Sunday, December 21, 2008

Keselamatan Itu Mahal! Jaga Diri Baik-baik...

Awicaks

Mahal yang saya maksud bukan perkara nilai moneter biaya, tetapi karena absennya sarana publik penunjang yang dirancang dan dibangun untuk sedapat mungkin menjamin keselamatan warga. Pada akhirnya diri sendirilah yang harus mengusahakannya, karena tak ada gunanya menunggu tampilnya orang-orang yang (kabarnya) disebut pemimpin untuk mengupayakan jaminan tersebut. Dan struktur pendukung, berupa kebijakan Negara, pun memang tidak disediakan, kecuali ia disatukan sebagai layanan publik yang berbayar secara progresif. Semakin besar bayarannya, semakin baik pelayanannya. Meskipun untuk kasus Indonesia rumus linear itu tak selalu berlaku.

Saya seringkali kesal jika harus mengeluarkan biaya untuk membayar premi beberapa asuransi sekaligus. Ini sebuah dilema bagi saya. Di satu sisi, saya paham betul bagaimana peran perusahaan jasa asuransi sebagai alat penyedot dana publik paling efektif, sementara di sisi lain saya menyadari bahwa saya harus melindungi diri seefektif mungkin jika tidak ingin runyam hidup di negeri amburadul macam Indonesia. Jika kebetulan selama masa berlakunya polis asuransi saya tidak mengalami masalah kesehatan serius, saya hanya bisa mengumpat, atau minimal mengurut dada, melihat uang saya melayang begitu saja masuk ke pundi-pundi perusahaan jasa asuransi.

Ada pilihan lain, yakni hidup dengan pola yang sehat. Ini lebih mahal, menurut saya. Mahal secara fisik dan mahal secara mental. Ada beberapa ketelanjuran pola hidup tak sehat yang sulit sekali (secara mental) untuk ditinggalkan, seperti merokok, pola makan tanpa pantangan, atau berolahraga secara tak teratur. Saya pernah mencobanya, tetapi justru saya mengalami sakit secara mental. Saya merasa tidak semerdeka yang saya inginkan. Saya seperti hidup dalam kekhawatiran. Tetapi saya paham bahwa seiring bertambahnya umur daya tahan tubuh tak bisa lagi dibohongi dengan pikiran-pikiran sugestif, "Tenang saja, saya akan baik-baik saja...." Inila satu-satunya tantangan terbesar dan terberat. Menaklukkan diri sendiri untuk mulai hidup dengan pola yang sehat.

Saya baru saja pulang menjenguk adik ipar, yang kini terbaring di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Ia yang selama ini hidup di bawah naungan obat pengendali tekanan darah, harus menerima kenyataan efek samping perawatan tersebut, berupa gagal ginjal. Memang itu bukan efek samping yang muncul begitu saja. Mestinya ada predisposisi yang mempermudah timbulnya gagal ginjal, seperti intensitas minum air tawar. Atau mungkin karakter khas metabolisme tubuhnya. Saya hanya bisa prihatin. Usianya masih muda tetapi sudah harus menjalani proses cuci darah (hemodialisis) secara teratur, hingga dokter memutuskan ia bisa terbebas dari proses tersebut.

Sepanjang perjalanan pulang saya merenung. Saya merasa masa-masa memanjakan kemerdekaan diri saya harus mulai dibatasi. Hidup di Indonesia mesti pandai menjaga diri. Tetapi saya harus mulai darimana? Wah, ini yang sulit diputuskan....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

No comments: