Showing posts with label thought. Show all posts
Showing posts with label thought. Show all posts

Saturday, September 15, 2012

Stempel di Dahi

Pepatah lama, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, punya implikasi yang luas, dan boleh ditafsir dari beragam sudut pandang. Tetapi pepatah itu terlalu sering ditafsir secara dangkal dan dipaksa untuk menjadi aksioma. Itu yang sering jadi masalah.

Awicaksono

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Friday, April 06, 2012

Politik Infrastruktur

Sejak masa pendudukan Belanda, infrastruktur adalah alat penakluk suatu wilayah baru. Daendels ditugaskan membuka jalan yang merentang dari Anyer, ujung Barat pulau Jawa hingga ke ujung Timur di Panarukan, untuk memperlancar arus barang dan jasa, terutama bahan mentah yang akan diangkut ke pasar-pasar di Eropa

Awicaks

Foto0075[1]

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Wednesday, March 14, 2012

Memilih, pilihan, memutuskan … atau menunda

Salah satu hal kunci yang terus mengganggu pikiran saya adalah soal pilihan. Memilih bukanlah perkara mudah karena setiap pilihan selalu punya risiko atau biaya yang tak terhindarkan. Yang banyak terjadi kemudian pilihan diambil bukan dari perhitungan tetapi lebih mengandalkan intuisi

Awicaks

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, March 11, 2012

Gus Mus: Koruptor Cerminan Orang Melarat

Budayawan K.H. Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus menyindir koruptor yang sebenarnya merupakan cerminan sosok orang yang paling melarat karena selalu merasa kekurangan, meski telah memiliki banyak harta

Jodhi Yudono | Kompas | 10 Maret 2012

Achmad Mustofa Bisri. Kompas/Priyombodo

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Wednesday, February 15, 2012

Pengabdian Taat Asas

Banyak media memaparkan catatan penting mengenai tuntutan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang syarat untuk lulus sarjana, magister, dan doktor serta untuk kenaikan pangkat dosen, baik sebagai opini maupun berita. Hampir semua menegaskan: tuntutan itu mustahil dilaksanakan

BS Mardiatmadja | Kompas | Opini | 15 Februari 2012

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Wednesday, January 04, 2012

"Biar Negara Hangus Terbakar..."

Revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 1945-1949 sungguh kritikal, melelahkan, tetapi sarat dengan harapan untuk menang. Ia menyisakan berjuta pengalaman suka duka, heroisme, dan idealisme dengan kualitas hampir tanpa cacat

Ahmad Syafii Maarif | Kompas | 04 Januari 2012

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Monday, January 10, 2011

Di Ambang Kehancuran?

Awicaks

350960-08032717072006b@2_Cartoonizer_1Pernyataan Benny K. Harman (BKH), anggota DPR sekaligus salah seorang pentolan Partai Demokrat, yang menyitir bekas Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD), bahwa apabila kasus Gayus dibongkar tuntas republik akan goyang, harus ditelaah lebih jauh dan seksama agar kita dapat memahami betapa rapuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Saturday, December 25, 2010

Catatan Kecil Tahun 2010

Awicaks

Keputusan terbesar yang saya ambil di tahun 2010 ini adalah berhenti bekerja purnawaktu. Saya berharap akan punya waktu ideologik dan intelektual tanpa mengorbankan kebutuhan pendapatan finansial. Sepanjang 2010 waktu untuk kerja-kerja sukarela meningkat, demikian halnya untuk membaca buku dan berdiskusi dengan beberapa kawan. Satu hal tak terduga adalah paperworks sebagai bagian dari kerja-kerja paruhwaktu. Ia tidak menyita waktu, tetapi menyita sel-sel kelabu otak saya.

Untuk menjamin subsidi silang antara pekerjaan berorientasi upah dengan kerja-kerja sukarela saya mengikatkan diri dengan beberapa lembaga sekaligus. Pengaturan waktu yang efektif mutlak dibutuhkan. Perhitungan biaya dan waktu antara satu pertemuan dengan pertemuan lain harus dilakukan agar dalam satu hari tetap ada waktu untuk membaca, menulis, internet dan berbincang dengan kawan-kawan dari beberapa lembaga yang saya bantu secara sukarela. Amburadulnya lalu-lintas Jakarta menjadi penghambat utama. Diskusi terpaksa dilakukan lewat Skype dan Yahoo Messenger ketika ada akses internet. Atau SMS atau bertelepon jika kebetulan tidak memiliki akses internet.

DSC00062Namun di sela-sela akrobat waktu sepanjang 2010 ternyata saya masih sempat bereksperimen di rumah dengan membuat ruang kerja di halaman. Saya menyebutnya small office garden office atau SOGO, meminjam istilah umum SOHO atau small office/home office. Ada beberapa waktu dimana saya berkeputusan untuk tidak pergi ke Jakarta dan memilih bekerja di rumah. Tidak jelas seberapa besar perbedaan pengaruh terhadap produktifitas antara bekerja di dalam ruang kerja dengan di halaman terbuk. Tetapi kenyataannya tidak terlalu sering saya bekerja di halaman karena hujan yang turun sepanjang tahun 2010.

Kemarin saya melacak-balik arah belanja sepanjang 2010, di luar pengeluaran terkait dengan kegiatan produksi. Ternyata belanja terbesar adalah untuk perjalanan-perjalanan bersama keluarga, membeli aksesoris perlengkapan outdoor untuk membuat SOGO, membeli buku serta DVD bajakan. Selebihnya rutin saja. Yang menarik adalah perbandingan persentase makan di luar antara yang saya biayai sendiri dengan yang ditraktir. Lebih dari 60% saya ditraktir kawan ketika makan di luar, termasuk makan gratis ketika mengikuti lokakarya atau seminar. Untuk perjalanan luarkota, termasuk perjalanan luarnegeri, lebih dari 75% tidak saya biayai sendiri, karena menjadi bagian dari pekerjaan, baik yang berorientasi upah maupun kerja sukarela.

Di luar hal-hal yang bersifat pribadi, alokasi waktu terbesar saya sepanjang 2010 adalah untuk mencermati persoalan tambang batubara yang mematikkan, perubahan iklim, serta skema hutan untuk iklim. Yang menarik, berlawanan dengan dugaan saya, alokasi waktu terbesar justru untuk mencermati persoalan-persoalan terkait dengan kerja-kerja sukarela, bukan pekerjaan yang berorientasi upah. Meskipun kegiatan yang saya lakukan sebatas membalas email, berbincang lewat Skype atau Yahoo! Messenger, serta mengurus halaman BoilingSpot, Make Mining History dan TitikDidih di Facebook. Tetapi itu akan saya bahas lebih lanjut, khusus tentang kegiatan saya di dunia maya.

41575_42294843049_3925710_nBoilingSpot adalah halaman di Facebook khusus tentang persoalan-persoalan terkait perubahan iklim, dengan cakupan lokal, nasional dan global. Sebetulnya ini adalah nama blog yang saya buat di tahun 2005, ketika menghadiri COP11 di Montreal, Kanada. Namun entah kenapa sejak COP15 di Copenhagen yang mengecewakan, saya jadi malas mengurus BoilingSpot. Artikel terakhir yang saya urus di BoilingSpot tercatat 10 April 2020. Namun lewat BoilingSpot di Facebook saya dapat lebih berbagi. Kebetulan saya berlangganan RSS feeds dari berbagai media dan organisasi yang berurusan dengan perubahan iklim. Artikel dan berita-berita paling mutakhir yang masuk saya baca dengan cepat, sortir dan muat di halaman BoilingSpot di Facebook setiap hari. Tidak terlalu banyak yang berminat, tetapi saya tepat melakukannya hingga saat ini.

71157_165209593517197_4342355_nSementara Make Mining History adalah halaman di Facebook khusus tentang persoalan-persoalan pertambangan dan investasi industri ekstraktif di Indonesia. Ini sebenarnya adalah bagian tak-resmi dari pekerjaan sukarela saya untuk sebuah organisasi kampanye dan advokasi untuk isu-isu pertambangan dan energi. Seperti halnya halaman BoilingSpot, saya mengandalkan RSS feeds dari berbagai media dan organisasi tentang pertambangan dan energi untuk dimuat di Make Mining History.

174536_173554219334677_5740271_nHalaman Facebook paling akhir yang saya buat adalah TitikDidih. Halaman ini saya maksudkan sebagai salah satu outlet bagi tulisan dari blog TitikDidih yang saya kelola sejak 2007. Berbeda dengan kedua halaman di atas, TitikDidih punya tautan langsung dengan semua tulisan yang dimuat di blog. Ketika satu tulisan saya muat dalam hitungan detik ia akan muncul di TitikDidih versi Facebook. Seperti halnya dengan BoilingSpot dan Make Mining History, TitikDidih juga memuat tautan-tautan dengan berita paling  mutakhir yang bersumber dari berbagai media. Umumnya tentang hiruk-pikuk politik, ekonomi dan sosial di Indonesia.

Mengelola ketiga halaman itu plus blog TitikDidih adalah hal yang menjaga saya tetap waras, tetap punya kemarahan dan kegelisahan. Sepanjang tahun 2010 kemarahan dan kegelisahan sebagian besar tentang makin jelasnya sosok kuasa politik negeri amburadul ini yang menghamba kepada industri dan kuasa modal, baik dalamnegeri maupun luarnegeri. Semua kesusahan, derita dan ketersingkiran warga biasa berpangkal pada ketidakpedulian orang-orang berkuasa di Jakarta dan ibukota-ibukota provinsi di Indonesia kepada kebutuhan hakiki manusia: Keselamatan diri.

