Friday, February 15, 2013

Mudharat Politik, Politik Mudharat

Beberapa bulan absen mengisi ‘titikdidih’ bukan berarti saya berhenti berpikir dan gelisah. Meski sedikit terhibur oleh sepak-terjang Jokowi-Ahok tetapi panggung politik nasional bagi saya tetap dagelan yang semakin hari semakin terlihat bodoh dan jauh dari lucu, karena penghinaan dan pengabaian terhadap keselamatan warga semakin kasat dipertontonkan bahkan oleh orang nomor satu di republik ini serta elit-elit kaya penguasa partai politik!

Awicaksono
Empat tahun tidak peduli terhadap Lapindo, meski serangkaian unjuk rasa oleh warga korban terus menerus dilakukan tepat di depan Istana Negara: Di depan hidung sang kepala negara! Kemudian sebuah tontonan tak elok dipertontonkan oleh sang kepala negara, menggunakan Lapindo sebagai alat kampanye tanding terhadap serangan bertubi-tubi ke arah dirinya dan Partai Demokrat dari berbagai arah, baik oleh partai lawan maupun kelompok-kelompok pengail di air keruh. Inilah mudharat politik Indonesia: Elektabilitas menjadi tuhan baru kalangan politisi! Apa pun dilakukan untuk menjatuhkan elektabilitas lawan. Tetapi apakah warga peduli terhadap elektabilitas sama hebohnya kalangan elit politisi Indonesia?

Politik di Indonesia adalah panggung bagi orang-orang tak tahu malu. Para pencari peluang dan petualang demi pengayaan diri yang dilakukan menggunakan perangkat organisasi partai politik. Politik di Indonesia identik dengan maraknya baliho yang memajang wajah para tak tahu malu tadi serta menggairahkan bisnis digital printing, yang ternyata mampu menjangkau bahkan daerah terisolir yang kondisi infrastrukturnya sangat memprihatinkan. Komodifikasi sistematik tetapi dangkal dan bodoh dilakukan secara religius. Penggunaan singkatan untuk mewakili nama para kandidat seperti menjadi rumus umum yang selalu terpampang pada baliho-baliho kampanye politik.

Baku-cungkil, meminjam istilah masyarakat Minahasa, di kalangan pelaku politik pun menjadi santapan empuk media massa yang sangat industrial. Skandal adalah good news! Tertangkap tangannya Ibas Yudhoyono mangkir dari Sidang Pleno DPR setelah membubuhi tandatangan pada daftar hadir menjadi sasaran empuk media massa industrial yang saat ini begitu lekat dengan para elit partai politik. Apa perdebatan yang timbul dari perang media tersebut? Sekali lagi ancaman terhadap kemerosotan elektabilitas! Mudharat politik di Indonesia! Maka serangan balik yang diambil pun tidak keluar dari koridor yang jauh dari cerdas itu: Mengungkit Lapindo!

Satu-satunya hiburan bagi saya saat ini adalah dengan mengikuti sepak-terjang Jokowi – Ahok. Pasangan pemimpin ibukota negara ini adalah setitik air di gurun pasair kehidupan politik penyelenggaraan negara Republik Indonesia. Pasangan tersebut mengajarkan kita semua bahwa ukuran tanggung jawab penyelenggara negara adalah keselamatan warga. Bukan keselamatan partai politik, kelompok, golongan dan bahkan diri pribadi. Sikap tanpa beban atau nothing to lose seperti yang didemonstrasikan Jokowi – Ahok hanya mungkin jika orang itu memang tidak berutang apa pun atau tidak menyembunyikan sisi-sisi gelap diri dan kehidupan mereka.

Transparansi dan integritas bukan selembar pakta yang ditandatangani pada sebuah upacara yang dihadiri oleh para pewarta dan juru foto. Tetapi transparansi dan integritas adalah kualitas karakter pribadi orang-orang yang berani mengambil tanggungjawab untuk mengurusi publik. Inilah yang musykil terjadi karena sebagian besar kalangan politikus memang sengaja menjerat diri dan membelitkan diri mereka pada sirkuit-sirkuit keuangan demi menggelembungkan citra positif di hadapan publik…..

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

1 comment:

januar surya said...

keren artikelnya, mantap.

www.kiostiket.com