Showing posts with label book review. Show all posts
Showing posts with label book review. Show all posts

Saturday, July 05, 2008

Rogue Economics - Kabar Buruk dari Loretta Napoleoni

Awicaks

Ini bukan situasi either or. Kalau bukan yang ini tentu yang itu. Tetapi Loretta Napoleoni, yang terkenal karena risetnya tentang aliran uang di balik terorisme dan kaitannya dengan perusahaan-perusahaan perbankan dunia, Terror Incorporation, begitu cermat memaparkan reaksi berantai sejak Gorbachev mencanangkan Prestorika, dirobohkannya Tembok Berlin, serta transformasi paradigmatik politik-ekonomi Cina, dalam buku terbarunya, Rogue Economics.

Yang menarik, yang ia paparkan bukan tentang ekonomi=bawah-tanah (underground economics), seperti halnya pencucian uang. Yang ia paparkan justru keterkaitan ekonomi resmi dan legal dengan maraknya aliran perempuan-perempuan cantik asal wilayah-wilayah bekas Uni Soviet ke Eropa Barat, Amerika Serikat, ke negeri-negeri para raja minyak di Asia Tengah, dan bahkan menjadi pemasok yang ajeg bagi Isreal.

Mungkin bagi Napoleoni masalah tata-kelola (governance) seperti suap, korupsi, sudah bukan lagi persoalan se-horror rogue economics. Napoleoni justru menyorot bagaimana kelompok mafia, seperti mafia Rusia, Italia, memasuki ajang bisnis legal, dengan dua kekuatan karakter utama mereka dibandingkan perusahaan-perusahaan pada umumnya: Loyalitas dan keberanian, yang senantiasa berurusan dengan tindak kekerasan yang keji. Sistem akuntansi dunia serta resep-resep jitu lembaga-lembaga keuangan internasional justru telah menyediakan sarana-sarana penting bagi kelompok-kelompok ini.

Bagaimana dengan negeri sendiri? Hamzah Haz, semasa menjabat Wakil Presiden pernah mengutaarakan sinyalemennya tentang ekonomi-bawah-tanah di Indonesia yang telah berlangsung lama, yang menurut dia putaran kecepatan dan nilai uangnya jauh lebih besar dibandingkan yang resmi. Meski tak mengungkapkan nilai kerugian resmi Negara akibat ekonomi-bawah-tanah itu Hamzah mengisyaratkan kerapuhan tatanan ekonomi-politik negeri ini.

Menjadi menarik ketika pernyataan itu dipersandingkan dengan hasil riset Napoleoni, dimana kecenderungan para pelaku ekonomi-bawah-tanah memasuki domain resmi dan legal terus menguat.

Menggunakan kerangka pikir Napoleoni, arus perpindahan orang dari kampung-kampung ke kota-kota besar sepanjang masa Orde Baru mestinya bisa dilihat sebagai gejala rogue economics. Apalagi pengiriman buruh secara massif ke negara-negara Asia Barat serta negara-negara tetangga yang lebih makmur seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam juga Hong Kong. Argumen dasarnya adalah lenyapnya jaminan penguasaan atas sumber produksi, terutama tanah.

Petani bercocok tanam di kampung sebagai produsen dan orang kota sebagai konsumen sudah menjadi dongeng pengantar tidur yang selalu digelayuti mimpi buruk. Perambahan industri rakus-tanah (land hunger industries) ke kampung-kampung pelan-pelan dianggap sebagai suatu kelaziman dari perkembangan sebuah negara moderen. Proses perambahan itu sendiri melibatkan berbagai pelaku, baik pelaku resmi seperti petugas dan pejabat kantor-kantor Negara serta pihak-pihak yang menangguk laba dari transaksi perpindahan dan pengalihan hak atas tanah.

Ada suatu masa ketika istilah mafia tanah banyak dibicarakan orang. Jalinan itu melibatkan pelaku-pelaku resmi seperti para kepala desa atau kepala kampung, camat, petugas kantor pertanahan, bahkan praktisi hukum yang berurusan dengan transaksi jual-beli tanah. The non-state bad guys tampil sebagai usahawan yang bisnis utamanya adalah menjual jasa, baik berupa jasa memuluskan pelepasan hak, jasa meredam keresahan sosial, hingga jasa pengamaman proses perpindahtanganan.

Bergeser dari seorang dengan hak atas sumber produksinya sendiri menjadi orang yang menggantungkan sumber produksinya kepada pihak lain (menjadi buruh bagi majikan) dikerangkakan seakan-akan adalah hal yang lazim bagi sebuah negara moderen. Bahkan M. Jusuf Kalla terang-terangan mengatakan, bahwa petani yang kemudian masuk ke lingkar industri adalah suatu proses naik kelas. Ia tak menyebutkan, sebagai apa petani yang melepas tanahnya itu memasuki lingkar industri.

Saya teringat kepada seorang pejabat di sebuah kantor Negara di Jakarta yang sangat berpengaruh dalam urusan bagi-habis dana Negara lewat anggaran rutin dan proyek. Ia mengungkapkan kegundahannya tentang kesulitan menyimpulkan tingkat pendapatan rata-rata penduduk Indonesia. "Sulit untuk menetapkan tingkat pendapatan rata-rata petani, karena sifatnya yang tidak tentu. Kalau gagal panen, yaa pasti pendapatannya merosot. Tidak gampang menerjemahkan fluktuasi pendapatan yang oportunistik itu menjadi angka-angka yang kami butuhkan untuk menyusun kebijakan ekonomi makro."

Rumus suatu kelzaiman dari karakter negara moderen sangat kuat merasuki struktur berpikir. Petani dan nelayan adalah kelompok yang tidak memiliki nilai pendapatan yang pasti, seperti halnya seorang pegawai dengan slip gaji yang diterima setiap awal bulan. Penjumlahan lurus nilai slip gaji warga adalah angka yang dibutuhkan untuk menampilkan tolok-tolok ukur ekonomi makro, agar Indonesia bisa berurusan dengan lembaga-lembaga keuangan multinasional dan bilateral, baik untuk urusan memperoleh bantuan (yang sesunggguhnya sama sekali tidak gratis) dan pinjaman.

Refleksi lain setelah membaca buku Napoleoni terutama menyangkut tata-kelola (governance) negeri ini yang ujung dan pangkal kebobrokannya sudah susah ditelusuri. Kalau lubang yang ini ditutup, maka lubang yang lain akan menganga lebih lebar.

Amerika Serikat yang mendeklarasikan diri mereka sebagai patokan baku ukuran kemoderenan dan kemajuan ekonomik tak luput dari masalah tata-kelola. Kasus Enron hanyalah puncak gunung es. Perang Irak yang dipandang oleh sebagian besar intelektual di sana sebagai skandal terbesar yang melibatkan Negara setelah Perang Vietnam dan Watergate, adalah contoh kongkret.

Naomi Klein dalam bukunya, The Shock Doctrine, mengungkapkan bahwa kebijakan pasar bebas yang diusung Milton Friedman dengan the Chicago School of Economics tumbuh subur lewat percobaan-percobaan yang dilakukan di Chili semasa kepemimpinan Pinochet, Russia semasa kepemimpinan Yeltsin, dan bahkan di negerinya sendiri, Amerika Serikat, terutama pada penanganan pasca-kejadian Badai Katrina di New Orleans, serta privatisasi ekonomi Irak di bawah Koalisi Pemerintahan Sementara. Kerangka yang diusung Klein bersambut dengan kerangka Napoleoni, dimana kebijakan pasar bebas yang agresif justru membuat peran demokrasi kemudian menjadi instrumen pengesah daripada sebagai tata-nilai bernegara dan bermasyarakat.

