Monday, October 27, 2008

Robohnya Berhala Sejagat (Iya kah?)

Awicaks

Ketika gonjang-ganjing keuangan di Negeri Paman Sam(suri) terjadi, saya bertanya-tanya, "Sekarangkah saatnya? Inikah wujud bangkrutnya kerakusan, ketamakan, keangkuhan dan kedigjayaan kepitalisme sejagad? Terlebih ketika seorang Bush Junior dengan nada patriotik mengiba-iba di depan Kongres demi mengucurnya dana talangan. Dimana gerangan sosok neo-liberalisme nan mahaperkasa, ketika terbukti pasar (berikut kerakusan korporasi) ternyata masih membutuhkan campur-tangan Negara, dan lebih memalukan lagi, ia membutuhkan subsidi dari dana publik. Benar kah mimpi akan terwujud segera?

Air panas di termos sedianya sudah siap untuk menyeduh secangkir kopi yang tak terlalu manis dan tak terlalu pahit, cukup untuk membuat pagi menjadi pembuka hari yang penuh warna. Namun pikiran yang sudah sedemikian terlatih untuk selalu bercuriga, ragu dan penuh pertanyaan, membuat saya mengurungkan niat membuat kopi. Sekelebat pertanyaan memaksa saya terduduk, apa betul gonjang-ganjing di Amerika Serikat yang mulai merayap ke jazirah Eropa memiliki dampak sedahsyat robohnya Tembok Berlin atau ambruknya sang Tirai Besi, Uni Sovyet?

Saya kira saya harus menepis mimpi di siang bolong ini. Saya pikir, para juragan peperangan (warlords) beserta seluruh jejaring pemasok amunisi, bahan bakar dan minyak pelumas, serta investasi-investasi strategik yang senantiasa membutuhkan perang, tidak mau bangun kapitalisme sejagad rontok begitu saja. Mereka sangat membutuhkannya. Tanpanya tak ada lagi proyek-proyek perang, yang memiliki daya pengaruh pengganda (multiplier effects) luar biasa, dari proyek-proyek kemanusiaan hingga proyek-proyek penciptaan kerangka kebijakan ekonomik atas nama kegawatan dan kedaruratan situasi.

Tak perlu jauh-jauh ke Amerika Serikat, Eropa atau lorong-lorong berusia ratusan tahun dingin di negara-negara Eropa Timur, di Indonesia pun saya kira kelompok serupa berkepentingan untuk melestarikan hak-hak istimewa kuasa modal dan kuasa politik di atas darah dan airmata warga, dengan berusaha all out at any costs untuk menyelamatkan kapitalisme (sejagad). Mungkin para calo tanah, yang punya bocoran informasi arah pengembangan suatu wilayah, juga tak akan rela menghentikan praktik penyerobotan tanah dan menumpuknya demi menyambut pembangunan perkotaan yang begitu marak di Indonesia.

Akhirnya saya putuskan membuat kopi pahit. Sepahit-pahitnya. Saya butuh teman diskusi, rupanya....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, October 26, 2008

Bahan Galian, Bahan Keruk, dan Potret Dehumanisasi di Pelosok

Awicaks

Penasaran oleh gencarnya berita-berita di koran-koran utama, saya pun menonton film Laskar Pelangi. Saya belum membaca novel yang ditulis oleh Andrea Hirata itu. Yang membuat saya tergelitik menonton adalah rasa penasaran saya untuk melihat (meski sedikit), bagaimana potret sebuah pulau kecil (Pulau Belitung, meskipun tidak sesuai dengan definisi UNESCO saya tetap menggolongkan pulau ini sebagai pulau kecil, karena daya dukung lingkungannya yang serba terbatas) yang digali dan dikeruk hingga luluh lantak, bahkan hingga rontoknya kuasa modal si penggali dan pengeruk?

