Awicaks
Di Amerika Serikat (AS), yang katanya adalah negara adidaya, lokomotif demokrasi dunia serta tempat modal-modal besar bergolak, jaminan pelayanan kesehatan buat warga biasa ternyata tak kalah buruknya dibanding di Indonesia. Bedanya, kalau di Indonesia kualitas pelayanan kesehatan bagi khalayak rendah karena korupnya sistem pengurusan dan mentalitas pengurusnya. Sedangkan di AS, jaminan pelayanan kesehatan dikorbankan atas nama keserakahan penguasa modal. Sicko menggambarkannya dengan gamblang.
Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan diri saya, karena saya pun memegang beberapa polis asuransi dari perusahaan-perusahaan ternama, Manulife, Cigna, dan ING. Jelas yang dipaparkan Michael Moore lewat Sicko bukan isapan jempol. Testimoni beberapa dokter yang pernah bekerja di perusahaan-perusahaan asuransi besar di AS sungguh membuat ciut. Juga para petugas pelayananan klaim asuransi. Tugas mereka adalah, "Tidak membuat perusahaan merugi, karena harus mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan para tertanggung." Gila!
Pertanyaan saya sederhana saja. "Apakah hal serupa juga berlaku di perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia?"
Asuransi didefinisikan sebagai pengalihan resiko atau kerugian yang adil dari satu entitas ke entitas lain, sebagai bentuk pertukaran dari pembayaran premi. Tapi banyak orang meyakini bahwa perusahaan asuransi hanyalah salah satu bentuk bisnis pencari laba yang tidak memiliki kepentingan dalam menjamin keselamatan pelanggannya.
Mereka berargumen bahwa tujuan asuransi adalah menyebarkan resiko sehingga keberatan perusahaan asuransi untuk menanggung kasus-kasus beresiko tinggi menjadi prinsip-prinsip dasar pembayaran klaimnya. Semakin besar resiko, semakin besar pembayaran preminya, atau bahkan berpotensi ditolak pada saat baru pada tahap aplikasi. Karena perusahaan asuransi senantiasa melengkapi dirinya dengan klausul-klausul pembatasan yang cukup banyak. Bisa berupa pembatasan waktu, cakupan dan jenis resiko, dan sebagainya.
Pelayanan pelanggan (customer service) juga menjadi masalah bagi para pemegang polis asuransi. Sulit untuk berdialog atau berdiskusi dengan pihak-pihak perusahaan yang punya akses langsung ke pengambilan keputusan ketika pemegang polis menghadapi masalah. Seringkali pemegang polis hanya akan diperhadapkan dengan petugas-petugas yang sudah dilengkapi dengan jawaban-jawaban baku. Saya pernah mengalami hal ini. Ketika saya ajak berdebat, petugas tersebut hanya akan merujuk kepada terbatasnya wewenang yang ia miliki. Bahkan ketika saya mendatangi kantor asuransi, yang saya hadapi adalah segerombolan tenaga pemasar (marketing staff).
Hikmah yang saya petik setelah menonton film paling anyar Michael Moore, Sicko, "Negara sangat diuntungkan oleh kehadiran perusahaan jasa asuransi. Pertama mereka membayar pajak. Kedua, mereka mendinamisir pasar uang dan modal, dimana sebagian besar perusahaan asuransi mencari laba. Ketiga, meringankan tanggungjawab negara untuk menjamin pelayanan kesehatan warga."
22 Juli 2007