Napoleoni membuka mata kita, bahwa rogue economics adalah payung yang menaungi penjahat ekonomik dan kegiatan ekonomi ilegalis dapat memasuki wilayah abu-abu, memanfaatkan celah-celah hukum. Bahkan, jika perlu ada campur-tangan untuk mempengaruhi atau lebih jauh lagi turut mengarahkan aturan dan hukum agar dapat melindungi kegiatan-kegiatan tersebut.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Tuesday, June 10, 2008

The Economist's Tale

Awicaks
Ini bukan buku baru. Bahkan saya menemukannya di lemari arsip Zed Publisher. Petugas di Zed harus menmeriksa basis data di komputer apakah mereka bisa melepas buku ini untuk dijual. Setelah yakin bahwa mereka masih memiliki salinan lain, saya diperbolehkan membelinya. Pantang menyerah, saya minta potongan harga, karena buku ini sudah masuk arsip. Si petugas tertawa, "Nice try. I'll take a look whether you can get a discount or not." Ia pun mengecek ke komputernya kembali. "Okay, you can get 30% discount."

Sekali lagi, ini bukan buku baru. Diterbitkan pertama kali tahun 2003. Buku yang ditulis Peter Griffiths ini pun tidak menawarkan perspektif baru. Meski bercerita tentang hal yang sama, bahkan terbit lebih dulu, buku bertajuk "The Economist's Tale" ini tidak seberhasil buku John Perkins, "Confession of the Economic Hitman." Tetapi yang menarik dari "the Economist's Tale", ia menggunakan pendekatan bertutur, dan beropini secara jujur. Tidak ada teori-teori besar, atau kerangka ekonomi-poltik hegemonik seperti yang ditawarkan buku-buku serupa.

Buku ini lebih tepat disebut gerundelan seorang konsultan kebijakan pangan yang bekerja di Seirra Leone bernama Griffiths, yang merasa tidak nyaman karena kajian keahliannya digunakan secara "keliru" oleh Bank Dunia untuk mendorong perekonomian Sierra Leone lewat kebijakan produksi beras. Anda akan kecewa jika berharap memperoleh bahasan teknikal tentang ekonomi pangan. Anda pun tidak akan dirundung rasa tertekan membaca kejumawaan Bank Dunia dalam mendikte pengurus Negara Sierra Leone. Anda justru akan banyak tertawa, meski pahit, membaca tuturan Griffiths dengan kalimat-kalimat yang cerdas mengejek dirinya sendiri, mengejek kesoktahuan para penentu kebijakan di Bank Dunia tentang situasi ekonomi-politik Sierra Leone.

Yang membuat saya tercekat adalah, ketika menemukan bahwa rute camput-tangan kebijakan yang dilakukan Bank Dunia di Sierra Leone serupa dan sebangun dengan yang mereka lakukan di Indonesia. Dengan kondisi geografik yang berbeda, dengan latar sejarah berbeda, apalagi latar sosial-politik dan ekonomi-politik yang jauh dari sama, Bank Dunia memberlakukan resep yang plek sama antara Sierra Leone dengan Indonesia. Penghapusan subsidi atas bahan-bahan kebutuhan pokok, percepatan privatisasi, pembanjiran utang untuk mendongkrak anggaran rutin kepengurusan Negara, dan sebagainya. Ya ampun! Terlepas dari gaya bertuturnya yang lucu dan ringan, di balik itu saya tidak menemukan perbedaan antara kisah lucu nan pahit di Sierra Leone dengan Indonesia.

Griffiths berhasil memaparkan pengalamannya seperti halnya orang mendongeng. Ia sangat berhati-hati ketika menyisipkan kajian teknikalnya dan meletakkannya sebagai pendapat pribadi terhadap campur-tangan kebijakan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), yang menurut penilaiannya absurd.

Sebagai sebuah dongeng yang lucu dan ringan, buku ini justru sangat menakutkan.
.


Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, May 18, 2008

Kejut, Kejutan, Terapi Kejut - Naomi Klein

Awicaks

Bagi seorang Naomi Klein penanganan bencana tidak bisa lagi dilihat sebagai seperangkat tindakan teknikal dengan balutan rasa kemanusiaan dan kepekaan sosial. Ia memandang secara kritis penanganan bencana di masa globalisasi dan pasar bebas yang bebas kendali sebagai laboratorium bagi eksperimen ekonomik dan ekonomi-politik, yang diperkenalkan dan persebarannya terus diperluas oleh para cantrik Milton Friedman. "Ajaran itu selalu butuh situasi trauma kolektif dengan luasan pengaruh dan dampak yang besar, sehingga hal-hal yang dulu dianggap tabu dan tidak mungkin menjadi suatu keharusan, atas nama keadaan darurat," tulis Naomi.

Tidak tanggung-tanggung, Naomi Klein pun menelusuri sejarah riset dan pengembangan instrumen penyiksa untuk kepentingan interogasi militer dan intelijen di Amerika Serikat, bahkan mundur hingga masa Perang Dunia ke-2, dengan thesis, ada kesamaan yang gamblang antara asumsi dasar teori dan ajaran Friedman dengan tujuan pencpitaan alat-alat siksa tersebut: Trauma, disorientasi dan sikap menyerah sebagai sebuah lembar kertas kosong yang siap diisi dengan tulisan atau gambar apa saja, sekendak kita. Saya pun teringat pengalaman diri ketika melakukan riset tentang resiko kebijakan dan tindakan rehabilitasi tsunami Aceh dan Nias awal tahun 2005 hingga pertengahan 2006.

Niat tulus manusia dari berbagai belahan bumi di awal pasca-kejadian mengharukan saya. Sesuatu yang tak-terbantahkan. Praduga negatif pun menjadi hal yang tak perlu ketika wilayah Aceh dan Nias masih berantakan, dengan suasana muram dan sedih serta bau anyir dan amis kematian. Orang-orang yang menonton tayangan di televisi tentang dahsyatnya tsunami yang menghantam wilayah Aceh, hasil rekaman warga korban, tergerak menyumbangkan apa saja yang mereka miliki. Uang, barang, (waktu, tenaga, keahlian) bahkan hingga doa yang tulus. Demikian halnya dengan orang-orang di Indonesia, yang bermimpi pun tidak untuk menjejakkan kakinya di bumi Serambi Mekah, karena di masa lalu wilayah ini senantiasa dicitrakan oleh pengurus Negara sebagai daerah berbahaya, mendidih dan terus-menerus dirundung konflik bersenjata.

Naomi Klein pun menulis dengan kritis di the Guardian ketika George W. Bush begitu lamban mengungkapkan kedukaan serta begitu sedikit menjanjikan bantuan Amerika Serikat. Dalam analisisnya ia kaitkan sikap itu dengan kampanye Bush, Perang Terhadap Terorisme Dunia, yang senantiasa dicitrakan sebagai peang terhadap dunia Islam. Dan Aceh terkenal sebagai the Veranda of Macca.

Ketika pemimpin-pemimpin Eropa Barat mengecam sikap Bush, juga para cendekiawan Amerika Serikat terkemuka, kabinet dapur Bush berubah sikap, bahkan berlebihan. Kapal induk berikut satuan pendukungnya, USS Abraham Lincoln (CVN 72) Carrier Strike Group (CSG), dikerahkan. Administrasi Bush menjanjikan 350 juta dollar AS untuk penanganan pasca-bencana dan pemulihan wilayah. Catatan kritis Naomi Klain membedah niat di balik kebiajakn tersebut, berangkat dari dokumen analisis situasi yang disusun oleh sebuah tim ekonom pengikut Friedman. Kapitalisme bencana, tulisnya di the Guardian, sudah dimulai.

Tak seperti halnya badan-badan "bantuan pembangunan" bilateral lain yang secara normatif masih berada dalam radar akal sehat dan kelaziman, dimana mereka memusatkan perhatian pada perbaikan dan pembangunan-ulang permukiman, sarana dan prasana sosial dan fisik kampung dan kota, kebijakan Bush terhadap Aceh mengundang perhatian Naomi. Rencana pembangunan jalan bebas hambatan (highway) antara Banda Aceh dan Meulaboh mengundang tanya.

Tak hanya Naomi Klein, analisis dan tulisan dari berbagai pengamat kritis mengajukan pertanyaan dasar, "Mengapa highway? Apakah itu yang dibutuhkan rakyat Aceh?" Pertanyaan itu saya lontarkan pada suatu diskusi di kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), pada Maret 2005, ketika tim Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (US Aid) memaparkan rencana mereka. Jawaban yang berkesan sekenanya, tetapi mampu menghentikan tanya berikutnya, diungkapkan ketua tim mereka, "Why not?"

Sesuai dugaan Naomi Klain, Haliburton, perusahaan kontraktor milik Dick Cheney, bekas Menteri Pertahanan Amerika Serikat kabinet George W. Bush, dilibatkan, ketika kuku perusahaan itu masih dalam menancap di Afghansitan dan Irak sebagai penyedia sarana pendukung kelancaran operasi militer serta pendukung kehidupan prajurit. Total bantuan 350 juta dollar AS tak bersisa banyak ketika ia dikurangi oleh ongkos operasi kapal induk USS Abraham Lincoln serta biaya operasi perusahaan kontraktor Haliburton serta biaya-biaya overhead berbagai perusahaan konsultan di belakang proyek pembangunan highway Banda Aceh - Meulaboh. Apa saja bisa dibangun, atas nama kemendesakan dan kegawatan. Apalagi Aceh adalah wilayah yang kaya sumber-sumber alam, baik yang terbarukan (hutan dan kelautan) dan yang tak-terbaukan (minyak, gas dan mineral). Dan Naomi Klain menyorot rombongan ekonom asuhan Milton Friedman, yang tak hanya aktif pada kebijakan Amerika Serikat, juga di belakang Bank Dunia dengan prakarsa Dana Multi-donor (Multi-Donors Fund, MDF) di balik rencana tersebut.

Lepas dari catatan kritis itu, saya menyaksikan sendiri bahwa asumsi para ekonom di balik rencana-rencana canggih bangun-ulang Aceh sangat keliru, bahwa warga Aceh rontok setelah dihajar bencana dahsyat tsunami sehingga siap menerima apa pun yang diberikan. Karena, sebelum rencana itu selesai disusun rapih, tanpa ba-bi-bu menunggu rombongan penyumbang dan penderma, mereka mengais-ngais segala apa yang tersisa untuk bangkit lagi.

Warga korban pun tak punya keinginan muluk, mereka hanya ingin kembali ke tempat mereka dulu hidup dari generasi ke generasi, hanya ingin rumah tempat mereka berteduh dari hujan dan sengatan matahari, tempat mereka berkumpul dengan keluarga tersisa. Namun bukan pemulihan semangat hidup yang didorong, melainkan rekayasa fisik tempat hidup yang seringkali tak ada hubungannya dengan semangat yang ada, karena ia tak berlandaskan pada suasana batin warga korban yang sulit diserap meski lewat konsultasi publik dengan teknik dan metodologi yang paling canggih sekalipun. Warga korban butuh rumah, tetapi mereka dibuatkan Disneyland, yang berkesan kemilau dan gagah tetapi belum tentu mampu memenuhi kebutuhan batin warga, belum lagi soal biaya perawatannya belum tentu mampu dipenuhi.

Dalam buku terbarunya, The Shock Doctrine, Naomi Klein menggambarkan dengan cerdas, "Anda bisa membongkar mental dan fisik seseorang lewat teknik dan alat siksa paling canggih sekalipun, tetapi Anda tak akan pernah mampu membangkitkan roh orang itu untuk menjadi manusia seutuhnya, dengan menganggap mereka adalah kertas putih kosong yang siap diisi apa saja. Yang Anda ciptakan adalah sosok manusia yang hancur yang kemampuannya lebih rendah dibandingkan sebelumnya."

Ungkapan itu ia persandingkan dengan ajaran Milton Friedman. Apa pun yang akan dibangun di suatu wilayah yang dilanda trauma kolektif baik akibat bencana alam dahsyat, konflik dan perang maupun krisis ekonomik dan krisis ekonomi-politik, ia tak akan mampu mengubahnya menjadi suatu wilayah impian (para perancangnya). Naomi tegas menyatakan, rombongan Milton Friedman senantiasa butuh wilayah bekas perang, korban bencana alam dahsyat, baru dilanda krisis ekonomi dan sebagainya. Dan rombongan itu sudah begitu berpengalaman, salah satunya lewat jasa konsultansi mereka untuk diktator Chili, Pinochett. Inilah yang disebut kapitalisme bencana oleh Naomi Klein.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, June 03, 2007

Rocks & Hard Places - Kekeraskepalaan Moody

Awicaks

Jika ada orang yang paling keras kepala, teguh berpegang kepada keyakinannya tentang beringas, keji dan bobroknya rejim ekonomi-politik global dalam bentuk yang paling kongkret, yakni industri ekstraktif, dia lah Roger Moody. Moody, pendiri dan Direktur Eksekutif People Against RTZ and its Subsidiaries (PARTiZANS), secara khusus membaktikan hidupnya untuk melawan perusahaan tambang yang menurutnya paling menggurita, hadir di semua tempat yang memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) paling buruk, dan menanam uang mereka di negara-negara yang otoriter, korup dan dikendalikan oleh militer, yakni Kelompok Usaha Rio Tinto (RTZ).

Bagi Moody perangkat pemantauan indikator pencemaran lingkungan yang paling canggih sekali pun tidak akan ada artinya ketika berhadapan dengan sektor industri keruk atau ekstraktif, karena keseluruhan proses industri ini memiliki kemampuan memerosotkan mutu lingkungan dan kehidupan di sekitar wilayah operasinya hingga mampu menjangkau jarak ratusan kilometer dibantu lewat sistem hidro-orologi (tata-air).

Moody juga menulis buku berjudul The Gulliver Files, sebuah catatan panjang dan melelahkan tentang kegiatan-kegiatan industri ekstraktif di seluruh dunia. Salah satu buku yang ditulis Moody dan "dipersembahkan" secara khusus kepada RTZ berjudul Plunder! yang menjejaki sejarah RTZ dan seluruh turunannya di negara-negara Sabuk Pasifik, Afrika, Amerika dan Eropa. Jika Anda memutuskan membaca buku Moody, persiapkan mental dan waktu sebaik-baiknya. Moody akan memaparkan fakta dan telaah faktual yang akan membuat jantung Anda berdebar, tanpa harus terjebak dengan gaya penulisan berorientasi konspiratif.

Dalam buku anyarnya, Rocks & Hard Places, sekali lagi Moody membongkar daya jangkau dan jelajah tentakel modal dan kuasa RTZ ke berbagai operasi industri ekstraktif di dunia. Moody juga memaparkan rintisan RTZ yang kemudian dijadikan model perluasan dan perambahan industri ekstraktif ke kawasan-kawasan yang seharusnya dilindungi, karena menjadi penopang kehidupan manusia dan mahluk hidup lain sebagai satu kesatuan sistem ekologi setempat. Secara gamblang Moody menggambarkan bagaimana modus operandi sektor ekstraktif dalam merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan di lingkar wilayah operasinya. Yang tak kalah penting dari Rocks & Hard Places adalah upaya Moody memblejeti (dismantling) siasat-siasat RTZ lewat pencitraan korporasi, dan legitimasi yang diperoleh dari kerjasamanya dengan organisasi-organisasi perlindungan lingkungan hidup kelas dunia.

Buku ini layak dibaca bukan saja oleh aktivis gerakan lingkungan hidup, tetapi juga para peneliti dan pengamat dinamika ekonomi-politik dunia, pembuat kebijakan di negara-negara kayak sumber-sumber mineral, serta para insan media dan pers. Membaca buku ini memaksa kita untuk terus bertahan hingga kelelahan, karena saratnya data serta telaah-telaah yang tajam, yang tak menyisakan ruang bagi perdebatan tak perlu.

3 Juni 2007

Selanjutnya.. Sphere: Related Content