Frasa tersebut seperti menjadi mantra bagi saya, tidak hanya dalam pekerjaan sukarela tetapi juga untuk pekerjaan paruhwaktu yang berorientasi upah. Sedapat mungkin saya melakukan infiltrasi mantra tersebut ke dalam laporan-laporan dari pekerjaan yang saya lakukan. Dan seperti sudah saya duga, sebagian besar orang masih meyakini secara membabi-buta konsep kemakmuran dan kesejahteraan ketimbang memikirkan kebutuhan hakiki warga biasa tersebut. Keselamatan seakan-akan tercakup secara otomatis dalam konsep kesejahteraan dan kemakmuran. Ini yang sebut sebagai kekeraskepalaan sistemik. Ini hikmah yang saya petik selama 2010. Saya menyadari usaha saya di 2010 untuk mendorong mantra kunci itu masih belum efektif.

Saat ini saya masih punya utang pekerjaan yang harus saya tuntaskan sebelum tahun 2010 berakhir. Mantra kunci itu tetap menjadi misi utama saya mengakhiri 2010….

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, July 11, 2010

Tuli, Buta, Mati Rasa, Lumpuh

Awicaks

Sudah empat bulan saya dengan sengaja membunuh keinginan untuk mengisi TitikDidih. Alasannya sederhana. Saya begitu muak dengan hiruk pikuk negeri ini. Rasanya hina bagi saya untuk menjebakkan diri memberi komentar-komentar yang sama sekali tidak ada artinya bagi gerombolan pemilik legitimasi mengurus Negara tetapi tidak memiliki rasa malu, pengecut dan beraninya hanya kepada rakyat jelata yang miskin, tetapi takut luarbiasa kepada para penguasa modal.

Negeri ini memang hebat. Perilaku pimpinan struktur kuasa Negara, birokrat, politikus, penguasa modal, serta begundal-begundal tukang pukul dan tukang bunuh for hire mampu membuat warga Indonesia secara sukarela menulikan telinga, membutakan mata, mematikan indera perasa serta melumpuhkan kaki dan tangan, atas nama keselamatan diri. Ini lebih ngeri dari Orde Baru, bung! Lebih sulit ditebak. Sang pimpinan yang gemar mencipta lagu dan menyanyi (yang hakekatnya adalah ungkapan mutu pribadi yang halus dan bercita rasa) bisa tidak ada urusannya dengan tindak pengurusan Negara yang menjerumuskan rakyat ke hidup sengsara berkelanjutan. Opo ora heibat?

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Wednesday, April 14, 2010

Dagelan di Panggung Nusantara

Awicaks

Saya tidak tertarik dengan berita yang spesifik, baik itu soal markus, gayus, sus(no), sus(ilo bambang yudhoyono), (pan)sus, dan segala kata berakhiran “-us”, seperti muketikus, tulibudegus atau paleangus. Saya lebih tertarik mengamati dagelan akbar dan kolosal di panggung Nusantara yang mampu membuat saya tertawa hingga maag saya kumat. Dagelan dengan babak berlapis-lapis itu dimulai dengan satu adegan yang sarat pesan moral sekaligus pesan amoral: Saling blejed dan saling memeloroti celana diantara pelakon dagelan itu di atas panggung….

Ruwetnya jejaring dan tata hubungan diantara para pelakon, baik yang kasat di atas panggung maupun yang hanya muncul di naskah skenario yang hanya menjadi konsumsi sutradara, wadyabala pertunjukkan dan pelakon, menjadi tontontan tersendiri yang cukup mengasyikkan. Penuh kejut-kejutan (kejutan bohong-bohongan). Ada pelakon yang dulu jadi buaya kemudian bertukar lakon menjadi cicak. Atau cicak yang dibela segenap penonton karena teraniaya justru kemudian menikmati dengan pasrah ketidakberdayaannya. Bersikap penuh kehati-hatian (seperti hati-hati, tidak sungguh-sungguh hati-hati). Atau, pelakon antagonis yang bergaya punya nyawa rangkap sehingga berani tampil beda di atas panggung meski celananya bukan lagi kedodoran tetapi hilang sehingga modal dasarnya terumbar gamblang, tiba-tiba menghilang dari pandangan penonton. Mungkin karena panggungnya terlalu sempit, atau lampu sorotnya sangat pilih kasih (diskriminatif). Wallahualam

Pembabakkan pertunjukkan dagelan memang dibesut begitu ingar-bingar oleh sang sutradara (dan mungkin juga oleh penyunting adegan), sehingga lompatan dari satu alur cerita ke alur berikutnya mengalir luarbiasa cepat tetapi mulus. Penonton yang ternganga pun tak sadar bahwa air liur sudah hampir memenuhi baskom di hadapan mereka. Dibuka dengan babak pemilihan umum yang heboh dan dibalut atraksi sulap menyulap hasil perolehan suara yang mampu menghadirkan decak kagum penonton, lalu dilanjutkan dengan babak pameran baris-berbaris yang tidak kunjung rapih, karena lebih terlihat seperti anak-anak bermain dolanan jaman dahulu, “Koalisi panjangnya, bukan kepalang…” Itu adalah dua babak pembuka yang dahsyat dan luarbiasa lucu (lah wong namanya juga dagelan….). Dari kedua babak pembuka itulah mengalir lancar babak-babak selanjutnya yang menampilkan kematangan para pelakon berimprovisasi dengan peran masing-masing.

Yang luarbiasa keren besutan sutradara dagelan Nusantara ini adalah perpindahan dari babak kisah pembunuhan seorang pelakon yang tidak sempat naik panggung, ke babak penonton melawan rombongan pelakon yang berkostum buaya. Mengalir begitu mulus selihai markus. Tidak hanya mulus, alurnya pun halus dan mampu melibatkan emosi penonton, sehingga penonton pun ikut campur mengganyang kelompok pelakon berkostum buaya tadi. Luarbiasa! Gilanya, salah satu adegan kecil yang tidak penting ternyata menjadi pintu pembuka babak besar yang hingga saat ini masih terus berlangsung. Yakni babak pembelotan seorang pelakon berkostum buaya mencoba menjadi cicak.

Babak kisah pembunuhan itu pun berhasil menggugah emosi penonton dengan adegan pemlorotan celana seorang pelakon antagonis lewat pemutaran rekaman pembicaraan telepon secara terbuka. Seperti saya sebut sebelumnya di atas, pelakon antagonis itu luarbiasa berani dan merasa punya nyawa rangkap, macam seekor kucing. Dia berani tampil beda. Tetapi lampu sorot panggung tidak lama menyinari kepalanya yang berambut tipis itu. Dia pun kemudian tidak lagi dianggap penting, baik oleh sang sutradara, para juru sorot lampu, dan mungkin pula oleh para penonton. “Old soldiers never dies, they fade away….

Dari babak-babak yang seru di atas, ternyata ada babak kisah yang masih ada urusannya dengan dagelan lama yang bagian penutupnya menggantung. Salah satunya babak tentang suap menyuap berjamaah terkait dengan pemilhan orang nomor dua di bank sentral di Nusantara, yang sudah dipertunjukkan sebelum babak pemilihan umum penuh sulapan dimulai. Babak dagelan ini cukup bikin bingung para juru lampu sorot nun di atas gedung pertunjukkan. Apalagi para pelakon kunci yang disorot secara serempak hilang ingatan (maaf, saya kurang suka menggunakan kata lupa, karena mudah dilupakan). Lucu-lucu pula cara mereka menyampaikan kehilangingatan mereka. Pelakon yang menggondol duwit paling banyak dari upacara suap menyuap bahkan berani bilang, tidak ingat rangkaian peristiwa yang diungkapkan pelakon lain yang bersaksi di sub-panggung pengadilan. Juga pelakon yang bertugas membagi-bagi duwit juga terserang hilang ingatan berat. Entah apa artinya. Mungkin ibu istri bekas petinggi pelakon kepolisian itu hilang ingatan tentang berat badannya. Demikian halnya dengan orang nomor dua di bank sentral, ia juga hilang ingatan; tidak ingat pernah hadir dan bertemu beberapa pelakon yang bertutur di sub-panggung pengadilan. Asli, Jojon atau pelakon Srimulat kalah lucu lho!