Meski sedikit dan terbatas, film ini menampilkan dengan baik hasil ikutan yang tak terhindarkan serta tak pernah diakui secara terbuka oleh Negara dan para pelaku pertambangan: Potret dehumanisasi orang-orang yang tinggal di lingkar wilayah galian. Gelontoran ampas galian (tailing) yang sudah tentu dibuang ke laut menyebabkan Ayah Lintang harus melaut lebih jauh, karena komposisi komunitas ikan-ikan tentu terpengaruh olehnya. Bahkan Lintang harus kehilangan sang ayah dan memaksanya menghentikan langkah-langkah kecilnya menuju cita-cita nan akbar. Serba sedikit, bahkan mungkin tanpa niatan tertentu, praktik pertambangan di Pulau Belitung nyata-nyata melibatkan buruh anak-anak. Sebuah tolok ukur terdepan dari kejadian dehumanisasi (pemerosotan martabat manusia).

Orang-orang yang menikmati sudah pasti berkilah, "Kami menghidupkan ekonomi setempat. Warung-warung marak, orang-orang dapat kerja, dan sebagainya. Bandingkan jika bahan berharga itu tidak digali dan tidak dikeruk, pulau itu tentu tetap terbelakang...."

Kemegahan hasil ikutan, seperti ekonomi setempat, akan sirna bersamaan dengan menyusutnya jumlah bahan galian dan bahan keruk. Ia tak seperti pohon, yang bisa ditanami ulang. Bahan galian dan bahan keruk akan lenyap selama-lamanya ketika ia dikeluarkan dari ceruk-ceruk perut bumi. Tak akan pernah ada konsep pemulihan, karena praktik pertambangan adalah merombak bentang alam, bentang sosial dan bentang budaya setempat. Ia adalah kegiatan manusia yang sekali dimulai tak akan pernah ada titik untuk kembali. Berapa besar keuntungan moneter Negara dari kegiatan tersebut? Jika ia digolongkan sebagai salah satu sektor pembanguna, mestinya ia menyejahterakan warga. Kenyataannya justru dehumanisasi yang terjadi. Ketika kuasa modal nan angkuh hengkang dari wilayah galian, warga setempat akan mengais-ngais ampas.

Pertambangan itu ibarat orang buang air besar yang tidak menyiram ampas mereka. Dibiarkan begitu saja. Tinggal orang-orang yang menggunakan setelahnya yang sengsara oleh busuknya bau ampas orang itu. Di penghujung film, Ikal dewasa dengan narasinya menjelaskan, bahwa kemegahan di masa kecil di pulau itu lenyap seiring dengan habisnya bahan galian dan bahan tambang, serta robohnya tiang-tiang penyangga kuasa modal di balik operasi raksasa itu.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Saturday, October 04, 2008

Label Halal atau Label Bebas Racun?

Awicaks

Melamin dalam susu kemasan, plastik pada kudapan gorengan di pinggir jalan, formalin yang umum digunakan untuk mengawetkan mayat menjadi andalan pedagang untuk menjaga umur bahan pangan yang dijualnya baik itu ikan laut, tahu, tempe dan sebagainya, parafin atau bahan lilin digunakan untuk membuat tampilan buah apel merah merekah dan menarik pembeli, boraks digunakan untuk perekat bakso, bahkan merkuri menjadi bahan dasar bahan-bahan kosmetika murah. Mungkin daftar itu bisa lebih panjang lagi. Sekedar mengingatkan, bahwa orang di Indonesia hidup tanpa jaminan perlindungan keselamatan baik sekarang maupun bagi generasi ke depan, akibat bobroknya tatak-kelola penyelenggaraan Negara yang membiarkan (omit) warga Indonesia hidup di bawah asuhan bahan-bahan beracun. Belum terhitung pengemasan-ulang (refurbish) bahan makanan kadaluwarsa agar dapat dijual di pasar.

