, sudah menjadi satu rutin yang pelan-pelan mulai tertulis di otak sebagai pola biologik dan psikologik harian saya. Ketika pola tersebut tidak terjadi satu atau dua hari, saya pun gelisah dan kerap belingsatan (cranky) tak tentu. Terlebih jika saya sedang berada di suatu tempat yang tak memungkinkan mengoperasikan GPRS telepon seluler. Saya seperti mengalami sakaw (gejala psikosomatik orang yang ketagihan). Sakaw bandwidth.

Maka, begitu komputer saya terhubung dengan dunia maya beberapa peranti seketika akan bekerja dengan sendirinya, seperti Yahoo! Messenger dan Skype. Kemudian saya mulai membuka beberapa aplikasi, Eudora, Mozilla Thunderbird, Mozilla Firefox, dan Snarfer. Setelah itu setiap aplikasi akan bekerja sesuai tugas masing-masing secara otomatik. Eudora akan mengunduh surat-surat elektronik pribadi, Mozzila Thunderbird bekerja untuk surat-surat elektronik dinas, Mozilla Firefox langsung terhubung dengan Facebook, dan Snarfer langsung bekerja mengunduh berita-berita dari berbagai sumber menggunakan fasilitas RSS. Orkestrasi tersebut tidak akan berlangsung jika komputer jinjing saya tidak terhubung ke internet, apa pun caranya. Begitulah hidup saya akhir-akhir ini.

Tempat-tempat yang sudah pasti saya kunjungi selama berada dalam radius Jakarta - Bogor menyediakan akses ke internet. Di rumah dan kantor akses internet broadband membuat hidup sehari-hari bergerak mulus. Rute-rute di luar rutin, tetapi hampir pasti menjadi bagian pola psikologik dan biologik, juga menyediakan akses ke internet, seperti Sekretariat JATAM, Perkumpulan Kemala, toko buku QB di Kemang, dan Bakoel Koffie Cikini. Saya melakukan refleksi terhadap kebiasaan ini. Sejak kapan saya mulai mengidap semacam ketagihan ini, jika kebutuhan yang terpola terhadap internet bisa digolongkan sebagai sebuah bentuk ketagihan (addiction)?

Pertama kali berkenalan dengan internet, tahun 1995, saya memang sangat anthusias. Aktif mengikuti dan berdiksusi lewat beberapa mailing list, seperti Apakabar-nya John MacDougall dan lainnya. Pada masa itu saya belum begitu berminat terhadap situs internet. Selain karena beban pekerjaan yang menuntut saya banyak melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah di Indonesia Timur, yang tentu saja belum menyediakan kemudahan teknologi komunikasi seperti yang dapat diperoleh relatif mudah pada masa itu di Jakarta. Bagi saya, pada masa itu, situs internet tak lebih dari sekedar brosur. Satu-satunya tipe situs internet yang relatif rajin saya kunjungi adalah situs-situs berita, yang saat itu masih dikuasai media-media Amerika Serikat, Kanada dan Eropa. Situs-situs berita Indonesia belum banyak, Kompas, Tempo Interaktif dan Suara Pembaruan tergolong awal pada masa itu. Detik.com kemudian menyusul menjadi penyedia berita yang selalu saya baca.

Pada kurun 1996 - 1997, ketika rejim Suharto mulai agak terhuyung-huyung, internet, terutama mailing list, merupakan alat komunikasi yang ampuh untuk saling menghubungkan diri dengan orang-orang yang berbagi kegelisahan dan kemarahan. Apakabar-nya John MacDougall memiliki peran penting dalam kehidupan saya pada kurun waktu itu. Saking aktifnya, saya pernah, untuk beberapa saat, membantu John menjadi pengirim berita (poster).

Sejak Yahoo! menyediakan ruang bagi siapa pun untuk mencipta dan mengelola mailing list, mailing list tumbuh pesat. Saya membangun beberapa mailing list. Salah satu diantaranya adalah mailing list posko-api, yang saya buat merespon kebakaran hutan dan kekeringan parah pada 1997. Karena bencana kebakaran hutan dan kekeringan begitu melekat dengan kerapuhan dan kebobrokan tata-kelola (governance) birokrasi Negara, rangsangan oleh gejolak ekonomi global pun memblejeti wajah sesungguhnya kesehatan keuangan dan ekonomi Indonesia, yang kemudian mendorong timbulnya gejolak politik. Kiriman berita atau pesan bersilang tak terhindarkan. Dengan semangat membagi informasi seluas-luasnya, tulisan atau berita dari Apakabar seringkali muncul di mailing list posko-api, demikian sebaliknya. Saat itu saya sudah mulai merasakan gejala ketagihan bandwidth. Membaca gagasan-gasaan dan debat serta berdiskusi di Apakabar dan posko-api menjadi suatu kebutuhan penting.

Ngobrol atau chatting lewat internet, atau instant messaging, kemudian menjadi salah satu daya tarik yang membuat kehidupan saya semakin mengikatkan diri ke internet. Kendati demikian peran surat elektronik tetap tak tergantikan, meski chatting kemudian menjadi menu tambahan ketika saya, yang diwakili oleh komputer jinjing, terhubung dengan internet. Chatting menggunakan MSN pada sekitar awal-awal tahun 2000 menjadi alat komunikasi resmi terkait dengan pekerjaan saya pada sebuah organisasi jejaring regional Indo-Pasifik. Conference chatting dimungkinkan, sehingga fasilitas tersebut sangat membantu menanggulangi beban biaya teleconference yang saat itu masih mengandalkan jejaring telepon dan biayanya sangat mahal (sekarang pun masih mahal, tetapi secara proporsional masih relatih lebih murah).

Perubahan sangat cepat, yang membuat keterikatan saya dengan internet menjadi semakin menjadi-jadi ketika terjadi bencana tsunami Aceh, Desember 2004. Meski terlibat sangat sedikit dalam kerja-kerja kemanusiaan, tingginya kebutuhan untuk menghubungkan Aceh yang luluh lantak dengan dunia luar membuka peluang dilakukan tindakan-tindakan terobosan apa pun. Gerak cepat kawan-kawan dari komunitas Air Putih mendirikan stasiun darurat pembangkit saluran internet di Aceh memberi makna tersendiri bagi saya. Ketika saya melakukan riset kebijakan terhadap upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias pada kurun awal hingga pertengahan 2005, Banda Aceh saat itu boleh dibilang merupakan kota yang dilengkapi fasilitas internet kecepatan tinggi. Ketagihan bandwidth semakin menjadi-jadi. Kongkow di mana pun di Banda Aceh, akses ke internet selalu tersedia. Penggunaan internet pun tak lagi sebatas pada surat elektronik, menelusuri dan mencari data, membaca berita atau ngobrol, saya mulai berkenalan dengan blog serta layanan internet berjejaring dan partisipatif, seperti del-icio.us, LibraryThing, Friendster, Flickr dan sebagainya. Bahkan Google pun semakin memikat dengan layanan perkantoran online-nya.

Mengelola blog, berjejaring lewat situs-situs social networking plus situs-situs media online, seperti YouTube, Metacafe, semakin menambah menu ketagihan saya terhadap internet. Ketagihan semakin menjadi-jadi ketika saya berkenalan dengan Facebook. Kawan masa sekolah saya, Frederik Rotty, adalah salah seorang yang bertanggung jawab atas ketagihan saya terhadap Facebook. Facebook, yang kemudian saya ketahui ternyata memiliki peran penting pada kampanye Senator Barrack Obama selama bersaing dengan Hillary Clinton, menjadi ajang rekreasi baru bagi saya. Facebook menghubungkan kembali saya dengan banyak kawan lama. Tak hanya itu, Facebook saya gunakan untuk melakukan kampanye Moratorium Pengrusakan Lahan Gambut serta kasus Lumpur Lapindo.

Di titik ini, saya mulai melakukan refleksi, seberapa besar ketagihan saya terhadap internet mengganggu pekerjaan. Sulit sekali untuk melakukannya, karena internet memiliki kemampuan melelehkan sekat-sekat pembatas antara pekerjaan, minat, keterpanggilan sosial dan politik, serta kegemaran pribadi. Jika dilihat dari konsumsi waktu, saya bisa dikatakan sudah mulai ketagihan internet. Burukkah hal itu? Tentu, jika ketagihan itu membuat kacau prioritas. Dan saya pernah merasakannya. Tarik-ulur bagi saya kemudian menjadi pilihan penting untuk mengatur kembali konsumsi waktu terkait dengan internet. Ada banyak hal yang luput, salah satunya adalah produktifitas saya dalam menulis.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content