Pokoknya penonton sangat puas dengan pertunjukkan dagelan Nusantara itu. Meskipun pertunjukkan masih terus berlangsung hingga detik ini, dan meskipun penonton sudah tahu arah alur cerita, yang ujungnya pasti berakhir bahagia (happy ending) bagi mereka yang kebetulan melakoni sosok berkekuasaan politik dan berakhir memilukan (sad ending) bagi para figuran yang merasa sok penting serta terlalu sering ingin berada di bawah lampu sorot. Diantara penonton pun saling mendagel satu sama lain. Mereka kerap bermain teka-teki. “Apa bedanya markus dengan maknyus?” Atau ada yang berpepatah, “Sudah markus berlencana pula, sudah markus berkuasa pula…”

Tanpa punya niat mendahului sang sutradara dan penulis naskah, saya hentikan ulasan sementara pertunjukkan dagelan Nusantara sampai di sini. Mari kita tunggu babak-babak lanjut yang lebih improvisatif, dan lebih lucu karena tentunya lebih menghina akal sehat.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Tuesday, February 23, 2010

Klimaks, antiklimaks, paraklimaks

Awicaks

Antiklimaks? Hahahaha! Sama sekali bukan. Publik sudah tahu bahwa para pengecut di Pansus Century tidak akan mengambil sikap lurus. Itu sudah terlihat sejak pertama kali panitia khusus ini dibentuk. Jadi, yaa jangan kecewa. Tidak perlu kita menaruh harapan kepada orang-orang yang makan gaji (dan fasilitas negara) untuk kerja-kerja yang tidak ada urusannya dengan masalah keselamatan warga. Mereka bekerja untuk keselamatan diri mereka sendiri dan partai yang mereka wakili. Mungkin bukan antiklimaks. Bolehjadi lebih tepat disebut paraklimaks. Pura-pura klimaks seperti yang dipertontonkan para pemeran di film-film biru.

Publik, terutama rakyat yang telah memilih mereka, seharusnya sudah memikirkan bersama-sama cara terbaik bagaimana menghukum mereka, pemakan uang negara (lewat gaji besar serta fasilitas serba mewah). Salah satu cara yang mudah adalah bagaimana membuat orang-orang di dewan yang terhormat tidak lagi relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Agaknya tidak perlu kita memikirkan suatu pembangkangan massal (mass disobedience), tetapi tindakan kolektif yang lebih fokus kepada pemenuhan syarat-syarat minimum keselamatan diri kita, tanpa menciptakan, apalagi memperbesar defisit produsi – konsumsi sehari-hari. Pada gilirannya akan terlihat apakah tindakan para anggota dewan yang terhormat akan mendukung prakarsa swadaya warga menjamin keselamatan diri sendiri, atau justru akan menciptakan sesuatu yang heboh yang justru mengancam kemampuan diri warga menjamin keselamatan diri? Misal, lewat penaikan harga sembilan bahan pokok (atas nama mendongkrak GDP), dan sebagainya…

Kekhususan yang diharapkan dari Pansus Centurygate cuma sebatas peliputan penuh dan langsung (live) oleh beberapa stasiun televisi swasta. Cuma itu. Tidak ada kekhususan atau keistimewaan yang bisa dipamerkan para anggota pansus yang terhormat selain semakin jernih dan jelas bagi kita, warga biasa, bahwa daya pikir, kreatifitas dan imajinasi serta tingkat kecerdasarn mereka memang sangat terbatas dan semata-mata untuk melayani diri mereka sendiri, baik sebagai perseorangan maupun sebagai bagian dari partai politik yang mengusung (dan diusung) mereka.

Centurygate akan berada di antrian paling belakang dari rangkaian panjang skandal politik yang tidak (akan pernah) terpecahkan di negeri amburadul ini. Sulit berharap suatu klimaks yang membuat publik mencapai ledakan kepuasan (orgasme) kolektif, karena kolektifitas yang terbangun pada arena politik kekuasaan di Indonesia lebih terbatas dan bertugas menjaga soliditas kelompok serta menjaga citra positif diri orang dan partai. Jangankan klimaks, antiklimaks pun sulit kita harapkan, karena segala sesuatunya dibuat secair mungkin dan menjadi subyek yang bisa dinegosiasikan.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Monday, February 22, 2010

Tiger Wood, sosok ksatria di Tahun Macan

Awicaks

Menurut pemberitaan media, Tiger Wood, pesohor dunia di bidang olahraga golf, dengan tegas meminta maaf kepada publik atas perilaku ketagihan seks dan pembohongan yang selama beberapa tahun ia lakukan. Suatu sikap ksatria seorang yang layak dicatat sebagai sejarah pembuka Tahun Macan kali ini. Suatu pertunjukkan citra yang patut pula dicontoh oleh para pesohor negeri amburadul Indonesia.

Menjadi pesohor di millenium yang sangat liberal ini, dimana seluruh tatanan kehidupan menjadi bagian terintegrasi dari tatanan industri serta diatur dan dikendalikan oleh pasar, ketauladan terjerembab sekedar sebagai citra diri. Tiger Wood memporakporandakan pilar-pilar kokoh tentang industri pencitraan sebagai bagian terintegrasi tatanan kehidupan planet bumi di bawah asuhan paradigma neliberalisme yang hegemonik. Wood tampil ksatria dengan sederhana.

Tentu tindakan berani Wood bukan tanpa gesekan. Tim manajemen di belakang sosok muda berbakat dan pekerja keras ini tentunya dibuat pontang-panting dengan segala kalkulasi untung-rugi dari pilihan sikap yang diambil Wood. Dan hal itu bisa dimaklumi karena keberaadaan tim manajemen tersebut merupakan tuntutan industri pencitraan global.

Jika kita bercermin ke sosok pesohor negeri amburadul Indonesia sulit berharap ada diantara mereka yang berani bersikap seperti Wood. Jika pun ada, mereka biasanya tampil penuh pembelaan diri dan pengingkaran serta kerap memposisikan diri sebagai pihak yang kalah atau teraniaya oleh pihak lawan mereka. Gambaran sikap tersebut gamblang sepanjang enam tahun terakhir di Indonesia.

Dalam hal citra diri para pesohor Indonesia melaju cepat mengamerikaserikat (berusaha keras menjadi seperti Amerika Serikat). Pencitraan menjadi bidang usaha paling diminati. Bidang usaha tersebut pun memicu lahirnya bidang usaha lain yang terkait, seperti usaha jasa konsultan pemasaran, yang rumusnya tidak berbeda dengan biro-biro iklan yang secara tradisional bekerja mengemas barang dan jasa agar mampu menerobos dan merebut prioritas belanja rumah tangga masyarakat, yang ber(di)posisi(kan) sebagai pelanggan atau konsumen. Dan citra diri adalah salah satu mata usaha industrial pilihan saat ini.

Kokohnya posisi citra diri bahkan di arena politik berhasil mereduksi ukuran keberhasilan kerja pengurus negara semata-mata sebagai citra yang bisa direkayasa dan diukur lewat pendapat umum menggunakan poll atau survai-survai cepat. Eep Syaifulah Fatah dan PolMark-nya adalah salah satu contoh yang turut meramaikan persaingan di bidang usaha ini bersama para pendahulunya, seperti LSI, Fox Indonesia, dan sebagainya. Prinsip yang digunakan persis sama dengan pendekatan propaganda intimidatif: Terlepas dari benar tidaknya pesan, jika disampaikan terus menerus secara konsisten akan diterima oleh publik sebagai sebuah kebenaran

Industri citra dan pencitraan membuat dunia dan tatanan kehidupan di atasnya banyak melahirkan orang-orang pengecut. Industri ini pun saya duga telah berhasil menguburkan nilai-nilai ksatria yang dan ketauladanan berintegritas yang umumnya bertumbuh lewat proses yang lama dan memakan biaya dan pengorbanan luarbiasa. Lewat industri citra dan pencitraan ketokohan dan ketauldanan dapat direkayasa dengan cepat. Publik sebagai konsumen memang sudah terkerangkeng pada pola pikir pentingnya proses yang lebih cepat, praktis serta instan.

Ada pengalaman di masa lalu tentang sikap ksatria seperti yang ditunjukkan Tiger Wood, yang didemonstrasikan para politikus di Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, atau di beberapa negara di Eropa. Beberapa waktu lalu ada beberapa pemberitaan tentang mundurnya politikus dari jabatan tinggi dalam pengurusan negara serta mengakui kegagalan mereka di hadapan publik dalam merawat dan melaksanakan amanat yang mereka emban. Ini adalah contoh yang langka kita lihat di Indonesia.

Tentu masih segar ingatan kita pada beberapa skandal politik kekuasaan yang terbongkar, dimana mereka yang mengemban jabatan pemimpin (atau mungkin lebih tepat disebut sebagai pimpinan?) mengorbankan jajaran di bawahnya untuk mengambil alih tanggung jawab kegagalan mereka. Demikian pula halnya dengan keberhasilan yang seharusnya menjadi klaim kolektif direduksi hanya sebagai milik perseorangan mereka yang berkuasa. Saya tidak akan pernah lupa dengan nasib beberapa orang prajurit lapis bawah yang harus menutup mulut mereka untuk berperan menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam kasus penembakan mahasiswa Trisakti, Mei 1998, demi menjaga citra pimpinan dan lembaga mereka.

Tiger Wood sudah membuka tahun Macan 2010, yang diramalkan sebagai tahun yang penuh intrik dan kekerasan, dengan sebuah sikap ksatria dan berani membuka aib diri serta meminta maaf atas pembohongan publik (lewat citra dan pencitraan) yang menutupi-nutupi kelakuannya.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Gerbang abad (Centurygate): Selamat datang di rumah teka-teki paling mutakhir..

Awicaks

Gerbang abad, nama kampung dari frasa yang setiap hari mendominasi koran-koran lokal dan nasional, Centurygate. Skandal yang diduga melibatkan nama-nama besar, yang menjadi alat tawar menawar politik kekuasaan sepanjang lebih dari empat bulan terakhir. Dan sudah menjadi tradisi negeri ini, tidak pernah ada skandal yang terungkap tuntas, meski ia sudah melampaui tengat lebih dari tigapuluh tahun, seperti halnya di Amerika Serikat atau negara lain. Penyebabnya cuma satu: Tidak ada seorang pun pemimpin yang berkarakter, yang bersifat ksatria, jauh dari sikap dan perilaku pengecut. Gerbang abad atau Centurygate adalah panggung tonil kolosal tentang kepengecutan.

Antrian skandal politik paling kontemporer yang tidak (akan pernah) terungkap sudah sangat panjang, mulai dari kasus penculikan dan penghilangan aktivis pada masa hiruk-pikuk Reformasi, pembunuhan wartawan Bernas, Udin, pembunuhan aktivis buruh Marsinah, hingga skandal pembunuhan tokoh pembela hak-hak asasi manusia, Munir. Belum lagi jika ditarik ke belakang pada masa rejim kekuasaan Orde Baru di bawah almarhum Suharto, yang rentang waktunya dimulai sejak 1965.

Diakui atau tidak, citra diri adalah segala-galanya bagi yang menganggap diri mereka pemimpin bangsa dan masyarakat di negeri ini. Sehingga kita dipaksa membiasakan diri untuk menerima argumen, mereka yang “terbukti” terlibat skandal adalah pihak yang kalah dari suatu pertarungan kekuasaan diantara mereka. Kebenaran di negeri ini senantiasa terpeleset dan tertukar dengan kata kebetulan. Hakekat kebenaran, yang menuntut keberanian bersikap, senantiasa dimanipulasi dengan kisah-kisah heroik pembuktian yang lebih bersifat prosedural tentang “betul” atau “salah”. Padahal bukti merupakan sesuatu yang paling mudah dimanipulasi di negeri amburadul ini. Dalam konteks citra dan pencitraan, bukti adalah bagian dari proses rekayasa dan penciptaan.

Centurygate adalah kombinasi canggih dari kepengecutan dan citra (dan pencitraan) sebagai tulang punggung naskah pertunjukkan tonil yang didominasi adegan pertempuran orang-orang yang memegang kekuasaan. Apa yang terjadi jika orang-orang yang begitu bergantung kepada citra dan pencitran berperang satu sama lain? Mereka pun saling membongkar aib. Rekayasa, dari yang paling tolol hingga yang paling canggih, dimainkan dan diperagakan sedemikian rupa untuk meyakinkan publik bahwa salah satu pihak adalah yang betul dan pihak lain adalah yang bersalah. Racikan kepengecutan dan kegatihan citra dari pertunjukan tonil kolosal Centurygate sejauh ini semakin tidak berujung pangkal. Namun minimal pertunjukkan tonil ini sedikit lebih baik dibandingkan sinetron Indonesia: Sulit ditebak ujung pangkalnya.

Maka tidak perlu terkejut dengan pilihan manuver tolol dan dangkal berupa pengalihan perhatian, seperti yang dilakoni salah seorang dari tiga orang pengacara hebat versi Kompas, pada salah satu sidang DPR yang heboh itu. Pertunjukkan tonil kolosal Centurygate hanya sekedar siasat mengulur waktu demi membuka ruang-ruang negosiasi diantara mereka. Dan seperti tradisi skandal politik lainnya di negeri amburadul ini, Centurygate terasa didorong sedemikian rupa hingga publik merasa muak untuk mengikutinya, dan ia akan “menguap dengan sendirinya”.

Para korban lumpur Lapindo tentu merasa kesal luar biasa karena perhatian orang tidak lagi menyorot nasib mereka yang ditinggalkan begitu saja oleh para pemimpin pengecut, karena media-media pemberitaan tidak lagi menganggap skandal kelalaian operasional industri PT Lapindo Brantas sebagai isu yang layak jual. Skandal PT Lapindo Brantas bolehjadi masuk ke dalam radar perang citra para politikus jika pihak lawan Ketua Umum Partai Golkar ingin menggunakannya (sekedar) sebagai amunisi (tambahan) serangan terhadap citra, memperkuat amunisi skandal pajak yang saat ini digunakan. Tentu saja sulit berharap akan ada tindakan heroik luarbiasa yang berujung pada penyelamatan warga korban, yang akan ditampilkan pihak lawan Ketua Umum Partai Golkar, yang kabarnya sudah berhasil membersihkan namanya dari semua kertas-kertas hukum terkait dengan kepemilikan atas PT Lapindo Brantas.

Gerbang abad atau Centurygate adalah rumah teka-teki yang tidak akan pernah bisa memberikan jawaban bagi publik. Semua perangkat hukum (prosedural), baik yang bersifat struktural maupun yang ad-hoc (seperti KPK), bukan seperangkat instrumen solutif. Demikian halnya dengan pers dan media, yang saat ini berada dalam kegalauan antara tuntutan mengindustri dengan idealisme dan aktivisme sebagian kalangan pewarta, terutama mereka yang lahir dan tumbuh dari gegap-gempita Reformasi 1998. Kedua perangkat tersebut harus diakui adalah bagian tak terpisahkan dari masalah integritas kepemimpinan bangsa ini, yang didominasi oleh sikap dan perilaku pengecut, serta hiruk-pikuk citra dan pencitraan.

Sebagai warag kebanyakan, tidak ada yang dapat kita lakukan selain memastikan keselamatan diri kita sendiri dulu demi mempertahankan produtifitas yang menjadi sumber daya bertahan hidup (survival) di negeri amburadul ini. Bagi warga kebanyakan yang masih punya minat menonton pertunjukkan tonil kolosal di Senayan, “Selamat datang di gerbang abad atau Centurygate, rumah teka-teki paling mutakhir negeri amburadul Indonesia.”

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, February 21, 2010

Muhammad Supardjono, Si Tukang Cukur

Sesuai kebiasaan Jawa, pangkal nama Muhammad jarang diucapkan, bahkan biasanya dipanggil Muh, plus nama asli. Sesungguhnya tidak ada yang istimewa untuk menampilkan sahabat kita yang kini telah berusia 76 tahun ini

Oleh Ahmad Syafii Maarif | Opini | Kompas Cetak | 18 Februari 2010

Jika Anda berbelok dari arah timur Jalan Diponegoro Yogyakarta sampai di simpang empat Jalan Magelang, kemudian bergerak terus ke utara, ada jalan kampung ke jurusan barat menuju Pasar Jambon. Sekitar dua kilometer kemudian, ada jembatan yang baru direnovasi.

Hanya beberapa meter dari jembatan itu, di sisi kiri jalan ada plang Potong Rambut. Di situlah ”istana” tempat sahabat kita ini bekerja dengan tarif Rp 5.000 per kepala. Juga di sana pula dia tinggal di atas sebidang tanah seluas 130 meter persegi (m) milik anaknya, seorang anggota TNI Angkatan Darat yang dinas di Kebumen.

Anak yang lain ada yang pegawai negeri dan swasta. Pernah bermukim di Palembang selama enam tahun menjalani profesinya, tetapi setelah istrinya wafat, ia mudik ke Yogyakarta. Dipagari dinding bambu yang sudah sepuh dan rapuh, Supardjono yang juga ahli urut dan pemimpin salawat nabi dalam bahasa Jawa tampak senantiasa santai. Tak peduli skandal Bank Century yang heboh, juga tak mau tahu dengan pemimpin peragu, tetapi dia resah dengan harga-harga sembako yang mulai berangkat naik.

Sebagai pelanggan, saya menikmati berbincang dengannya, apalagi dengan urut sekaligus. Ada pensiun Rp 200.000 saban bulan yang diterimanya dari Natour Hotel Garuda, tempat ia lama bekerja. Anda jangan mengira pria seumur itu tak kuat lagi membanting tulang. Sawah disewanya untuk tambahan penghasilan. Sekarang saja ada 3.600 m sawah yang tengah digarapnya pagi dan sore.

Sendirian mencangkul. Setelah dipotong biaya untuk keperluan luku, tanam benih, dan tuai, penghasilan bersihnya sekali panen (dalam tempo 100 hari) setelah diparo dengan pemilik, jika padi tak diserang hama, tersisa sekitar Rp 500.000 untuk garapan 1.000 m. Ini sebenarnya tidak lain dari upah cucuran keringatnya dalam usia tua.

Sebagai tukang cukur dan urut, ia punya relasi yang luas. Ada mantan sopir pelukis Affandi yang juga seorang pelukis sering nongkrong di gubuk itu sambil bercukur. Pendek kata, ia tak pernah kesepian. Istri barunya yang juga sudah tua tak serumah, tetapi makanan sering diantar. Saat saya tanya mengapa demikian? Jawabnya enteng: ”Sampun sami-sami sepuh.” Sebagai tukang urut profesional, ia cukup piawai bagaimana agar aliran darah (bukan aliran dana Century) dalam tubuh manusia menjadi lancar. Punya sedikit pengetahuan anatomi tubuh manusia.

Dalam serba kesederhanaan, hidupnya terlihat tenang, yang membuat saya kadang-kadang merasa ”iri” kepadanya. Dalam usia yang hampir sebaya, saya merasakan harga ketenangan itu sering jadi mahal, mahal sekali, apalagi jika kita punya banyak urusan yang berketiak ular, tak jelas ujungnya, sampai satu saat dihentikan secara tiba-tiba oleh kekuatan dahsyat yang tidak dapat ditolak: maut!

Cahaya kearifan

Sekiranya para petinggi negara dan kita semua mau ingat akan kehadiran kekuatan dahsyat itu, tentu energi bangsa ini tak akan habis sia-sia. Pertimbangan moral pasti dijadikan acuan utama dalam berpikir dan berbuat sehingga warga negara seperti Supardjono yang masih bertahan dengan sisa stamina fisik dan semangatnya bisa menjalani hidup lebih baik. Jumlah penganggur pasti akan jauh menyusut dan secara berangsur tujuan kemerdekaan berupa keadilan dan kesejahteraan buat semua bukan lagi mimpi, tetapi kenyataan. Pertanyaannya: masih adakah di antara pemimpin yang mau berpikir tentang maut yang terkait erat dengan sikap dan konstruksi moral seseorang?

Satu kali ia mengeluh kepada saya tentang tingkah tetangga setengah baya yang isi otaknya hanya uang dan uang. Bapaknya sendiri yang membesarkan orang itu tidak jarang diperlakukan sebagai pembantu, padahal tanah dan rumah yang ditempatinya adalah milik bapaknya. Panorama semacam ini pun menjadi perhatian tukang cukur kita ini.

Saya tak bisa membayangkan sekiranya Supardjono mengerti betul tentang kultur busuk yang melingkungi sekujur tubuh anak bangsa yang sering bangga dengan agama yang dipeluknya, dia mungkin tak bisa tidur karena semuanya itu sudah berada di luar radius nalar dan nuraninya yang belum tercemar.

Ternyata selalu saja ada kedipan cahaya kearifan dan nurani yang berfungsi di celah-celah kehidupan rakyat kecil yang jumlahnya puluhan juta, bertebaran di seluruh sudut Nusantara. Optimisme masa depan kita sering diperkuat contoh-contoh sederhana yang sering diabaikan di tengah-tengah rapuh dan kelamnya cuaca moral kita sekarang.

Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah
(c) 2008 - 2009 KOMPAS.com - All rights reserved

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Monday, December 21, 2009

Produsen adalah raja! Ini Indonesia, Bung!

Awicaks

Slogan yang umum kita dengar, “konsumen adalah raja,” atau seperti yang dilantunkan Paul Simon dan Art Garfunkel pada akhir tahun 60an menjelang awal 70an, “Keep Customers Satisfied”, agaknya tidak berlaku di Indonesia. Di negeri amburadul ini justru terbalik, “produsen adalah raja.” Tugas konsumen adalah membeli barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen, titik. Tidak boleh cerewet, tidak boleh mengeluhkan mutu, dan jika coba-coba menyebarluaskan lewat media Internet dan elektronik bisa tentang buruknya mutu barang dan jasa yang dihasilkan produsen, konsumen dapat dituntut secara hukum.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) didirikan oleh para aktivis sosial di akhir tahun 70an sebagai prakarsa menumbuhkan kesadaran publik tentang hak-hak mereka sebagai pemakai atau konsumen untuk dapat menikmati barang dan jasa yang aman dan terjaga mutunya. Namun arogansi gerombolan produsen di Indonesia begitu kukuh dan tidak tergoyahkan oleh terus bertumbuhnya kesadaran kritis publik sebagai konsumen. Selain karena dipermudah oleh birokrasi dari tata pengurusan Negara yang begitu korup, juga disebabkan oleh intimidasi instrumen pembodohan publik yang bersifat sistemik, baik lewat bombardir iklan-iklan yang mampu merontokkan konsep dan teori kebutuhan Maslow maupun melalui suatu tata pengaturan sepihak oleh Negara. Maka orang di kepulauan yang secara sejarah tidak pernah punya tali emosi dan biologik dengan produk-produk yang berasal dari susu sapi, gandum, daging sapi yang bukan spesies asli (exotic species), serta buah-buahan impor, berhasil ditaklukkan dan menjadikan produk olahan dari sumber tadi sebagai bagian tidak terpisahkan kebutuhan sehari-hari.

Ambruknya wibawa Negara yang takluk di hadapan para produsen barang dan jasa industrial menjadikan orang Indonesia sebagai konsumen bodoh dan tidak kritis, serta menjadi sasaran empuk bagi barang dan produk buangan dari negara-negara industri kaya. Orang yang secara tidak sengaja menelan sebuah besi stapler, yang entah bagaimana berhasil menyusup ke sebuah makanan kemasan, hanya bisa pasrah menerimanya sebagai nasib sial. Minimal mereka hanya mampu melontarkan sumpah serapah. Menuntut secara hukum produsen makanan kemasan tersebut? Itu mimpi di siang bolong, mengingat bobrok dan korupnya tata hukum dan peradilan di negeri kepulauan ini, yang juga telah takluk di hadapan kuasa-kuasa modal yang terlibat proses produksi barang dan jasa yang dikonsumsi publik.

Saya kira kisah Ibu Prita yang bergunjing lewat email tentang buruknya pelayanan Rumah Sakit Omni International, hanyalah fenomena puncak gunung es. Kasus tersebut boleh dikatakan mewakili potret keangkuhan dan kecongkakan produsen barang dan jasa industrial di negeri ini. Sudah jadi pengetahuan umum, di bawah alam ekonomi-politik yang neoliberalis di Indonesia, kebutuhan orang Indonesia sebagai warganegara terhadap kesehatan dan pendidikan tidak lagi dijamin Negara. Mereka mesti merogoh kocek, bersaing dengan prioritas belanja lain, demi memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan. Rumah Sakit Omni International pun harus dilihat sebagai sebuah mesin industri pelayanan kesehatan. Gunjingan Ibu Prita telah dianggap sebagai usaha mencemari citra positif dan jasa pelayanan kesehatan rumah sakit bersangkutan.

Situasi diperparah oleh realita berbisnis yang tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kecenderungan untuk memperbesar ambang-laba (profit margin), dengan siasat pengalihan dampak-dampak negatif proses produksi terhadap lingkungan sekitar menjadi unsur di luar neraca produksi mereka. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta kerja-kerja pencitraan lewat jasa kehumasan (Public Relations, PR) sebagai usaha mengeksklusi dampak-dampak negatif menjadi unsur eksternal proses produksi sudah menjadi hal yang tidak dipisahkan dari tata-nilai dan praktik berbisnis di Indonesia. Keluhan dan protes konsumen cukup dilayani lewat respon yang pembiayaan berasal dari mata anggaran komunikasi eksternal, bukan dari mata anggaran proses produksi. Hal tersebut pun berlaku bagi unsur-unsur manajerial produksi yang terkait dengan mutu keluaran, seperti ISO maupun perangkat Total Quality Management (TQM) yang diimpor dari pola-pola produksi di negara-negara industri kaya yang kedisiplinan dan kepatuhan hukum sudah tegak berdiri. Kalangan produsen Indonesia tidak akan pernah berkeberatan untuk mengadopsi perangkat-perangkat serupa sepanjang tidak mengganggu ritual pembengkakkan ambang laba mereka.

Apakah mungkin di Indonesia para konsumen melakukan konsolidasi untuk memboikot produk atau jasa industrial tertentu? Sepanjang pengetahuan saya, sulit dilakukan. Jika pun ada, seperti yang pernah terjadi pada produk bumbu penyedap masakan, Ajinomoto, yang rontok karena ditengarai mengandung lemak babi di dalam produk mereka pada akhir tahun 90an, itu bukan hasil suatu tindak boikot oleh publik, melainkan hasil dari pengerahan sentimen publik oleh kuasa elit agamis, yang memperoleh dukungan kuasa politik Negara. Tali temali kepentingan kalangan produsen barang dan jasa industrial dengan elit politik dan elit kuasa Negara begitu erat dan rumit. Selain itu, tata konsumsi orang Indonesia sudah sedemikian jauh terjerat ketergantungan kepada barang dan jasa industrial, bahkan hingga ke pelosok-pelosok di kepulauan. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari jasa siaran televisi swasta, yang daya jangkaunya mampu membombardir pola kebutuhan tradisional dan bergeser menjadi pola konsumsi industrial.

Sulit ditolak, bahwa produsen adalah raja. Ini Indonesia, Bung!

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Friday, March 06, 2009

Where Have You Been?

Awicaks

Ada saat ketika rasa muak sudah melampaui ambang yang dapat diterima akal sehat. Saat itulah kemarahan telah melampaui batas kewarasan. Ia tidak perlu menjadi sebuah kemurkaan, namun setidaknya ia mampu mengunci dorongan-dorongan tertentu, fisik maupun kejiwaan. Itulah yang saya alami sejak menjelang batas akhir tahun hingga, kira-kira, beberapa hari lalu. Sebuah perjalanan reflektif yang membuat saya harus mengambil keputusan terbaik meskipun harus berpisah dari lingkungan yang selama ini saya anggap sangat menyenangkan.

Saya tidak punya masalah dengan wadah berikut semua tata-nilai dan tata-laksana serta legenda-legendanya. Saya pun tidak punya masalah dengan kawan-kawan yang bertebaran di berbagai pelosok jagad. Saya hanya tidak bisa berada satu atap dengan orang-orang pengecut, berkarakter pengadu dan khianat, yang menghuni wadah perwakilan di negeri amburadul ini. Saya pun tak pernah sudi bekerjasama dengan segerombolan egomaniak yang begitu gemar bermain-main dengan kekuasaan. Saya tidak punya waktu untuk melayani segala sampah seperti itu. Ada banyak hal yang menurut hemat saya jauh lebih penting untuk diurus dibandingkan terlibat di dalam lingkungan berbau busuk. Sesederhana itu.