Raj Patel dalam bukunya, Stuffed and Starved, memaparkan bahwa tata-niaga industri makanan dunia semakin hari cenderung mengabaikan keselamatan konsumen, terutama terkait dengan produk makanan massal, atas nama jaminan keamanan dan keselamatan produksi dan distribusi. Dengan sinis ia mengatakan, hanya orang-orang kaya yang berhak menikmati makanan lezat, sehat dan bebas dari pengaruh bahan-bahan beracun. Konteks racun pada paparan Patel tidak seharafiah yang kita hadapi di Indonesia. Ia mengacu kepada bahan-bahan yang memiliki dampak pada metabolisme tubuh jangka menengah dan panjang serta kumulatif, seperti bahan-bahan karsinogenik (pemicu kanker), kandungan kholesterol tinggi, natrium tinggi, serta bahan-bahan kimia yang mampu menjamin merosotnya daya pikir manusia. Patel pasti akan menulis buku baru jika ia kerap menonton Reportase Investigasi yang disiarkan TransTV.

Akibat tipisnya batas-laba (profit margin) pedagang-pedagang kecil yang menjajakan produk makanan massal menghalalkan segala cara demi menambah nilai pendapatannya meski cuma serupiah. Boro-boro memkikrkan keselamatan konsumen, mereka pun mesti menjamin ada nasi dan lauk-pauk di atas meja di rumah mereka, akses ke layanan kesehatan serta biaya pendidikan yang makin hari makin membengkak meski sudah ada Bantuan Operasi Sekolah (BOS). Mungkin bagi para pedagang tersebut yang penting barang yang mereka jual bebas dari bahan-bahan yang digolongkan haram. "Biar racun yang penting halal...."

Seringkali saya gemas dengan prinsip-prinsip kebijakan yang dogmatik terkait dengan bahan makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Orang lebih pusing memilih label halal daripada keamanan makanan. Mestinya label halal tidak hanya mencakup soal bahan-bahan mengandung daging atau produk turunan dari babi, tetapi juga mencakup bahan-bahan beracun berbahaya bagi kesehatan manusia. Masih ingat bagaimana produk bermerek dagang Ajinomoto kolaps akibat selentingan (yang kemudian konon telah dibuktikan secara ilmiah) yang menyebutkan bumbu penyedap tersebut mengandung lemak babi? Tanpa berkehendak membela mereka dagang itu, bumbu penyedap tersebut semestinya dilarang bukan hanya karena argumen lemak babi tetapi juga karena mengandung monosodium-glutamat (MSG), yang terbukti secara ilmiah mampu menjami kemerosotan daya pikir manusia, jika ia dikonsumsi sejak masa kanak-kanak.

Dimana para pejabat penyelenggara Negara ketika menghadapi maraknya pembelejetan-pembelejetan ketidakamanan bahan makanan yang dikonsumsi warga? Seperti biasa, mereka akan melakukan tindakan-tindakan kasuistik yang tak cerdas. Mencari penjahatnya, menindaknya secara hukum, tanpa ada keinginan se-inchi pun untuk membongkar total bobroknya tata-kelola distribusi bahan makanan dan bahan-bahan kebutuhan pokok. Bagaimana reaksi mereka terhadap sinyalemen kandungan melamin dalam susu kemasan yang diimpor dari Cina? Sikap defensif yang sama diperlihatkan penyelenggara Negara ketika seorang peneliti menemukan kandungan bakteri pada susu kemasan yang beredar luas di pasar dan telah mendapatkan sertifikasi aman dari Departemen Kesehatan. Atau soal flu burung? Atau sapi gila?

Jika kita membaca buku Raj Patel maka akan terlihat kaitan erat antara maraknya makanan-makanan kemasan, tata-distribusi bahan makanan, maraknya waralaba toko-toko eceran, meningkatnya laju pemberangusan petani-petani kecil atas nama upaya membuat mereka "naik kelas" menjadi buruh dari industri pertanian skala besar, dan lainnya, yang hakekatnya berputar-putar pada persoalan menggenjot angka-angka pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan satu indikator mahapenting: Daya beli penduduk! Entah ini adalah buah suatu kebijakan yang tolol yang mendorong konsumerisme skala raksasa di sekujur negeri, atau suatu kesengajaan untuk menciptakan warga yang bodoh dan patuh kepada kelas penguasa?

Selanjutnya.. Sphere: Related Content