Beragam reaksi saya terima ketika pertama kali mengumumkan pengunduran diri saya. Harus saya akui, saya sangat sedih menerima reaksi-reaksi tersebut. Namun saya harus berjalan dengan kepala tegak, membalas reaksi-reaksi itu dengan senyum dan jabat erat, sambil berkata yakin, “We’ll work together some time in the future, I’m sure….” Sambil membalikkan badan, saya melangkah meninggalkan wadah ingar-bingar itu. Saya kembali menyapa sobat-sobat lama yang untuk beberapa waktu saya tinggalkan karena tuntutan pekerjaan yang begitu menyita waktu. Mereka menyambut saya dengan hangat dan senyum penuh rindu.

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Wednesday, December 24, 2008

Laki-laki, Huru-Hara Hati, Ha-Ha-Hi-Hi, Reuni

Awicaks

Ketika seorang laki-laki melewati batas usia di atas empatpuluh tahun sederetan pikiran yang umum didengungkan pun menyergahnya. Puber kedua, butuh suntikan gelora baru, semakin percaya diri, paranoid terhadap kondisi kesehatan, semakin ciut nyali dalam mengambil keputusan, dan sebagainya. Sebagai usia biologik, usia empatpuluh bolehjadi adalah titik kulminasi daya tahan dan kemampuan fisik, yang di tahun-tahun kemudian perlahan akan mulai menunjukkan grafik menurun. Namun sebagai usia psikologik, usia empatpuluh tidak dapat secara sederhana dibaca dengan tafisr tunggal. Apakah mungkin mirip dengan keadaan ketika laki-laki itu dulu melewati masa pancarobanya pada masa remaja? Serba tak jelas, serba tak pasti, bingung? Atau, justru sebaliknya? Serba pasti, jelas arah dan tujuan?

Terasa aneh ketika tiba-tiba bertemu kembali dengan kawan-kawan masa sebelum kuliah, yang terpisah secara fisik dan emosi dengan rentang waktu lebih dari duapuluh tahun. Ketika bertemu kawan-kawan yang telah melewatkan masa-masa pancaroba bersama-sama, tawa lepas meledak begitu saja ketika melihat perubahan drastik fisik masing-masing. Tak terbayang bahwa seorang kawan yang dulu begitu kurus kering dan dekil, kini tampil menawan dengan tubuh padat berisi. Namun demikian, setelan otak tiba-tiba dengan mudahnya berubah kembali persis seperti duapuluh tahun lalu. Citra diri yang mungkin dijaga sebaik-baiknya ketika berada pada situasi kerja atau di rumah lenyap dengan mudah. Namun keceriaan tersebut berlangsung hanya sekejap. Ketika komunikasi kian intensif, mulai terasa perbedaan-perbedaan tajam yang membuat suasana tidak lagi sehangat ketika pertama kali bertemu-ulang.

Namun tak mudah untuk menjaga agar keceriaan dan kegembiraan terus bertahan dengan setelan otak dan emosi duapuluh tahun lalu. Saat berkumpul bersama begitu berbeda ketika kembali ke realita sehari-hari dengan latar waktu sekarang. Skizoprenia dengan takaran rendah mungkin mulai terasa. Dan itu bergantung kepada kepiawaian masing-masing mengelola tombol-tombol di otak, kapan bersikap dan berlaku liar dan urakan, kapan bersikap dan berlaku serius dan bertanggungjawab. Sebagai obat bagi kejenuhan realita hidup pada masa sekarang berkumpul-ulang agaknya sangat manjur. Ia adalah suntikan gelora baru yang membuat segar benak. Huru-hara hati yang awalnya begitu mengganggu ketika menapak usia empatpuluh pelan-pelan terobati. Kumpul sekedar ber-ha-ha-hi-hi agaknya ampuh menjadi tempat sampah psikologik tekanan-tekanan yang seringkali tak mudah diurngkapkan dan dijelaskan baik secara verbal maupun dalam pikiran. Tentu saja dengan kesadaran bahwa ada realita yang tak dapat dihindarkan: Perubahan. Sekeras apa pun usaha untuk berusaha menyegarulangkan pikiran, ia tak mampu melawan waktu yang pelan-pelan menggerogoti daya tahan dan kemampuan fisik.

"Berapa kadar kholesterol-lu?" Seorang kawan bertanya spontan kepada kawan yang lain yang tubuhnya begitu subur. Pertanyaan yang mungkin tidak pantas dilontarkan diantara laki-laki usia sekitar empatpuluh tahun. Tetapi karena setelan otak berada pada masa duapuluh tahun lalu pertanyaan itu dirasakan sebagai hal umum, yang menyadarkan semua bahwa kita tidak muda lagi. Dan lucunya, kita semua pun kembali ke masa silam dengan sikap sok jago dan ingin unggul sendiri. Berbeda dengan masa lalu, kini kita justru ingin pamer keunggulan masing-masing dalam merawat kesehatan. Namun sikap ugal-ugalan tak juga mudah dilepaskan. Bualan-bualan pun tak terhindarkan, terutama tentang obat-obat manjur yang mampu menjaga kesehatan tanpa mengorbankan kegemaran terhadap makanan-makanan lezat tetapi kaya racun. Sungguh, huru-hara hati tentang keadaan kesehatan diri dan kecanggungan psikologik seperti lenyap dengan mudah diselingi ha-ha-hi-hi.

Bagaimana dengan yang dirasakan dan dialami oleh kawan-kawan perempuan? Apakah mereka merasakan hal yang sama? Merasa memperoleh saluran yang luarbiasa untuk dapat mengekspresikan segala perilaku dan sikap di masa lalu? Entahlah....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Sunday, December 21, 2008

Keselamatan Itu Mahal! Jaga Diri Baik-baik...

Awicaks

Mahal yang saya maksud bukan perkara nilai moneter biaya, tetapi karena absennya sarana publik penunjang yang dirancang dan dibangun untuk sedapat mungkin menjamin keselamatan warga. Pada akhirnya diri sendirilah yang harus mengusahakannya, karena tak ada gunanya menunggu tampilnya orang-orang yang (kabarnya) disebut pemimpin untuk mengupayakan jaminan tersebut. Dan struktur pendukung, berupa kebijakan Negara, pun memang tidak disediakan, kecuali ia disatukan sebagai layanan publik yang berbayar secara progresif. Semakin besar bayarannya, semakin baik pelayanannya. Meskipun untuk kasus Indonesia rumus linear itu tak selalu berlaku.

Saya seringkali kesal jika harus mengeluarkan biaya untuk membayar premi beberapa asuransi sekaligus. Ini sebuah dilema bagi saya. Di satu sisi, saya paham betul bagaimana peran perusahaan jasa asuransi sebagai alat penyedot dana publik paling efektif, sementara di sisi lain saya menyadari bahwa saya harus melindungi diri seefektif mungkin jika tidak ingin runyam hidup di negeri amburadul macam Indonesia. Jika kebetulan selama masa berlakunya polis asuransi saya tidak mengalami masalah kesehatan serius, saya hanya bisa mengumpat, atau minimal mengurut dada, melihat uang saya melayang begitu saja masuk ke pundi-pundi perusahaan jasa asuransi.

Ada pilihan lain, yakni hidup dengan pola yang sehat. Ini lebih mahal, menurut saya. Mahal secara fisik dan mahal secara mental. Ada beberapa ketelanjuran pola hidup tak sehat yang sulit sekali (secara mental) untuk ditinggalkan, seperti merokok, pola makan tanpa pantangan, atau berolahraga secara tak teratur. Saya pernah mencobanya, tetapi justru saya mengalami sakit secara mental. Saya merasa tidak semerdeka yang saya inginkan. Saya seperti hidup dalam kekhawatiran. Tetapi saya paham bahwa seiring bertambahnya umur daya tahan tubuh tak bisa lagi dibohongi dengan pikiran-pikiran sugestif, "Tenang saja, saya akan baik-baik saja...." Inila satu-satunya tantangan terbesar dan terberat. Menaklukkan diri sendiri untuk mulai hidup dengan pola yang sehat.

Saya baru saja pulang menjenguk adik ipar, yang kini terbaring di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Ia yang selama ini hidup di bawah naungan obat pengendali tekanan darah, harus menerima kenyataan efek samping perawatan tersebut, berupa gagal ginjal. Memang itu bukan efek samping yang muncul begitu saja. Mestinya ada predisposisi yang mempermudah timbulnya gagal ginjal, seperti intensitas minum air tawar. Atau mungkin karakter khas metabolisme tubuhnya. Saya hanya bisa prihatin. Usianya masih muda tetapi sudah harus menjalani proses cuci darah (hemodialisis) secara teratur, hingga dokter memutuskan ia bisa terbebas dari proses tersebut.

Sepanjang perjalanan pulang saya merenung. Saya merasa masa-masa memanjakan kemerdekaan diri saya harus mulai dibatasi. Hidup di Indonesia mesti pandai menjaga diri. Tetapi saya harus mulai darimana? Wah, ini yang sulit diputuskan....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Septic Tank Raksasa Itu Bernama Negara-negara Berkembang

Awicaks

Akrobat diplomasi ini dimulai ketika untuk pertama kalinya Protokol Kyoto pertama kali diadopsi pada 11 Desember 1997 di Kyoto, Jepang dan kemudian mulai didorong penegakannya pada 16 Februari 2005. Protokol Kyoto merupakan perjanjian internasional sebagai bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), yang bertujuan mencapai "stabilsasi konsentasi gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfer pada suatu tingkatan yang mampu mencegah timbulnya tekanan kegiatan-kegiatan manusia yang membahayakan sistem iklim."

Protokol Kyoto menetapkan komitmen yang mengikat secara hukum negara-negara yang meratifikasinya dalam pemangkasan emisi empat unsur GRK (karbon dioksida, methana, nitrous oksida, sulfur hexafluorida), serta dua kelompok gas (hidrofluorokarbon dan perfluorokarbon) yang dihasilkan oleh negara-negara "Annex I" (industri maju), serta sebagai komitmen bersama seluruh negara anggota. Di bawah Protokol Kyoto, negara-negara industri maju sepakat untuk memangkas secara kolektif emisi gas-gas rumah kaca (GRK) mereka hingga 5,2% dibandingkan tahun 1990. Kisaran porsi setiap negara adalah antara 8% bagi Uni Eropa dan beberapa negara, 7% bagi Amerika Serikat, 6% bagi Jepang, serta 0% bagi Russia.

Protokol Kyoto mencakup suatu "mekanisme yang fleksibel" yang meliputi Pertukaran Emisi (Emissions Trading), Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism) serta Penerapan Bersama (Joint Implementation) guna memberi kesempatan negara-negara Annex I mencapai target pembatasan emisi GRK dengan membeli kredit pemangkasan emisi GRK dari berbagai sumber, melalui pertukaran keuangan, proyek-proyek yang mampu mengurangi emisi di negara-negara non-Annex, atau dari negara-negara Annex I yang memiliki kelebihan selisih nilai emisi. Sementara itu, negara-negara non-Annex I tidak memiliki pembatasan-pembatasan emisi GRK, tetapi memiliki hak memperoleh insentif keuangan untuk mengembangkan proyek-proyek pengurangan emisi GRK agar dapat menerima "kredit karbon" yang kemudian dapat dijual kepada pembeli dari negara-negara Annex I, guna mendorong dilaksanakannya pembangunan berkelanjutan.

Mekanisme yang fleksibel itu membolehkan negara-negara Annex I yang memiliki industri yang efisien, rendah emisi GRK-nya serta standar pengelolaan lingkungan yang baik untuk tidak menurunkan emisi GRK domestik mereka dengan membeli karbon kredit di pasar dunia. Negara-negara Annex I umumnya berusaha mendapatkan kredit karbon semurah mungkin, sementara negara-negara Non-Annex I berupaya memaksimalkan nilai kredit karbon dari proyek-proyek GRK domestik mereka. Di sinilah pangkal dari operasi tambah kurang kepentingan ekonomi-politik serta geopolitik yang mewarnai putaran-putaran perundingan sepanjang lebih dari limabelas tahun terakhir, yang berujung pada penundaan-penundaan pelaksanaan kewajiban pemangkasan emisi GRK negara-negara Annex I.

Sudah dari rancangannya negara-negara kere yang bernaung di bawah Non-Annex I harus bermental baja untuk menjadi lubang penampung kotoran atau septic tank bagi negara-negara industri maju (Annex I). Ibarat sebuah ruang tertutup berisi lima orang, dimana dua diantara mereka perokok berat dan tiga orang lagi bukan perokok. Ketiga orang yang bukan perokok itu meminta kedua orang perokok itu menghentikan kegiatan merokok mereka, atau setidaknya mengurangi frekuensinya. Alih-alih menghentikan atau mengurangi frekuensi merokok, kedua orang itu akan memberi ketiga orang yang lain insentif dalam bentuk apa pun, yang pada intinya merupakan upaya agar kedua orang tadi dianggap telah mengurangi frekuensi merokok mereka.

Negara-negara Non-Annex I yang sedianya tidak memiliki kewajiban memangkas emisi GRK mereka seketika tertimpa beban yang sama dengan negara-negara Annex I, ketika emisi karbon dioksida yang berasal dari penggundulan hutan (deforestasi) ditambahkan ke dalam rumusan, yang penjajakannya sudah dimulai semenjak Konvensi Parapihak atau Conention of the Parties (COP) ke-11 di Montreal, Kanada, pada Desember 2005. Sebelumnya pemberagaman sumber emisi yang memberi beban pembatasan bagi negara-negara Non-Annex I sudah dimulai sejak diadopsinya tata-guna lahan dan perubahan tata-guna lahan pada kehutanan atau land use and land use change in forestry (LULUCF), yang menimbulkan perdebatan besar pada COP ke-7 di Marakech, Maroko, pada 2001. Perdebatan terutama seputar kecilnya manfaat insentif yang diterima negara-negara Non-Annex I, karena rumitnya prosedur CDM serta tingginya biaya transaksi pelaksanaan mekanisme tersebut.

Mentalitas septic tank bukan hal yang hina bagi para juru runding asal negara-negara Non-Annex I. Dengan gagah berani mereka akan menantang negara-negara Annex I untuk menunjukkan kemampuan finansial mereka agar memberikan insentif sebesar-besarnya. Kenyataan yang pahit ketika banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat emisi negara-negara Annex I justru terus meningkat, meskipun sudah triliunan dollar mengalir melalui pelaksanaan mekanisme yang fleksibel tersebut. Bahkan gejala-gejala dampak perubahan iklim terus menunjukkan sosok kongkretnya. Adalah negara-negara pulau-pulau kecil yang tergabung pada Alliance of Small Island States (AOSIS) yang bersuara paling keras, menuntut agar negara-negara Annex I tidak hanya bermain-main dengan mekanisme fleksibel penurunan emisi, tetapi sungguh-sungguh memangkas emisi mereka dengan memperlambat pertumbuhan ekonomi mereka yang agresif. Kenaikan muka air laut akibat pemanasan global adalah ancaman kongkret yang setiap saat dapat datang mengetuk pintu negara-negara pulau kecil.

Perundingan-perundingan yang terus berlangsung, yang diharapkan berujung pada keputusan-keputusan tegas lewat COP ke-15 tahun depan di Copenhagen, Denmark, menurut hemat saya masih jauh panggang dari api. Satu hal yang membuat saya berkeyakinan seperti itu adalah, karena tidak ada upaya membereskan satu hal mendasar: Pemangkasan emisi GRK tidak hanya dilakukan lewat pelambatan laju pertumbuhan ekonomi negara-negara Annex I, tetapi membutuhkan perombakan total (overhaul) bangun ekonomi-politik dunia baik secara paradigmatik maupun praktik, yang berorientasi kepada persebaran manfaat yang berkeadilan, dan upaya serius mengurangi menumpuknya jejak ekologik teknologi kotor serta tata-guna lahan yang mendorong merosotnya kemampuan lingkungan dan daya hidup manusia.

Forum Organisasi-organisasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim memandang perubahan iklim sebagai bukti tak-terbantahkan rudinnya model pembangunan global yang sepanjang lebih dari lima dekade didorong oleh negara-negara industri maju ke seluruh dunia. Sebuah model pembangunan yang rakus tanah, rakus minyak, rakus buruh murah, rakus air, rakus mineral, dan mempercayai efektifnya proses penetesan kemakmuran dari kelompok berhasil kepada kelompok kurang atau tidak berhasil. Perubahan iklim hanyalah gejala. Ibarat penyakit, ia adalah gejala dari sebuah penyakit khronik yang tak-tersembuhkan dan tak-terpulihkan. Dan arena-arena diskusi tentang jalan keluar diberi judul adaptasi dan mitigasi, yang menunjukkan “keengganan berubah” kelompok-kelompok yang selama ini menerima manfaat terbesar model pembangunan global tersebut.

COP ke-14 di Poznan, Polandia, yang berakhir pada 14 Desember 2008, jelas merupakan ajang pamer kepengecutan negara-negara industri maju, serta ajang pamer mentalitas oportunistik negara-negara berkembang dengan pengecualian negara-negara pulau kecil yang sedang berkembang (Small Island Developing Countries, SIDs). SIDs tak kenal lelah mengecam absennya kepemimpinan negara-negara Annex I untuk menjamin keselamatan hidup warga negara-negara pulau-pulau kecil itu dengan merombak model pembangunan mereka agresif. Mereka pun tak segan mengecam negara-negara berkembang lain yang bermental oportunis seperti halnya septic tank, berunding demi insentif yang tak seberapa dibandingkan keselamatan kehidupan manusia di negara-negara yang rentan terhadap daya ursak perubahan iklim.

Dimana posisi Indonesia? Apakah ia masuk bersama rombongan penjaja septic tank, atau berani bersikap seperti halnya SIDs? Mohon maaf, dari perundingan satu ke perundingan lain Indonesia tak tergolong rombongan yang aktif dan agresif meski hanya sebagai septic tank. Ia lebih seperti septic tank yang pasrah dan nrimo. Apa pun yang mau dibuang, monggo silaken....

Selanjutnya.. Sphere: Related Content

Monday, December 15, 2008

Bursa Asuransi Keselamatan di Poznan

Awicaks

Poznan, bekas ibukota Polandia, sebuah kota klasik dengan ciri-ciri arsitektur Eropa yang khas, dipilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Konvensi Parapihak dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk Perubahan Iklim, atau terkenal dengan sebutan UNF3C. Sebuah konvensi yang paling diminati dan paling banyak menyedot perhatian beragam kalangan serta merangsang perdebatan panas. Tonggak kesepakatan monumental, Protokol Kyoto, bahkan dijadikan sebagai papan pengumuman oleh George W. Bush, tak lama ia dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat ke-43, untuk menunjukkan kepada warga planet sikap dan posisi politik Amerika Serikat yang egoistik, berdiri tegak menolak solidaritas global untuk menahan diri bersama-sama negara-negara industrialis maju mendorong pertumbuhan ekonomik berbasis model yang rakus tanah, rakus minyak, rakus buruh murah, rakus air, dan pada saat yang sama membuka ruang bagi negara-negara berkembang mengejar ketertinggalan dengan cara-cara yang lebih baik dari model yang selama ini menjadi berhala sejagad, pasar bebas.

UNF3C dengan Protokol Kyoto-nya pun dijadikan domain tempat bertemunya berbagai dinamika politik-ekonomi dunia, serta papan catur geopolitik strategis, mengingat persentuhannya dengan mata-rantai penting kompleks industri militer, sektor energi. Sepanjang dua minggu terakhir saya berada di ajang tersebut, dengan segala hiruk-pikuk bazaar tahunan, menjual beragam teknologi, pilihan-pilihan asuransi keselamatan menghadapi dampak perubahan iklim, dan bahkan tak segan menawarkan obat mujarab menyiasati perubahan iklim. Saya menggigil. Bukan hanya karena suhu udara Poznan yang memang sungguh-sungguh dingin, tetapi menggigil karena dinginnya manusia menggunakan potret kemiskinan dan penderitaan orang-orang, yang bolehjadi tak tahu menahu tentang perubahan iklim, sebagai ajang penghimpunan dan penggalangan dana dan konsolidasi kekuasaan demi pelanggengan hak-hak istimewa segelintir orang dari segelintir kelompok di muka planet. Di setiap sudut arena konvensi terlihat orang-orang duduk serius membicarakan peluang-peluang bisnis menggiurkan, sambil berjuang menangani dampak perubahan iklim. Tak jelas, mana yang tujuan mana yang bonus.

Para pemain catur selama proses perundingan dikelompokkan dengan basis yang aneh. Ada kelompok payung, kelompok lampiran satu, kelompok Uni Eropa, kelompok negara-negara yang belum maju, kelompok Afrika, kelompok pemerintahan dari 77 negara plus Cina, kelompok ekonomik transisi, kelompok negara-negara pulau kecil, dan kelompok negara-negara berkembang pulau kecil. Satu negara bisa masuk ke lebih dari satu kelompok. Bahkan saya sering bingung ketika pada rapat pleno seorang wakil delegasi pihak menyebutkan bahwa komitmen negaranya sejalan dengan komitmen kelompok(-kelompok) dimana negara itu menjadi bagian. Apa yang terjadi seandainya kelompok-kelompok tersebut tidak memiliki sikap yang sama? Sejauh yang saya pahami, memang belum pernah terjadi. Tetapi jika hal tersebut terjadi, tentu akan memperlambat dan menghambat proses-proses dialog dan negosiasi.

Sebuah jejaring organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia memandang perubahan iklim sebagai bukti tak-terbantahkan rudinnya model pembangunan global yang sepanjang lebih dari lima dekade didorong oleh negara-negara industri maju ke seluruh sudut muka bumi. Sebuah model pembangunan yang, seperti saya telah sebut di atas, rakus tanah, rakus minyak, rakus buruh murah, rakus air, rakus mineral, dan mempercayai efektifnya proses penetesan kemakmuran dari kelompok berhasil kepada kelompok kurang atau tidak berhasil. Saya kira, saya sepakat dengan pendapat tersebut. Perubahan iklim hanyalah gejala. Ibarat penyakit, ia adalah gejala dari sebuah penyakit khronik yang tak-tersembuhkan dan tak-terpulihkan. Tak heran jika arena-arena diskusi tentang jalan keluar diberi judul adaptasi dan mitigasi.

Kedua judul itu jelas-jelas menunjukkan suatu “kepasrahan”, atau kalau boleh disebut sebagai “keengganan berubah” kelompok-kelompok yang selama ini merupakan penerima manfaat terbesar model pembangunan global tersebut. Adaptasi secara harafiah bermakna, tindakan-tindakan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan. Sementara mitigasi secara harafiah bermakna, tindakan-tindakan untuk “mengurangi dampak” yang timbul akibat perubahan-perubahan yang terjadi. Maka tak heran arena konferensi sarat dengan anjungan-anjungan dengan tawaran menarik bahkan ada yang mampu membuat marah.

“Low Carbon Lifestyle – Low Economy – Nuclear is the Solution!”

“Make A Right Decision to Cope with Climate Change – We Give You the Best Image Resolution to Measure Carbon Loss of the Forest”

“The Best Carbon Accounting Method to Get Better Appraisal”

“Get Rid Off Poverty! The Mitigation Strategy”

Pesan-pesan itu membuat segerombolan kalangan muda dari berbagai organisasi dan jejaring organisasi muak, marah dan bahkan ada yang (ingin) menangis. Eli, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Vermont, Amerika Serikat, yang berasal dari Republik Demokratik Congo, dengan santun berkata pada salah satu seminar yang diselenggarakan oleh 350.org, “Semua orang bicara tentang target penurunan emisi 2020, target 2050, tetapi kami yang nanti menjadi pengambil keputusan sama sekali tidak dilibatkan. Mereka yang bicara target itu justru orang-orang yang sudah tua, yang mungkin sudah meninggal semua ketika tahun pemenuhan target itu tiba. Dan kami tidak bodoh. Kami tidak percaya dengan slogan dan iklan-iklan asuransi keselamatan menghadapi perubahan iklim yang tersebar di pelosok arena konferensi. Kami lebih percaya pada tindakan. Tindakan yang bertanggungjawab kita semua.”

“PBB bukan satu-satunya cara untuk memecahkan masalah perubahan iklim. Mestinya kita pun tak perlu berlelah-lelah terbang ke sini untuk mempengaruhi atau paling tidak menarik perhatian para diplomat dan politikus serta para juru runding di arena konferensi, karena mereka dibebani bagasi kepentingan sebelum berangkat ke sini. Misi mereka adalah untuk memenangkan kepentingan itu at any cost,” saya katakan itu kepada Eli dan kawan-kawannya dari jejaring 350.org ketika kami makan malam bersama di salah satu rumah makan di sudut Old Market Square. Tempat dimana para aktivis gerakan lingkungan, orang-orang dari berbagai organisasi dan jejaring organisasi melepas penat setelah seharian bergerak kesana kemari di arena konferensi.

Karolina Romanek, seorang aktivis muda dari Hungaria, sepakat. Ia melontarkan gagasan tentang gelombang aksi kalangan muda sejagad menekan para pengambil keputusan di negara masing-masing untuk melakukan tindakan nyata dan drastik. Dan aksi itu, menurutnya, sangat baik jika dilakukan serentak. “Dan itu tugas Anda untuk menyiapkan pilihan rute-rute jalan keluar,” ujar Karolina sambil menunjuk saya. Karolina menambahkan, bahwa tanggjung jawab historik orang-orang berusia di atas 30an sekarang untuk tidak semena-mena menentukan pilihan rute kehidupan sejagad lewat konferensi ini. “Berikan kami pilihan-pilihan berikut argumen-argumen yang mendorong kami mampu belajar dengan cepat, agar dapat segera terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan bersama generasi Anda.”

Konferensi tingkat tinggi ini akhirnya gagal mencapai keputusan solid. Sebuah rencana kerja disepakati, tetapi tidak ada keputusan penting, kecuali soal perubahan tanggal konferensi berikutnya di Copenhagen, Desember 2009. Beberapa kawan menyebut ini sebagai sebuah anti-klimaks. Tidak ada kepemimpinan yang muncul, kecuali para jawara dari gelombang tawuran kelompok untuk bertahan pada zona nyaman masing-masing. Tidak tampak ada yang mau memimpin dan siap menerima resiko perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. Konferensi ditutup pada pukul dua dinihari. Wajah penat para peserta konferensi tampak jelas. Ada yang terlihat kecewa, ada yang tampak puas dan saling bersalaman, tetapi tak sedikit yang terlihat kebingungan. Sayang saya tak sempat mengajak kelompok yang bingung dengan hasil konferensi karena penat luar biasa. Ketika melangkah meninggalkan arena konferensi, para petugas logistik terlihat sibuk membongkar anjungan-anjungan yang selama dua minggu memadati koridor yang menghubungkan ruang pertemuan satu dengan yang lain. Tak jelas apakah para agen asuransi keselamatan dari perubahan iklim itu berhasil menggaet pelanggan atau tidak. Sepanjang koridor hingga gerbang pintu keluar deretan truk berukuran besar serta truk kontainer antri di areal parkir arena konferensi.

Pagi sangat dingin. Papan temperatur di atap gedung konferensi menunjukkan minus dua derajat Celcius. Saya melangkah lunglai ke setopan trem dengan kecamuk di kepala, “Kapan orang berhenti percaya kepada para diplomat dan politikus serta para juru runding ini dan bergerak dan bertindak serentak memecahkan masalah tanpa perlu mempedulikan keberadaan Negara?”

Selanjutnya.. Sphere: Related Content